Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Kamera CCTV


" Rumah yang ada kamera cctv diperuntukkan bagi orang - orang yang mempunyai posisi penting termasuk anak kalian selain itu tidak ada kamera cctv," jawab Nathan.


" Tetap saja mengganggu privasi kami jika kami melakukan hubungan suami istri," ucap Paijo berusaha menutupi kebusukannya.


" Kami melakukan ini semua karena kalian tahu kalau perusahaan kami sangat besar dan tentu saja banyak musuh yang ingin menyabotase perusahaan kami dengan mendekati karyawan dan karyawati yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi dan tentu saja untuk mengantisipasi hal itu kami memasang kamera cctv," jawab Nathan.


" Kami tidak pernah melihat rekaman cctv kecuali jika ada masalah di kemudian hari dan contohnya seperti hari ini," sambung Yohanes.


" Apa perlu kami perlihatkan secara jelas wajah dan tubuh polos tuan Paijo dan putri tirinya yang sedang melakukan hubungan suami istri?" tanya Nathan sambil tersenyum devil.


" Jangan!!!" teriak Paijo dengan nada panik dan wajah pucat ketakutan.


" Kenapa? Bukankah tadi kalian mengatakan rekaman itu rekayasa? kebetulan kami masih ada rekaman video cctv di mana tuan Paijo melakukan itu kembali ketika istrinya sedang tidur dengan pulas akibat mabuk - mabuk kan pada malam hari karena pulang dari klub malam menghabiskan uang putri kandungnya," ucap Nathan sambil tersenyum menyeringai.


" Dasar orang tua ngga ada akhlak putri kandungnya kerja keras tapi ibu kandungnya menghabiskan uang putrinya," celetuk salah satu wanita yang berada di sebelahnya.


" Iya, kasihan anaknya sangat menderita karena jadi sapi perahan orang tua yang tidak tahu diri," sambung sebelahnya.


" Sama aku juga kasihan sudah di dunia menderita eh ma tinya juga menderita masuk ke jurang," ucap sebelahnya.


" Mungkin sudah jalannya kalau tidak begitu putrinya jadi mangsa ayah tirinya dan sapi perahan ibu kandungnya, amit - amit deh punya orang tua seperti mereka," sambung yang lainnya.


Segala hinaan dan cacian saling bersahutan membuat sepasang suami istri malu dan pergi meninggalkan tempat tersebut membuat orang bergemuruh menyoraki sepasang suami istri tersebut.


Juminten dan Paijo menatap tajam satu persatu ke arah daddy Thomas dan para pria yang berada di ruangan tersebut namun paling lama yang di tatap adalah Nathan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


" Sekali lagi kami keluarga besar Thomas Alexander turut berduka cita sebesar - besarnya atas meninggalnya salah satu anggota keluarga kalian," ucap daddy Thomas.


" Maaf tuan, seharusnya kami yang meminta maaf karena ternyata anak kami lah yang bersalah," ucap salah satu wanita.


" Kami juga minta maaf tuan," jawab mereka serempak.


" Kami tidak menyangka putra kami bisa sejahat itu, aku sebagai ibu kandungnya merasa sangat malu melahirkan anak yang tidak punya perasaan sama wanita hamil," ucap salah satu wanita dan tidak terasa air matanya keluar karena dirinya sangat malu mempunyai anak yang jahat dan tidak berperasaan.


" Aku sering bilang ke putraku, kerja yang baik - baik jangan bikin masalah karena perusahaan tempat anakku kerja lebih besar dari perusahaan ini," sambung ibu di sebelahnya.


" Sama aku juga, padahal kerja di sini ekonomi keluarga kami semakin membaik sayang putraku tersesat karena berpacaran dengan wanita yang kerja di sini, aku berulang kali menentang hubungan mereka tapi putraku tidak memperdulikannya dan akhirnya putra kami pergi dari rumah kami dan tinggal serumah dengan kekasihnya," sambung wanita itu dengan wajah sendu.


" Apakah ibu tahu siapa nama wanita itu?" tanya Nathan.


" Bela," jawab wanita itu


" Karena yang aku dengar kalau Bela adalah wanita panggilan," jawab wanita itu.


" Manager, apakah mengenal Bela dan anak wanita ini?" tanya Nathan sambil menatap ke arah manager HRD.


" Kenal tuan, nona Bela adalah anak dari pasangan nyonya Juminten dan Paijo," jawab manager HRD.


" Orang yang sama barusan keluar?" tanya daddy Thomas


" Benar tuan," jawab manager HRD.


" Huh.... pantas saja sifat Bela sama seperti ibunya," gerutu wanita itu yang penuh kebencian pada Juminten.


" Bela pantas ma ti dari pada merusak orang lain, biarlah putraku yang rusak yang penting putra yang lain ikut rusak gara - gara Bela," sambung wanita itu.


" Iya benar," jawab mereka serempak.


" Mohon perhatiannya sebentar," ucap daddy Thomas ketika terdengar orang saling berbicara seperti tempat pasar.


Ruangan yang tadi ramai seperti pasar mendadak sepi seperti kuburan dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh daddy Thomas.


" Dari perusahan memberikan uang duka cita sebesar lima puluh juta masing - masing untu anggota keluarga yang ditinggalkannya, uang ini bisa digunakan untuk usaha," ucap daddy Thomas.


" Terima kasih tuan," jawab mereka serempak.


" Kalau begitu silahkan menemui manager hrd untuk meminta uang duka cita," ucap daddy Thomas.


" Sekali lagi terima kasih tuan," jawab mereka serempak lagi.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


🌹


Terima kasih sudah mampir di ceritaku.


Oh iya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :