Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Ruang ICU


Merekapun berjalan ke tempat di mana Quenby dan Fico mengikrarkan janji suci pernikahan begitu pula dengan Yohanes dan Aurora namun baru saja acara akan dimulai terdengar suara empat mobil ambulance memasuki gerbang mansion membuat ke tujuh anak - anak daddy Thomas dan mommy Gloria berdetak sangat kencang.


" Kak Aleandro." Panggil Maximus, Nathan dan Yohanes serempak.


" Kenapa bunyi sirene?" Tanya Quenby, dokter Kasandra dan Cantika bersamaan.


Serentak semua berjalan ke arah pintu utama dengan jantung berdetak dengan kencang bukan karena jatuh cinta tapi perasaan takut akan kehilangan hingga mereka melihat 6 polisi datang menemui mereka.


" Maaf tuan - tuan dan nyonya - nyonya telah mengganggu acara pernikahan." Ucap salah satu perwira polisi.


" Ada apa ya?' Tanya tuan Saverio penasaran.


" Maaf tadi kami menghubungi tuan - tuan dan nyonya - nyonya tapi ponselnya tidak di angkat." Ucap salah satu perwira polisi.


" Langsung pada intinya." Ucap tuan Saverio yang tidak suka basa basi.


" Kami ingin memberitahukan mobil atas nama tuan Thomas Alexander dengan nomer polisi x xxxx xx  masuk ke dalam jurang." Ucap perwira polisi.


" Apa???" Teriak mereka serempak dengan wajah pucat pasi.


" Bagaimana keadaan mommy dan daddyku?" Tanya Aleandro dengan tubuh langsung terasa lemas tapi di tahan oleh Aska.


" Maaf semua yang berada di dalam mobil tidak dapat diselamatkan semuanya meninggal di tempat dengan tubuh hangus terbakar." Ucap perwira polisi.


Bruk


Bruk


Bruk


Quenby, dokter Kasandra dan Cantika serentak langsung tidak sadarkan diri untunglah Fico menahan tubuh calon istrinya yang bernama Quenby, Aska menahan tubuh istrinya yang bernama dokter Kasandra sedangkan Robert menahan tubuh istrinya yang bernama Cantika. Mereka langsung membawanya ke ruang khusus tempat dokter dan di tangani oleh dokter Melani dan dokter Hendrik sahabat mommy Gloria dan daddy Thomas.


" Sekarang ada di mana mereka?" Tanya tuan Saverio dirinya berusaha tegar namun dalam hatinya sangat terpukul.


" Berada di dalam mobil ambulance dan kami meminta anggota keluarganya untuk melihatnya." Jawab perwira polisi.


" Baik kami akan melihatnya." Jawab mereka serempak.


Merekapun berjalan keluar dari pintu utama menuju ke tempat mobil ambulance, mereka melihat satu persatu jasad yang sudah hangus terbakar melalui dalam peti mati yang terbuka hingga Aleandro dan Maximus melihat jam tangan couple milik Daddy Thomas sedangkan Nathan dan Yohanes melihat jam tangan couple milik mommy Gloria membuat mereka memeluk peti mati tersebut dan menjerit memanggil ke dua orang tuanya secara bersamaan.


" Daddy!!!!!" Teriak Aleandro dan Maximus bersamaan dengan air mata keluar, mereka tidak memperdulikan orang menganggapnya cengeng seperti anak kecil.


" Mommy!!!!" Teriak Nathan dan Yohanes  bersamaan dengan air mata keluar, mereka tidak memperdulikan orang menganggapnya cengeng seperti anak kecil.


Cantika membelai punggung suaminya dengan air mata tidak berhenti keluar begitu pula dengan Claudia membelai punggung suaminya dengan air mata tidak berhenti keluar.


" Cantika... Hiks... Hiks... daddy... Hiks... Hiks... Mommy.... Hiks... Hiks..." Ucap Aleandro sambil terisak dan memeluk Cantika istrinya dan Cantika membalas pelukan suaminya.


" Claudia... Hiks.... Hiks... daddy dan mommy... Hiks.. Hiks..." Ucap Maximus sambil terisak dan memeluk Cantika istrinya dan Cantika membalas pelukan suaminya.


" Sayang yang kuat ya." Ucap Maya dengan air mata tidak berhenti keluar.


" Mommy dan daddy kenapa meninggalkan kami semua?...Hiks.... Hiks..." Ucap Nathan sambil terisak.


