
" Anggaplah itu permintaan terakhirku," ucap Quenby tanpa memperdulikan bentakan suaminya.
" Oh ya aku lupa bilang jika seandainya aku sudah tiada tolong kubur aku dekat sebelah oma dan opa," sambung Quenby sambil berdiri dan berjalan meninggalkan suaminya.
Grep
" Maafkan aku yang sudah membentak dirimu dan aku mohon jangan katakan hal yang menakutkan itu, sungguh aku tidak sanggup kehilanganmu," ucap Fico sambil memeluk istrinya dari belakang.
" Sayang, aku juga tidak mengerti kenapa aku bicara seperti ini tapi aku merasa aku akan pergi jauh meninggalkanmu dan juga keluargaku." ucap Quenby
" Stop, jangan bicara seperti itu aku tidak suka. Sekarang kita tidur sudah malam," ucap Fico dengan nada tegas.
Fico melepaskan pelukannya kemudian menggendong Quenby ala bridal membuat Quenby memeluk leher Fico dengan ke dua tangannya dan berjalan ke arah ranjang. Fico meletakkan perlahan tubuh Quenby ke ranjang kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu balkon dan menutupnya dengan rapat agar angin malam tidak masuk ke dalam kamarnya. Fico membaringkan tubuhnya kemudian memeluk Quenby yang masih membuka matanya membuat Fico kembali membujuk istrinya untuk tidur.
" Tidurlah sudah malam," ucap Fico dengan nada lembut.
" Aku tidak bisa tidur, aku mau ke kamar kak Aleandro," ucap Quenby sambil melepaskan pelukan suaminya.
" Mau ngapain ke kamar kak Aleandro?' tanya Fico dengan nada bingung.
" Minta dinyanyikan pengantar tidur," jawab Quenby sambil duduk di ranjang bersiap untuk turun dari ranjang.
Grep
" Baiklah aku nyanyi tapi setelah itu tidur," jawab Fico akhirnya.
" Benarkah?" tanya Quenby sambil berbaring di ranjang dan menghadap suaminya sambil tersenyum bahagia.
Quenby menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya kemudian memeluk pinggang suaminya sedangkan Fico membalas pelukan istrinya sambil menyanyikan lagu untuk pertama kalinya selama hidupnya. Quenby memejamkan mata menikmati suara merdu Fico sedangkan Fico menepuk - nepuk punggung istrinya dengan pelan agar istrinya segera tidur.
" Besok kita tidak bisa seperti ini lagi," gumam Quenby tapi terdengar jelas di telinga Fico membuat Fico menghentikan lagunya.
Fico menundukkan kepalanya untuk melihat Quenby dan ternyata Quenby sudah tertidur dengan pulas karena terdengar suara dengkuran halus. Fico yang awalnya sangat mengantuk tiba - tiba menghilang entah kemana karena mengingat semua perkataan Quenby yang sangat mengusik hatinya.
' Kenapa aku merasa perkataan Quenby seperti akan pergi jauh? dan juga kenapa aku bermimpi bertemu dengan dua anak kecil laki - laki dan perempuan? Apakah ke dua anak itu anakku dengan Quenby? Apakah benar istriku hamil? Besok selesai meeting aku akan pulang dan mengajak istriku ke dokter kandungan untuk memastikan,' ucap Fico dalam hati.
'' Mungkin itu hanya perasaanku saja,'' sambung Fico dengan nada pelan agar tidak mengganggu tidur istrinya.
" Sayang, aku sangat mencintaimu dan maafkan aku yang tadi membentak dirimu karena jujur aku tidak suka mendengar istriku mengatakan itu," ucap Fico dengan nada masih pelan.
Fico memejamkan matanya dan tidak berapa lama dirinya tertidur dengan pulas nya, mereka tidur sambil berpelukan memberikan kehangatan masing - masing sedangkan di tempat yang berbeda seorang pria paruh baya menghubungi seseorang.
( " Lakukan tugasmu dengan baik," )
( " Baik tuan," )
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus secara sepihak kemudian pria paruh baya tersebut menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya sambil menatap ke arah jalan raya dari balik kaca jendela perusahaan.
" Besok adalah hari kematian istrimu agar kamu merasakan apa yang aku rasakan kehilangan orang yang aku sayangi," ucap pria tersebut sambil mencoret wajah seorang pria.