Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Bertemu Sahabat Perjuangan


"Aku juga ingin kak,"ucap Seli.


"Sayang bungkuk kan setengah badanmu dan rentangkan ke dua tanganmu ke arah tembok," bisik Presdir Albert.


" Buat apa kak?" tanya Seli


" Nanti kamu akan tahu,"bisik bisik Presdir Albert kembali.


Seli membungkukkan setengah badannya dan mengarahkan ke dua tangannya ke arah tembok kemudian bisik Presdir Albert menuntun tombak saktinya ke arah goa milik istrinya namun ketika baru masuk kepalanya Seli berteriak kesakitan dan berdiri dengan tegak.


"Sakit,"ucap Seli sambil membalikkan badannya dan menatap suaminya dengan sendu.


" Kita coba lagi di kamar," ucap Presdir Albert


" Tapi aku ingin kita melakukan di kamar mandi," pinta Seli.


" Lakukan yang seperti tadi nanti kakak akan pelan - pelan," ucap Presdir Albert.


Seli hanya menganggukkan kepalanya kemudian Seli membalikkan badannya dan melakukan seperti yang tadi kemudian Presdir Albert melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Setelah di rasa cukup Presdir Albert mulai memasukkan tombak saktinya ke dalam goa yang sangat sempit bersamaan Seli berteriak kesakitan.


Hal itu membuat Presdir Albert melakukan pemanasan kembali setelah rasa sakit teralihkan Presdir Albert mulai menggoyangkan tubuhnya berulang - ulang hingga setengah jam kemudian tombak saktinya mengeluarkan laharnya setelah beberapa saat Presdir Albert menarik tombak saktinya.


Cup


"Terima kasih sayang," ucap Presdir Albert kemudian mengecup pucuk kepala istrinya.


"Sama - sama kak, kita mandi yuk setelah itu kita tidur badanku lelah kak," ucap Seli sambil menyandarkan tubuhnya ke dada bidang suaminya.


"Ok,"jawab Presdir Albert singkat.


Presdir Albert menyalakan kran shower kemudian mulai memandikan Seli dan dirinya setelah itu mulai memberikan sabun untuk tubuhnya dan juga tubuh istrinya sedangkan Seli menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya hingga kran shower dinyalakan untuk membersihkan busa sabun yang menempel di tubuh mereka berdua.


Presdir Albert berjalan ke arah rak lemari yang berada di dalam kamar mandi untuk mengambil jubah handuk kemudian memakaikan ke istrinya dan mengikatnya dengan tali handuk setelah selesai Presdir Albert mengambil jubah handuk untuk dirinya.


Singkat cerita kini mereka berada di ranjang setelah Presdir Albert mengeringkan rambut Seli dan rambutnya sendiri, mereka tidur sambil berpelukan hingga satu jam kemudian Seli merasakan kembali panas pada tubuhnya.


"Sayang," panggil Presdir Albert ketika tubuhnya dinaiki oleh istrinya.


"Aku ingin lagi," ucap Seli.


" Kali ini biarkan aku yang pimpin," pinta Seli ketika Presdir Albert ingin membalikkan tubuhnya.


Presdir Albert menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya dan Presdir Albert merasakan kenikmatan luar biasa ketika istrinya melakukannya hingga lima menit kemudian Seli berteriak tanda telah mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.


"Gantian kak, aku lemas,"ucap Seli bersamaan tubuhnya ambruk menimpa tubuh suaminya.


Presdir Albert tersenyum kemudian membalikkan tubuhnya tanpa menarik tombak saktinya yang lumayan besar dan panjang.


Kini Presdir Albert berada di atas tubuh Seli kemudian memberikan pemanasan sambil menggoyangkan pinggulnya berulang - ulang membuat Seli merasakan nikmat luar biasa begitu pula dengan Presdir Albert karena pengaruh obat perang sang yang sangat kuat hingga setengah jam kemudian tombak sakti milik Presdir Albert mengeluarkan laharnya.


Mereka melakukan sebanyak empat kali setelah itu Presdir Albert dan Seli langsung tidur dengan pulas dengan posisi Seli berada di atas tubuh Presdir Albert sambil memeluknya begitu pula dengan Presdir Albert membalas pelukan istrinya tanpa melepaskan tombak saktinya yang masih berada di dalam tubuh Seli tanpa menggunakan selimut.


xxxxxxxxxx


Malam menjelang pagi Delon dan Lemos berada di ruang makan sedangkan ke dua orang tuanya dan saudara - saudaranya belum juga turun membuat ke dua pria tampan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Tumben mommy, daddy dan adik - adikku kenapa belum turun untuk sarapan ya?" tanya Delon.


" Iya kak tumben," jawab Lemos.


" Kita dari tadi sudah menunggu setengah jam lebih, apa kita sarapan dulu?" tanya Delon.


" Kita tunggu saja kak," jawab Lemos.


" Lebih baik kalian berdua makan saja, ke dua orang tua mu dan saudara - saudaramu bakalan lama," ucap seorang pria paruh baya bersama istrinya.


" Opa Kennath dan oma Maria," panggil Delon dan Lemos serempak sambil berdiri.


Delon dan Lemos mengecup punggung tangan dokter Kennath dan dokter Maria secara bergantian kemudian mereka berempat duduk saling berhadapan hanya di batasi oleh meja.


"Kok opa Kennath tahu kalau bakalan lama?" tanya Lemos penasaran.


"Kenapa oma dan opa kemarin tidak datang di acara pesta pernikahan ke dua adikku?" tanya Delon bersamaan.


"Apakah opa Alvonso datang di acara pernikahan ke dua adik kalian?" tanya seorang pria paruh baya bersama istrinya.


"Opa Ronald dan Oma Clarisa," panggil Delon dan Lemos serempak sambil berdiri.


Delon dan Lemos mengecup punggung tangan Ronald dan Clarisa secara bergantian sedangkan dokter Kennath berdiri dan bersalaman dengan Ronald ciri khas laki - laki berbeda dengan Clarisa dan dokter Maria cipika cipiki.


Selesai bersalaman mereka kembali duduk dan mengobrol bersama mengenang masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Bertemu sahabat perjuangan yang tidak akan mungkin bisa untuk dilupakan begitu saja karena mereka bersahabat dengan tulus dan saling membantu jika mereka membutuhkan pertolongan.


"Maaf opa Kennath dan opa Ronald kenapa tadi opa Ronald menanyakan apakah opa Alvonso datang di acara pernikahan ke dua adik kalian?" tanya ulang Delon.


"Oh iya opa sampai lupa maklum opa sudah tua," ucap Ronald sambil tersenyum.


"Bukannya dari dulu pelupa," ledek dokter Kennath.