Maya hanya bisa membelai punggung suaminya, dirinya juga sangat terpukul begitu pula dengan para menantunya sedangkan tuan Saverio hanya diam dengan tatapan kosong karena dirinya sangat terpukul kehilangan orang sebaik daddy Thomas dan mommy Gloria.


" Daddy... Hiks... Hiks... Mommy... Hiks... Hiks... Kenapa di saat kak Quenby dan Yohanes menikah mommy dan daddy meninggalkan kami?" Tanya Yohanes sambil terisak.


" Pak bawa mereka ke dalam." Perintah tuan Saverio.


" Baik tuan." Jawab perwira polisi.


Empat perawat yang masing - masing berjaga di empat mobil ambulance yang sejak tadi berdiri menarik peti mati dan membawanya ke dalam dengan diikuti oleh tuan Saverio, Aleandro, Maximus, Yonathan dan Yohanes. Empat peti mati yang isinya terdapat masing - masing jenasah di letakkan secara perlahan kemudian dengan serempak ke empat pria tampan langsung berlutut di depan peti tersebut sambil menangis dan memeluk peti mati tersebut.


" Aku melihat ada empat jenasah dua di antaranya adalah besanku dan dua lagi sepertinya jenasah orang tua Thomas tapi dua jenasah lagi yaitu jenasah dua bodyguard kenapa tidak ada?" Tanya tuan Saverio.


" Maaf tuan sudah kami serahkan ke keluarganya." Jawab perwira polisi.


Tuan Saverio hanya menganggukkan kepalanya kemudian ke 6 polisi dan enam belas perawat pergi meninggalkan mansion daddy Thomas.


" Daddy !!!! .... Mommy !!!!...." Teriak histeris Quenby, dokter Kasandra dan Cantika serempak sambil berlari ke arah ke empat peti tersebut dengan diikuti oleh suami mereka masing - masing.


" Mommy... Daddy...  Quenby mau menikah hiks... hiks... Tapi kenapa mommy dan daddy memberikan hadiah yang sangat menyakitkan? Lebih baik Quenby tidak menikah seumur hidup dari pada harus kehilangan mommy dan daddy." Ucap Quenby sambil terisak.


" Quenby... Maafkan kakak." Ucap Fico merasa sangat menyesal sambil memeluk Quenby dari arah belakang.


" Kak Fico minta maaf memang kak Fico ada salah?" Tanya Quenby sambil menggengam tangan Fico.


" Jika saja seandainya kita tidak menikah mungkin daddy dan mommy masih hidup." Jawab Fico.


" Kakak tidak bersalah karena..." Ucapan Quenby terhenti karena kepalanya kembali pusing.


Bruk


Quenby yang sangat dekat dengan ke dua orang tuanya merasa tidak sanggup menerima kenyataan yang sangat mendadak membuat Quenby kembali ambruk dan Fico yang melihatnya langsung menggendongnya dan kembali di bawa ke ruangan khusus mirip rumah sakit.


" Mommy dan daddy, sungguh aku sangat tidak percaya hiks... hiks... daddy dan mommy meninggalkan kami secepat ini padahal sebelum berangkat kita sempat mengobrol dan tertawa bersama." Ucap dokter Kasandra sambil terisak.


" Mommy !!!!!.... Daddy!!!" Teriak dokter Kasandra menghilangkan rasa sesak di hatinya.


" Sayang, yang sabar ya." Ucap Aska sambil membelai punggung istrinya dengan lembut.


Grep


" Sayang hiks... hiks.. mommy.. daddy... Hiks... Hiks... " Ucap dokter Kasandra sambil terisak dan memeluk suaminya, Aska pun membalas pelukan istrinya.


Karena tidak kuat menerima kenyataan yang tiba - tiba membuat dokter Kasandra kembali tidak sadarkan diri, Aska yang merasa tubuhnya terasa sudah mulai berat membuat Aska mendorong perlahan tubuh istrinya. Aska yang melihat dokter Kasandra pingsan kembali menggendongnya dan membawanya kembali ke ruang khusus yang di buat oleh daddy Thomas untuk istri yang dicintainya melahirkan ke tujuh anak mereka dan kini di pakai untuk keluarga besarnya.


Di tempat yang berbeda sepasang suami istri berada di ruang icu dengan di kawal ketat oleh orang berseragam hitam - hitam dan tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam ruangan icu kecuali dokter.


" Apakah sudah sadar?" Tanya wanita cantik tersebut.