
"Aku tidak akan mengatakannya lebih baik kalian bu nuhlah aku," ucap pria tersebut dengan air mata tidak berhenti keluar karena sakit luar biasa seperti di tusuk ribuan jarum.
"Aku bisa menambahkan dua kali rasa sakit jika kamu tidak mengatakannya," ancam Katarina sambil menatap ke sekeliling ruangan.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhh..."teriak dua pria tersebut tiba - tiba.
Bruk
Bruk
Daddy Nathan dan Maximus yang menatap ke arah atas melihat dua pria berpakaian seragam hitam - hitam mengarahkan pistol ke arah temannya karena takut membocorkan informasi tapi sebelum ke dua pria tersebut menarik pelatuknya daddy Nathan dan Maximus menembak terlebih dahulu hingga pria tersebut berteriak kesakitan dan langsung ambruk seketika karena tepat mengenai di keningnya.
"Kamu dengar suara teriakan kematian? Itu adalah suara ke dua temanmu yang ingin menembakmu tapi saudaraku sudah menembak duluan jadi katakan siapa yang menyuruhmu kalau tidak aku akan tambahkan penderitaanmu yang lebih menyakitkan," ancam Fico sambil mengeluarkan pisau lipatnya.
"Baik, aku akan katakan tapi kurangi rasa sakit yang sangat menyiksa ini," pinta pria tersebut akhirnya karena dirinya tidak sanggup menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Katarina, apakah kamu ada obat penawarnya?" tanya Fico
"Ada sebentar," jawab Katarina sambil mengeluarkan satu botol obat yang di ambil dari dalam tasnya.
"Minumlah obat ini rasa sakit akan berkurang," ucap Katarina
Tanpa menjawab pria itu langsung menerimanya dan meminumnya dengan cepat setelah beberapa detik rasa sakit mulai berangsur ringan membuat pria itu tersenyum menyeringai dan tanpa disadari kalau Fico dan Katarina tahu arti dari senyuman itu.
"Kurang aj*r kamu berani menipuku?" pekik Fico.
"Kamu ingin mengambil pistol dari balik belakang pinggang mu jangan mimpi karena enam detik lagi tubuhmu lemah seperti bayi," ucap Katarina dengan nada santai.
Bruk
Ketika pria tersebut sudah meminum obat dari Katarina, pria tersebut berusaha bangun karena posisinya sedang berlutut menahan rasa sakit namun di hitungan ke 5 pria tersebut sudah berdiri dan tangan kanannya meraba pinggang belakangnya untuk mengambil pistol.
Sesuai apa yang barusan dikatakan Katarina di hitungan ke enam ketika pria tersebut berhasil memegang pistolnya bersamaan tubuhnya langsung ambruk seperti tidak bertulang.
"Dalam satu menit tubuhmu akan terasa terbakar namun kamu tidak akan bisa menggerakkan tubuhmu, siksaan ini lebih parah dari racun yang pertama," ucap Katarina sambil masih menatap ke sekeliling ruangan.
"Dasar wanita iblis," umpat pria tersebut.
"Aku sebenarnya ingin memberikan obat penawarnya tapi aku tahu kamu pasti akan menyerang kami karena itu aku sengaja memberikan obat racun di mana obat itu menyembuhkan dengan cepat namun setelah itu obat itu langsung membuat orang itu tersiksa. Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu melakukan penyerangan ini?' tanya Katarina.
"Aku tidak akan mengatakannya," jawab pria tersebut.
"Terserah cepat atau lambat semua musuh akan kami tumpas semua karena kami adalah tiga keluarga besar opa Alvonso, opa Thomas dan opa Paulinus jadi sia - sia saja kalian menyerang tiga keluarga besar kami," ucap Katarina.
"Belum lagi dukungan para sahabat opa Alvonso," sambung Fico.
Tiba - tiba pria tersebut merasakan tubuhnya seperti terbakar dan berusaha menggerakkan tubuhnya namun dirinya tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tubuhnya terasa kaku membuat pria itu hanya bisa berteriak kesakitan.
"Panassssss... Panasssssssss..." teriak pria tersebut.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya Fico.
"Mafia Golden Rose," ucap pria tersebut.
"Mafia Golden Rose?" tanya ulang Katarina dengan wajah sangat terkejut.