Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Apa kita keluar saja kak?


" Iya benar pria itu Kevin karena itulah dia tahu kalau tuan Romero Fico Saverio berkhianat dan Kevin melakukan rencana yang lain." Ucap Leo menjelaskan.


" Sekarang di mana pria itu?" Tanya daddy Thomas menahan amarahnya.


" Dia..." Ucapan Leo terpotong karena ponsel milik daddy Thomas berdering.


" Sebentar." Ucap daddy Thomas sambil mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.


" Yohanes." Ucap daddy Thomas sambil  menggeser tombol berwarna hijau.


" Ada apa?" Tanya daddy Thomas tanpa basa basi.


" Daddy, kami ada diruangan kak Nathan tadi Robert menemukan suntikan yang belum digunakan karena obatnya masih utuh." Ucap Yohanes.


" Hendrik, tolong cek ada kandungan obat apa yang di dalam suntikan yang tadi disuntikan ke botol infus milik Maya." Ucap daddy Thomas.


" Bilang ke Yohanes untuk di kirim ke lab aku akan ke sana sekarang." Ucap dokter Hendrik


" Yohanes pergilah ke lab biar paman Hendrik yang mengeceknya." Ucap daddy Thomas.


" Baik dad." Jawab Yohanes.


Tut                            Tut                              Tut


Sambungan komunikasi langsung terputus dan daddy Thomas menyimpan ponselnya ke saku jasnya sedangkan Leo menghubungi kakaknya yang bernama Louis sambungan pertama langsung tersambung sedangkan dokter Hendrik langsung berdiri dan keluar dari ruangan tersebut menuju ke lab.


" Ada apa Leo?" Tanya Louis tanpa basa basi


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Cerita tentang kehidupan Alex, Louis dan Leo dapat di baca di novelku Perjalanan Cinta Psychophath.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


" Aku kirim foto Kevin, aku minta tolong kakak cari di mana Kevin berada terakhir Kevin berada di jalan xxxx." Ucap Leo.


" Sebentar.. Sayang, aku mau terima telepon dulu dari adikku Leo." Ucap Louis.


" Ok." Jawab istrinya singkat.


Leo berjalan ke luar dari kamarnya menuju ke kamar sebelahnya yang kedap suara karena dirinya tidak ingin istrinya mendengarnya karena yang ada istrinya tidak akan setuju.


" Hidup atau mati?" Tanya Louis dengan nada dingin.


" Paman, mau hiduo atau mati?" Tanya Leo


" Mati saja." Ucap daddy Thomas


" Kakak sudah dengarkan?" Tanya Leo


"Ok." Jawab Louis singkat.


Tut                  Tut                    Tut.


Sambungan komunikasi langsung terputus dan Leo langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya kemudian kembali mengutak atik laptopnya.


" Hanya Louis saja yang pergi?" Tanya daddy Thomas penasaran.


" Tidak, paling mengajak anak-anak dan ponakan-ponakannya." Ucap Leo


" Keluarga besar Alvonso kompak semua ya." Ucap daddy Thomas.


" Keluarga paman juga kompak." Ucap Leo


" Iya makanya bersyukur anak-anak paman kompak dan saling tolong." Ucap daddy Thomas.


" Paman lihat ini." Ucap Alvonso sambil memberikan laptopnya.


Daddy Thomas dan Markus melihat rekaman cctv di mana mobil yang ditumpangi Aleandro terpaksa berhenti karena mobilnya di hadang oleh 3 mobil, depan, belakang dan dari arah samping hal itu membuat jantung daddy Thomas berdetak kencang.


" Aleandro dan Maximus dalam bahaya." Ucap daddy Thomas sambil mengeluarkan ponselnya di saku jasnya untuk menghubungi menantunya yang bernama Robert.


" Sudah sampai mana?" Tanya daddy Thomas tanpa basa basi.


" Masih di jalan dad." Ucap Robert.


" Aleandro dan Maximus dalam bahaya kamu lebih cepat." Perintah daddy Thomas.


" Baik dad." Jawab Robert.


Tut           Tut              Tut


Sambungan komunikasi langsung terputus kemudian daddy Thomas meletakkan ponselnya di atas meja sedangkan Alvonso mengambil ponselnya dan menghubungi daddy Alvonso sambungan komunikasi langsung di angkat oleh daddy Alvonso.


" Daddy." Panggil Avonso


" Ada apa?" Tanya daddy Alvonso


" Daddy yang berada di mansion khusus para pria dan para cucu daddy datang ke xxxxx dengan menggunakan motor sport." Ucap Alvonso


Tut                Tut               Tut


" Aish daddy mah kebiasaan." Ucap Alvonso dengan nada kesal.


" Makanya kak Alvonso jangan suka usilin daddy." Ucap Alvian.


