Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Maya pingsan


Nathan mengomel tidak jelas dan tidak berapa lama ponselnya berdering dan melihat istrinya menghubungi dirinya sebenarnya Nathan kesal dengan Maya karena mematikan sambungan komunikasi tapi karena rasa cintanya lebih besar dari rasa kesalnya Nathan menggeser tombol berwarna hijau.


" Kenapa tadi kita mengobrol langsung terputus?" tanya Nathan agak kecewa.


" Sayang, aku ada di lobby katanya tidak boleh menemui suamiku katanya ke empat resepsionis tidak percaya kalau aku adalah istrimu," adu Maya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


" Apa??? Baik aku akan ke bawah," ucap Nathan sambil berdiri dari kursi kebesarannya dan menahan amarahnya.


Tut                        Tut                   Tut


Sambungan komunikasi langsung terputus secara sepihak oleh Nathan kemudian Nathan mengambil jasnya yang tadi diletakkan di kursi kebesarannya kemudian melangkahkan kakinya dengan langkah cepat.


xxxxxxxxxxxx Flash Back On xxxxxxxxxxxx


Sepeninggal Nathan pergi ke mall untuk menemui rekan bisnisnya Maya berjalan ke arah kamarnya menuju ke arah balkon untuk menikmati udara pagi.


" Kok aku kangen sama Nathan padahal tadi kan sudah ketemu? Anak - anak mommy kangen sama daddy ya? sama sayang mommy juga kangen sama daddy," ucap Maya sambil membelai perutnya yang sudah mulai sedikit buncit.


" Apa aku ke kantor suamiku saja sekalian memberikan kejutan? Apalagi aku tidak pernah datang ke kantor suamiku." ucap Maya sambil berfikir.


" Baiklah aku akan datang ke perusahaan suamiku, apa lagi aku bisa tahu jika suamiku main sama wanita lain," ucap Maya.


Mungkin karena bawaan janinnya membuat Maya merasa lebih sensitif dan ketakutan jika suaminya berpaling dengan wanita lain. Maya membalikkan badannya dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya setelah lima belas menit kemudian Maya sudah rapi.


Maya keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga bersamaan dirinya bertemu dengan ke dua mertuanya yang juga menuruni anak tangga.


" Mau kemana sayang?" tanya mommy Gloria.


" Mau ke perusahaan Nathan mom," jawab Maya.


" Pasti kangen," goda mommy Gloria.


" Hehehe.. iya mom, padahal tadi kami sudah bertemu," ucap Maya sambil tersenyum malu.


" Mungkin anak - anaknya kangen sama daddynya," ucap mommy Gloria sambil membelai perut Maya yang sudah mulai membuncit.


" Sepertinya begitu mom," jawab Maya.


" Di antar sama siapa May?" tanya daddy Thomas ketika mereka tidak mengobrol lagi.


" Sama sopir saja dad," jawab Maya.


" Bawa dua bodyguard," ucap daddy Thomas.


" Kebanyakan dad," jawab Maya.


" Satu bodyguard yang merangkap sebagai sopir dan satu bodyguard lagi yang duduk di sebelah sopir," ucap daddy Thomas.


Tapi dad..." ucapan Maya terpotong oleh daddy Thomas.


" Daddy tidak terima penolakan, daddy lakukan ini karena daddy tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan juga ke lima cucu daddy dan mommy," ucap daddy Thomas dengan nada tegas.


" Baik dad," jawab Maya pasrah.


Sambil mengobrol mereka berjalan menuruni anak tangga hingga tidak terasa sudah sampai di lantai satu, Maya mencium punggung tangan mommy Gloria kemudian berlanjut mencium punggung tangan daddy Thomas.


Setelah selesai Maya berjalan ke arah pintu utama dan seorang kepala pelayan membuka pintu utamanya dan melihat mobil sudah terparkir dengan rapi dan salah satu bodyguard membuka pintu mobilnya.


Singkat cerita Maya sudah sampai di lobby perusahaan milik suaminya bertepatan suaminya menghubungi dirinya. Maya menggeser tombol berwarna hijau kemudian mengobrol sebentar dengan suaminya kemudian memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.


" Terima kasih pak, tinggal saja nanti aku pulang bareng sama suamiku," ucap Maya dengan nada lembut sambil turun dari mobil ketika salah satu bodyguard membuka pintu mobil untuk dirinya.


