
Ke tiga pria itu mengeluarkan masing - masing pisau dari balik saku jasnya dan berjalan masing - masing ke arah Nathan, Quenby dan Maya. Mereka saling memandang kemudian menganggukkan kepalanya dan mengarahkan pisau ke arah mereka bertiga yang sedang tertidur dengan pulas.
Brak
" Siapa kalian????" Teriak Fico
Fico mendobrak pintu dengan kasar dan masuk ke dalam dengan diikuti oleh tuan Saverio hal itu membuat Nathan, Maya, Quenby memaksakan membuka matanya dan matanya langsung membulat sempurna melihat ada pria sedang mengarahkan pisaunya ke arah mereka.
Fico yang melihat Quenby dalam bahaya terlebih Quenby sedang terluka langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menahan pisau tersebut begitu pula dengan tuan Saverio menahan pisau tersebut yang diarahkan ke Maya.
Tes Tes Tes
Tes Tes Tes
Darah segar menetes dari tangan tuan Romero dan Fico tapi tidak dipedulikan ke duanya langsung mengarahkan ke perut mereka.
jleb
" Akhhhh..." Teriak pria pertama
Jleb
" Akhhhh..." Teriak pria ke dua.
duag
" Akhhhh..." Teriak pria ke tiga.
Tuan Saverio dan Fico berhasil mengarahkan ke perut mereka berdua sedangkan Nathan menendang perut pria yang ke tiga membuat ke tiga pria itu berteriak kesakitan
" Siapa kalian???" Tanya Aleandro tiba - tiba datang bersama Maximus dan Yohanes.
xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx
Aleandro dan Maximus pergi ke kantin untuk membeli pesanan Quenby susu coklat hangat karena mereka berdua lapar mereka pun makan di kantin sedangkan Yohanes yang di suruh kakak kembarnya yang bernama Quenby untuk menyusul orang tuanya namun orang tuanya ternyata tidak ditemukan membuat Yohanes menghubungi daddy Thomas dan mengatakan kalau mereka berdua sudah pulang ke mansion. Karena lapar Yohanes ke kantin dan bertemu dengan ke dua saudara kembarnya.
" Lho kok kamu ke sini? Quenby dalam bahaya karena bersama dua orang psychophat." Ucap Aleandro yang belum percaya sepenuhnya dengan tuan Saverio dan Fico.
" Benar kata kak Aleandro lebih baik kita kembali saja." Ucap Maximus yang mengkuatirkan adik kembarnya.
" Kan ada kak Nathan yang memperhatikan, apalagi dari pengamatan ku kak Fico dan paman Saverio tidak mungkin menyakiti kak Quenby." Ucap Yohanes dengan nada yakin.
" Bagaimana kamu begitu yakin kalau mereka berdua tidak mungkin menyakiti Quenby?" Tanya Aleandro.
" Dari kak Alvonso, kak Alvonso meretas kehidupan pribadi paman Saverio dan kak Fico." Ucap Yohanes.
" Bagaimana masa lalu mereka berdua?" Tanya Aleandro yang mulai tertarik.
" Keluarga paman Saverio dan istri paman Saverio sama - sama ingin menguasai harta paman Saverio dengan cara ingin membunuh paman Saverio dan Fico karena itulah mereka berdua membunuh keluarga paman Saverio dan istri paman Saverio yang juga ibunya Fico. Selain istrinya paman Saverio ingin menguasai hartanya dia juga selingkuh dengan cinta pertamanya. Itulah kenapa mereka berdua menjadi seperti itu dan biasanya siapa saja yang menyakiti perasaannya maka mereka tidak akan mengampuninya dan langsung di bunuh. Apakah kak Aleandro dan kak Maximus tidak melihat ketika kita semua memojokkan mereka berdua tapi mereka berdua sedang menahan amarahnya?" Tanya Yohanes.
" Aku memperhatikan mereka berdua menggenggam ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya." Ucap Aleandro.
" Iya benar aku juga melihatnya." Ucap Maximus.
" Kak Fico juga memberitahukan ke kita kalau Kevin masih hidup kalau memang kak Fico tidak berubah tidak mungkin kak Fico mengatakannya pada kita dan bisa saja kak Fico membunuh kak Nathan pada waktu itu." Ucap Yohanes.
