
" Kata Quenby, Aleandro dan Maximus suka mengoleksi berbagai jenis senjata," ucap Dennisa.
" Bagus kalau begitu Dennisa kamu di sini untuk melihat perkembangan para musuh dan yang lainnya ayo kita keluar semua dari ruangan ini dan berkumpul di ruang keluarga sekalian panggil semua penghuni mansion," ucap daddy Alvonso.
" Baik dad," Jawab mereka serempak.
Mereka pun keluar dari ruang kerja milik daddy Thomas sebagian memanggil penghuni mansion baik keluarga Alvonso yang tersisa, keluarga daddy Thomas yang hanya tersisa para wanita saja dan juga para bodyguard serta para pelayan sedangkan sebagian duduk di sofa ruang keluarga sambil menunggu mereka datang.
Tidak berapa lama semua sudah berkumpul di ruang keluarga ada yang duduk dan ada yang berdiri karena sofanya sudah terisi semua.
" Quenby kata Dennisa kalau ke dua kakak kembar mu Aleandro dan Maximus suka mengoleksi berbagai jenis senjata," ucap mommy Laras mengulangi perkataan Dennisa.
" Benar tante," jawab Quenby.
" Apakah kamu tahu tempat penyimpanan senjata?" tanya mommy Laras.
" Tahu tante." Jawab Quenby.
" Antar kan kami ke sana." Perintah daddy Alvonso giliran berbicara.
" Tapi kalau kak Aleandro dan kak Maximus marah bagaimana paman?" tanya Quenby dengan nada kuatir.
Quenby tidak tahu kalau mansion milik orang tuanya akan di serang begitu pula dengan saudara kembarnya dan saudara iparnya.
" Tenang saja paman yang akan bertanggung jawab," jawab daddy Alvonso.
" Baik paman." Jawab Quenby.
Quenby berdiri dan berjalan ke ruangan khusus penyimpanan koleksi berbagai jenis senjata dengan diikuti oleh daddy Alvonso, mommy Laras, Dennis dan Arlan.
Ceklek
ctak
Quenby mengambil kunci dari dalam saku celana pendeknya kemudian memasukkan ke dalam lubang kunci, Quenby membuka pintu ruangan tersebut dan menyalakan saklar lampu dan ruangan yang gelap gulita menjadi terang benderang.
Merekapun masuk ke dalam ruangan tersebut dengan mata berbinar daddy Alvonso, Dennis dan Arlan karena melihat berbagai jenis senjata maklum mereka sejak lama tidak memegang pistol atas perintah mommy Laras.
" Arlan dan Dennis, pilih senjata kalian," ucap daddy Alvonso mengingat tidak ada waktu lagi untuk bersantai.
" Baik dad." Jawab Dennis.
" Tapi paman..." Ucapan Quenby terpotong oleh daddy Alvonso.
" Tenang saja Quenby, ke dua kakak kembar mu tidak akan mungkin marah karena sebentar lagi kita akan di serang kalau kita semua tidak pegang senjata yang ada kita semua mati," ucap daddy Alvonso dengan nada serius.
" Apa??? " pekik Quenby dengan nada terkejut.
" Apa yang dikatakan paman benar sebentar lagi musuh akan datang kira - kita total semuanya delapan puluh orang," ucap mommy Laras.
" Tante tidak bercanda kan?" Tanya Quenby dengan nada tidak percaya.
" Kita sudah tidak ada waktu lagi, mommy pilih salah satu pistol dan kamu Quenby apakah kamu bisa menggunakan pistol?" tanya daddy Alvonso yang tidak bisa menunda lebih lama lagi sambil mengambil dua buah pistol dan di selipkan di saku jasnya.
" Baik dad," jawab mommy Laras.
" Bisa paman." jawab Quenby sambil mengambil dua buah pistol dan di selipkan satu di saku celananya dan satunya lagi Quenby pegang.