" Baik nyonya muda." jawab bodyguard tersebut sambil menutup pintu mobil.


Maya berjalan dengan santai menuju ke arah resepsionis yang berjumlah empat orang dan Maya tersenyum kemudian menyapa mereka.


" Selamat pagi," ucap Maya


" Saya ingin menemui tuan Nathan," jawab Maya dengan bahasa formalnya.


" Maaf nona, apakah nona sudah ada janji temu dengan tuan Nathan?" tanya resepsionis dengan nada masih sopan.


" Belum," jawab Maya singkat.


" Maaf nona, nona tidak diijinkan bertemu dengan tuan Nathan karena belum ada janji temu," jawab resepsionis dengan nada masih sopan.


" Apakah istrinya juga harus bikin janji untuk bertemu?" tanya Maya sambil tersenyum


" Nona istrinya?" tanya resepsionis tidak percaya.


" Iya aku istrinya, memangnya kenapa?" tanya Maya sambil menahan amarahnya.


" Pftttttt.... Hahahaha...." Tawa lepas ke empat resepsionis dengan serempak.


Semua penghuni lantai satu ikut menertawakan Maya membuat Maya kesal dengan mereka, Maya membalikkan badannya namun salah satu resepsionis memanggilnya.


" Tunggu nona, silahkan nona menunggu di lobby nanti saya akan saya sampaikan kalau istri khayalannya sedang mencarinya," ucap resepsionis dengan nada mengejek.


" Terima kasih," jawab Maya tanpa membalikkan badannya.


Maya berjalan ke arah sofa di mana sofa ternyata penuh dengan orang - orang yang sedang mengobrol dan entah kenapa tiba - tiba kepalanya terasa pusing membuat Maya mendekati mereka.


" Maaf bisakah berdiri? kepala saya pusing," mohon Maya.


" Cihhhhh, enak saja saya di suruh berdiri," ucap salah satu pegawai baru Nathan.


" Tahu nih ganggu saja," jawab temannya.


Semua orang tidak ada satupun yang mau memberikan duduk untuk Maya membuat Maya menghubungi suaminya yang bernama Nathan untuk melaporkan tentang ke 4 resepsionis yang tidak mengijinkannya bertemu dengan Nathan.


Nathan yang memutus sambungan komunikasi secara sepihak membuat Maya bertambah kesal di tambah dengan kejadian yang dialaminya sekarang ini. Tiba - tiba Maya melihat sekeliling ruangan berputar - putar hingga dirinya mendengar suara yang sangat familiar memanggil dirinya.


" Kak Maya," panggil Yohanes


Yohanes yang baru saja masuk dari lobby karena tadi dirinya bertemu dengan kliennya dan tidak sengaja melihat Maya sedang berdiri sambil memijat kepalanya membuat Yohanes memanggil sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.


Yohanes, kepala kakak pusing," ucap Maya sambil mencari tangan Yohanes karena pandangnya mulai mengabur.


Bruk


Grep


Selesai berbicara tubuh Maya ambruk dan untunglah Yohanes dengan sigap memeluk Maya sebelum Maya terjatuh ke lantai bersamaan kedatangan Nathan.


" Maya, Yohanes!!!" Teriak Nathan dengan tatapan menggelap.


Nathan sangat marah ketika melihat Yohanes berpelukan dengan Maya membuat Nathan melangkahkan ke dua kakinya dengan cepat menuju ke arah Yohanes.


" Kakak, kak Maya pingsan," ucap Yohanes memberitahukan kakak kembarnya sebelum terjadi salah paham.


" Apa???" Tanya Nathan dengan wajah panik.


Apa yang dikatakan Yohanes ternyata benar adanya membuat Nathan menggendong Maya ala bridal style sedangkan Yohanes menatap ke arah anak buahnya dengan tatapan membunuh membuat semua anak buahnya menunduk ketakutan dan menyesali perbuatannya.


" Kalian yang ada di lantai satu tunggu di ruang meeting!!" Perintah Yohanes.


" Termasuk kalian berempat yang berkerja di resepsionis," ucap Nathan dengan tatapan membunuh ke arah ke 4 resepsionis yang masih menunduk ketakutan.


" Baik tuan," jawab mereka serempak dengan tubuh gemetar menahan rasa takut teramat sangat.


" Yohanes hubungi Kasandra untuk datang ke sini," perintah Nathan sambil berjalan ke arah pintu lift.


" Baik kak," Jawab Yohanes patuh.