Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Daddy kenapa diam saja?


" Daddy kenapa diam saja? Hiks... Hiks... Maya masih hidup kan dad?" tanya Nathan sambil terisak dan berusaha untuk bangun namun lagi - lagi daddy Thomas menahan tubuh Nathan.


" Kak Nathan," panggil Maya yang tidak tega mendengar suaminya menangis.


Mommy Gloria dan daddy Thomas yang menghalangi pandangan Nathan dan Maya akhirnya menyingkir ke arah samping agar Nathan dan Maya bisa melihat kondisi masing - masing.


" Sayang, berarti aku tidak bermimpi kan?" tanya Nathan sambil berusaha bangun.


" Sayang jangan turun dari ranjang biar aku saja yang turun," ucap Maya.


Mommy Gloria yang melihat Maya hendak turun dari ranjang membantu Maya turun dari ranjang sambil menurunkan botol infus kemudian memapah tubuh Maya dan berjalan ke arah suaminya sedangkan Nathan yang ingin turun dari ranjang merasakan tubuhnya lemah membuat Nathan membatalkan dirinya untuk turun dari ranjang.


" Sayang, mana yang sakit?" tanya Maya sambil duduk perlahan di kursi samping ranjang.


" Sayang jangan kuatir istirahat sebentar aku sudah sembuh karena ada kamu," ucap Nathan sambil menggenggam tangan Maya.


" Aku memang apa hubungan aku dengan sembuh suamiku?" tanya Maya sambil menunjuk dirinya dengan nada bingung.


" Ada hubungannya yaitu kamu adalah obat mujarab ku karena ada kamu aku semangat untuk hidup," ucap Nathan sambil tersenyum.


" Ehem.... mommy dan daddy mau pergi ke kantin dulu," ucap mommy Gloria yang ingin memberikan ruang untuk putranya dan menantunya untuk mengobrol.


" Baik mom, dad dan terima kasih atas semuanya," ucap Maya dengan tulus.


" Tidak perlu mengucapkan terima kasih karena kalian berdua adalah anak kami jadi sudah sepantasnya orang tua memberikan yang terbaik dan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak - anaknya," ucap mommy Gloria sambil tersenyum.


Maya membalas senyuman mommy Gloria dalam hatinya sangat bersyukur mempunyai mertua dan ke enam iparnya sangat sayang pada dirinya berbeda dengan mantan suaminya, mertuanya dan ke dua adik iparnya yang tidak tahu di mana rimba nya karena Maya tidak tahu kalau mereka sudah meninggal.


Mommy Gloria dan daddy Thomas pergi meninggalkan mereka berdua agar mereka bebas untuk mengobrol terlebih mereka tahu di saat sakit seperti ini Nathan putra mereka pasti ingin bermesraan dengan istrinya.


" Sayang jangan menggombal," ucap Maya


" Siapa yang menggombal?" tanya Nathan


" Tadi suamiku bilang kalau aku adalah obat mujarab suamiku karena ada aku, suamiku semangat untuk hidup," ucap Maya mengulangi perkataan suaminya.


" Itu memang benar sayang karena bagiku yang terpenting kamu ada di sisiku itu sangat berarti untukku karena kamu adalah kekuatanku untuk bisa bertahan hidup," ucap Nathan dengan nada serius.


" Cintaku padamu tidak akan pernah pudar," ucap Nathan sambil tersenyum.


" Begitu pula denganku cintaku tidak akan pernah pudar untuk suamiku dan terima kasih sudah menjadi suami dan papi untuk anak - anak kita," ucap Maya sambil tersenyum.


" Aku juga terima kasih sudah menjadi istri dan mami untuk anak - anak kita," jawab Nathan.


" Sayang tidurlah di sebelahku aku sangat mengantuk," pinta Nathan.


" Baik sayang," jawab Maya.


Maya berusaha untuk bangun dengan perlahan karena perutnya masih terasa perih karena perutnya di jahit kembali, Maya meletakkan botol infus di samping botol infus milik Nathan kemudian membaringkan tubuhnya di samping suaminya.


" Aku sangat mencintaimu," bisik Nathan sambil memeluk istrinya dari arah samping.


" Aku juga sangat mencintaimu," bisik Maya juga sambil membalas pelukan suaminya.


Tidak membutuhkan lama Nathan tertidur dengan pulas begitu pula dengan Maya, mereka berdua tidur sambil berpelukan bersamaan pintu ruang perawatan di buka oleh seseorang.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


🌹


Terima kasih sudah mampir di ceritaku.


Sambil menunggu lanjutannya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :


Bosan dengan pertanyaan “Kapan nikah?” dan tuntutan keluarga perihal pasangan hidup lantaran usianya kian dewasa, Kanaya rela membayar seorang pria untuk dikenalkan sebagai kekasihnya di hari perkawinan sang adik tiri. Salahnya, Kanaya sebodoh itu dan tidak mengetahui terlebih dahulu siapa pria yang ia sewa. Terjebak permainan yang ia ciptakan sendiri, hancur dan justru terikat dalam hal yang sejak dahulu ia hindari.


“Lupakan, tidak akan terjadi apa-apa … toh kita cuma melakukannya sekali bukan?” Sorot tajam menatap getir pria tampan yang sudah duduk manis menantinya terbangun di tepi ranjang.


“Baiklah jika itu maumu, anggap saja ini adalah bagian dari pekerjaanku … tapi perlu kau ingat, jika sampai kau hamil bisa dipastikan itu anakku.” Senyum tipis itu terbit, seakan tak ada beban dan hal segenting ini bukan masalah.