" Apa yang dikatakan Yohanes benar adanya." Ucap Aleandro yang mulai berubah pikiran.
" Sudahlah aku sangat lapar kita makan dulu setelah itu kita kembali ke ruang perawatan." Ucap Maximus.
" Benar kata kak Maximus, kita makan dulu." Ucap Yohanes.
Ke tiga pria tampan itupun memesan makanan setelah beberapa saat menunggu makanan itupun datang hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.
Aleandro membayar makanannya dan juga makanan punya ke dua adiknya kemudian berjalan ke arah ruang perawatan tanpa memperdulikan tatapan lapar para wanita yang melihatnya.
xxxxxx Flash Back Off xxxxxx
Aleandro, Maximus, Nathan dan Yohanes masing - masing memukul ke tiga pria itu hingga babak belur membuat Maya menarik tangan suaminya.
" Sayang, cukup mereka sudah tidak berdaya." Mohon Maya.
" Kak Aleandro, kak Maximus, Nathan dan Yohanes sudah cukup kasihan mereka." Mohon Quenby.
" Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Aleandro sambil menahan amarahnya.
Hening
Hening
" Kita bawa saja ke markas." Ucap Robert yang tiba - tiba datang bersama Aska.
" Baik, aku akan menemani kalian." Ucap Aleandro.
" Aku ikut." Jawab Maximus dan Yohanes serempak
" Nathan tidak ada yang menemani." Ucap Aleandro.
" Ada kak Fico dan paman Saverio yang menjaga kami." Ucap Quenby.
" Paman Saverio dan Fico aku percayakan kalian berdua untuk menjaga adik - adikku." Ucap Aleandro sambil menepuk bahu Fico.
" Paman Saverio dan Fico, ke dua tangan kalian terluka dan sebentar lagi dokter datang rawatlah luka kalian berdua." Ucap Maximus.
" Terima kasih telah menyelamatkan kak Nathan, kak Maya dan kak Quenby." Sambung Yohanes
Paman Saverio dan Fico hanya menganggukkan kepalanya dalam hati paman Saverio dan Fico sangat senang karena mereka semua percaya padanya dan paman Saverio dan Fico tidak ingin menyalahgunakan kepercayaan mereka.
Yohanes, Robert dan Aska membawa ke tiga pria itu yang sudah tidak berdaya keluar dari ruang perawatan dengan diikuti oleh Aleandro dan Maximus.
" Robert dan Aska, kok tumben datang ke sini? Bukannya tadi pulang ke mansion?" Tanya Aleandro penasaran
" Memang benar, waktu aku, kak Aska dan daddy sedang mengobrol di ruang kerja tiba - tiba ponsel milik daddy berdering dan yang menghubungi kak Max." Ucap Robert.
" Max?" Tanya Aleandro mengulangi perkataan Robert.
" Menantunya paman Alvonso," Ucap Robert.
" Kenapa dia menghubungi daddy?" Tanya Aleandro penasaran.
" Kak Max mengatakan istrinya Kevin sangat marah karena suaminya meninggal karena itulah menyuruh pembunuh bayaran datang untuk membunuh kak Quenby, kak Nathan dan kak Maya tapi berhasil digagalkan oleh paman Saverio dan Fico." Ucap Robert.
" Kevin lagi... Kevin lagi... Orangnya sudah mati masih saja mengusik Nathan dan Maya." Ucap Aleandro sambil menahan amarahnya.
" Apakah sudah tertangkap istrinya Kevin?" Tanya Maximus.
" Kak Max dan kak Louis lagi melacaknya." Ucap Aska
" Semoga istrinya Kevin segera tertangkap." Ucap Aleandro.
" Semoga saja." Ucap mereka serempak.
" Masuk." Perintah Aleandro sambil membuka pintu
Ke tiga pria itu sambil meringis masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi paling belakang sedangkan Aska duduk di kursi pengemudi dan di sampingnya Robert. Aleandro, Maximus dan Yohanes duduk di tengah - tengah mereka.
Aska mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke markas mereka dan tanpa sepengetahuan mereka sebuah mobil yang berwarna hitam mengikuti mereka.