" Sudah jangan ngomongin daddy nanti telinga kalian di jewer." Ucap Leo


" Memang daddy kalian bisa tahu kalau diomongi?" Tanya daddy Thomas


" Tahu paman, daddy bisa tahu kalau anak -anaknya ngomongin daddy." Ucap Leo


" Hebat tapi kadang bikin gemes." Ucap Alvonso


" Gemes kenapa?" Tanya daddy Thomas


" Usilnya minta ampun." Ucap Alvonso sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai berbicara ponselnya langsung berdering kemudian Alvonso memperlihatkan ponselnya ke daddy Thomas.


" Lihat paman, daddy telepon pasti ngomel." Ucap Alvonso.


" Coba di loud speaker." Ucap daddy Thomas.


" Baik paman." Jawab Alvonso sambil menekan ponselnya warna hijau dan langsung loud speaker.


" Alvonso, Alvian dan Leo, kalian bertiga di suruh membantu paman Thomas bukan untuk ngomongin daddy. Apa kalian ingin daddy jewer?" Tanya daddy Thomas


" Daddy tahu pasti kamu loud speaker ponselnya." Sambung daddy Alvonso.


" Hehehhe..." Tawa ke tiga pria tersebut terkekeh - kekeh.


" Awas kalian akan daddy jewer." Ancam daddy Alvonso.


" Ais daddy tega sekali." Ucap ke tiga pria itu serempak.


" Biarin." Jawab daddy Alvonso


" Alvonso, daddymu sudah memerintahkan ke semua cucunya untuk datang ke sana dengan menggunakan motor sport sebentar lagi datang." Ucap mommy Laras.


" Baik mom." Jawab Alvonso.


" Mommy deh senang banget mengganggu kesenangan daddy." Ucap daddy Alvonso dengan wajah di tekuk.


Cup


" Daddy mereka sedang serius jangan iseng." Ucap mommy Laras dengan nada lembut kemudian mengecup bibir istrinya.


" Iya.. Iya.. Mommy karena semua pada pergi bagaimana kalau kita melakukan itu tombak sakti milik daddy sudah tegang nih ingin masuk ke sarangnya." Ucap daddy Alvonso sambil tersenyum mesum tanpa menyadari ponselnya masih tersambung dan di dengar oleh mereka.


" Semalam kan sudah dad." Ucap mommy Laras.


" Kalau hari inikan belum." Jawab daddy Alvonso.


" Baiklah." Jawab mommy Laras pasrah


" Terima kasih sayang." Jawab daddy Alvonso


Tut                  Tut                    Tut


Alvonso langsung mematikan ponselnya sepihak karena dirinya sudah tahu selanjutnya sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya.


" Daddy kalian ya." Ucap daddy Thomas.


" Begitulah paman." Jawab ke tiganya serempak.


" Kalian sudah mengerti kalau daddy kalian seperti itu?" Tanya daddy Thomas.


" Iya paman." Jawab ke tiganya serempak.


Merekapun terdiam kembali sambil mengutak atik laptopnya kecuali Alvonso karena daddy Thomas dan Markus melihat laptop miliknya.


xxxxxx Rekaman CCTV xxxxxxx


" Bagaimana ini kak?" Tanya Maximus ketika melihat 3 mobil menghadang mobil mereka dan keluar sebanyak dua puluh empat orang belum lagi baru saja datang 6 motor yang terdiri dari dua belas orang total tiga puluh enam orang.


" Mobil ini tahan benturan dan peluru kita berdiam di dalam mobil sambil menunggu kedatangan bantuan." Ucap Alendro.


dor                     dor                    dor                        dor


Brak                   Brak                  Brak                      Brak


Suara tembakan dan pukulan saling bersahutan dengan menggunakan pukulan balok ke arah mobil tapi mobil itu kuat akan tembakan dan pukulan sesuai apa yang dikatakan Aleandro.


" Maaf tuan, apa kami yang keluar saja tuan?" Tanya sopir yang merangkap sebagai bodyguard.


" Maaf tuan, benar kata teman saya biar kami saja yang keluar dari mobil." Ucap bodyguard yang duduk di samping mobil.


" Tidak lebih kalian berdua di dalam mobil nanti kalau bantuan datang baru kita keluar." ucap Aleandro.


" Baik tuan." Jawab ke dua bodyguard dengan serempak.


" Kalian tidak akan mungkin selamat, jadi cepat bebaskan kami." Ucap perawat sambil tersenyum menyeringai.


" JIka kamu bersuara lagi maka aku tidak segan - segan menembakmu." Ancam Maximus.


" Cih, sudah mau ma*i saja masih mengancam." Ucap perawat itu.


dor


" Akhhhhh..." Teriak perawat itu ketika dadanya di tembak oleh Maximus.


" Dasar gi*a." Umpat perawat itu.


" Sekali lagi bersuara aku tidak segan - segan menembakmu." Ancam Maximus sambil tersenyum menyeringai.


" Mereka memukul dan menembak tanpa henti lama - lama mobil ini rusak dan kaca mobil bisa pecah." Ucap Maximus.


" Iya benar, kaca mobil juga sudah mulai retak karena dipukuli oleh mereka." Ucap Aleandro.


" Apa kita keluar saja kak?" Tanya Maximus