" Bagus, untuk Arlan dan Dennis kalian bisa menembak jarak jauh jadi kalian berjaga di lantai empat dan untuk mommy tolong panggil masing - masing 5 orang untuk mengambil senjata." Perintah daddy Alvonso.
" Ok." Jawab ke tiganya dengan serempak kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
" Quenby, bagaimana lukamu?" tanya daddy Alvonso.
" Sudah mendingan paman." Jawab Quenby.
" Kamu bisa menembak jarak jauh apa jarak dekat?" Tanya daddy Alvonso.
" Jarak jauh dan jarak dekat bisa paman,"Jawab Quenby
" Bagus, kalau begitu kamu pergi berjaga di lantai empat bersama Arlan dan Dennis. Nanti Arlan atau Dennis yang mengatur posisi kalian bertiga." Ucap daddy Alvonso.
" Baik paman," Jawab Quenby sambil berjalan meninggalkan daddy Alvonso bersamaan kedatangan anak dan menantu daddy Thomas dengan mommy Gloria yaitu Cantika istri Aleandro, Claudia istri Maximus, Maya istri Nathan, Aurora istri Yohanes dan Cantika istri Robert.
" Di antara kalian siapa yang bisa menggunakan pistol?" tanya daddy Alvonso tanpa basa basi.
" Aku bisa paman." Jawab Cantika istri Aleandro.
" Aku juga bisa paman." Jawab mereka serempak.
" Paman hanya bisa memberitahukan kalian semua kalau saat ini musuh dalam perjalanan menuju ke arah sini dan mereka kira - kira datang sekitar delapan puluh orang jadi paman minta maaf sama Maya kalau paman membutuhkan tenaga mu untuk melawan para musuh." Ucap daddy Alvonso merasa tidak enak dengan Maya karena Maya sedang hamil tapi mau bagaimana lagi musuh sangat banyak.
" Tidak apa - apa paman, Maya mengerti." Ucap Maya
" Terima kasih atas pengertiannya dan sekarang paman tanya lagi sekali lagi siapa yang bisa menembak jarak jauh dan siapa yang bisa menembak jarak dekat? atau bisa dua - duanya? Yang bisa dua - duanya berdiri di sebelah paman, yang bisa jarak jauh berdiri di sebelah kiri sedangkan yang bisa menembak jarak dekat berdiri berhadapan dengan paman" Pinta daddy Alvonso.
Cantika istri Aleandro, Claudia istri Maximus dan Maya istri Nathan berdiri di sebelah kanan sedangkan Aurora istri Yohanes dan Cantika istri Robert berdiri di sebelah kiri.
" Untuk Cantika istri Aleandro, Claudia dan Maya pilih senjata kalian setelah selesai naik ke lantai 4 di sana sudah ada Dennis, Arlan dan Quenby sedangkan untuk Aurora dan Cantika istri Robert pilih juga senjata kalian kemudian pergi ke ruang rahasia di lantai satu dan bertemu mommy Laras." Ucap daddy Alvonso.
" Baik paman." Ucap mereka serempak kemudian memilih senjata setelah selesai mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke tempat yang diperintahkan oleh daddy Alvonso.
Setelah kepergian mereka datang 5 orang dan seperti apa yang dikatakan sebelumnya ke 5 orang tersebut memilih senjata dan berjaga sesuai perintah daddy Alvonso.
Setelah hampir tiga puluh lima menit akhirnya selesai, daddy Alvonso menatap masih ada sebagian senjata milik Aleandro dan Maximus membuat daddy Alvonso berniat untuk mengambil semuanya.
" Bawa pakai apa ya?" Tanya daddy Alvonso sambil menatap ke arah sekeliling hingga dirinya melihat ada tas ukuran agak besar di sudut lemari.
Daddy Alvonso mengambil tas tersebut kemudian memasukkan beberapa pistol dan senjata tajam setelah selesai daddy Alvonso pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke lantai 4 di mana lantai 4 adalah mansion yang paling tinggi dan bisa melihat dengan mudah para musuhnya sekaligus bisa bersembunyi.