Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Maya dan Nathan


" Seminggu kemudian kami menikah, dia mengatakan tidak bisa menyentuhku karena jika mempunyai anak membutuhkan biaya yang sangat besar. Jujur sebenarnya aku sangat kecewa tapi karena aku mencintainya akupun menyetujui permintaannya." Ucap Maya


" Ketika aku keluar kerja aku mendapatkan pesangon yang lumayan besar dan mantan suamiku menginginkan rumah yang agak besar dan akupun setuju. Kami mencari rumah hingga akhirnya kami menemukan sebuah rumah yang besar di pinggiran kota. Uang pesangon milikku di tambah menjual rumah miliknya baru bisa membayar setengah harga rumahnya dan kekurangannya kami menyicilnya." Sambung Maya.


Nathan hanya diam mendengarkan cerita Maya walau dalam hatinya ada rasa cemburu tapi berusaha untuk tidak diperlihatkan.


" Gaji mantan suamiku dua puluh juta cicilan sepuluh juta sisa sepuluh juta. Karena aku tidak berkerja membuatku berhemat agar ada biaya untuk hamil nanti dan biaya persalinan." Ucap Maya


" Tapi ketika kami pindah rumah keluarga mantan suamiku menumpang di rumahku. Awal kedatangan aku menyambut mereka dan tidak mempermasalahkannya tapi ketika sore aku memasak yang lumayan banyak dan karena badanku lengket aku tinggal mandi sebentar tapi semua makanan habis tanpa sisa. Akhirnya karena aku sangat lapar aku membuat mie instan tapi mereka semua minta dibuatkan ke dua mantan mertuaku, mantan suamiku dan ke dua adik iparku. Aku hanya diam dan membuatkan mie instan buat mereka, aku lagi-lagi harus menahan perasaan kesal karena setelah mereka makan langsung piring-piring dan gelas-gelas kotor di tinggal di meja makan." Sambung Maya


Maya menghembuskan nafasnya dengan perlahan sedangkan Nathan yang mendengar cerita Maya hanya bisa menggengam stir kemudi mobil dengan erat melampiaskan kemarahannya.


" Setiap hari mereka memperlakukan aku seperti pelayan dan uang yang aku simpan akhirnya terpakai untuk kebutuhan sehari-hari karena mereka sekeluarga tinggal bersama kami. Hingga ke dua mantan adik iparku meminta didaftarkan sekolah yang lumayan mahal, kalau gaji mantan suamiku besar tidak masalah tapi itu aja habis tanpa sisa hingga akhirnya aku membuat novel di salah satu aplikasi noveltoon dan menjual barang-barang online untuk membiayai hidup mereka dan biaya sekolah mereka berdua." Ucap Maya


" Hingga suatu ketika ke dua mantan mertuaku dan ke dua mantan adik iparku meminta untuk dibelikan motor, kepalaku rasanya ingin pecah bagaimana tidak aku harus memikirkan biaya kebutuhan sehari-hari di tambah biaya ongkos sekolah ke dua mantan adik iparku, biaya untuk rokok, uang untuk ke dua mantan mertuaku." Sambung Maya dan tidak berapa lama air matanya keluar.


Maya menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya hal itu membuat Nathan tidak bisa untuk diam.


" Kenapa kamu tidak bilang ke pria brengsek itu?" Tanya Nathan sambil menghentikan mobilnya dan memeluk Maya.


" Hiks... Hiks ... Aku sudah bilang padanya kalau gajinya tidak cukup tapi dia tidak perduli dan menyuruhku untuk meminta ke dua orang tuaku membuat perasaan sukaku semakin lama semakin memudar hingga suatu ketika mantan suamiku meminta haknya aku tidak mau dengan alasan jika mempunyai anak tidak akan mungkin bisa sanggup untuk membiayainya. Suamiku marah dan pergi dari rumah sedangkan aku tidak perduli karena perasaanku padanya perlahan mulai ma*i." Ucap Maya sambil membalas pelukan suaminya.


" Kenapa kamu tidak mengajukan berpisah?" Tanya Nathan sambil mendorong perlahan tubuh istrinya kemudian menghapus air mata Maya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


" Sebenarnya ada rasa ingin melakukan itu tapi aku berusaha untuk bertahan karena aku ingin menikah sekali seumur hidup hingga beberapa bulan kemudian datang seorang gadis cinta pertama mantan suamiku tanpa punya perasaan mereka semua mendukungnya bahkan mereka melakukan hubungan suami istri pada malam hari." Ucap Maya


" Aku yang tidak menahan emosiku aku melampiaskan ke mereka semua karena mereka menyalahkan aku karena sudah satu tahun menikah aku tidak hamil. Bagaimana aku bisa hamil sedangkan kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri tapi aku diam tidak bilang apa-apa begitu pula dengan mantan suamiku. Aku pergi ke kamarku mempacking semua barang-barangku dan menghubungi sahabatku untuk mendatangkan pengacara untuk mengurus perceraian kami. Besoknya datang pengacara dari mantan suamiku dan ternyata mantan suamiku menginginkan kami berpisah dan aku tanpa ragu untuk menandatangani surat perceraian itu bersamaan kedatangan pengacara." Sambung Maya.


Nathan yang mendengar itu hanya bisa memejamkan matanya untuk menahan amarahnya.


" Setelah selesai menandatangani surat perceraian aku menyerahkan semua sertifikat rumah, empat BPKB motor, buku tabungan ke calon istrinya." Ucap Maya


" Bukankah rumah itu seperempatnya ada uang dari pesangon milikmu dan juga empat BPKB motor bukannya itu seharusnya milikmu?" Tanya Nathan


" Memang benar tapi aku malas ribut dengan mereka jadi lebih baik serahkan ke mereka semua." Jawab Maya


" Tapi kan keenakan mereka." Ucap Nathan yang tidak rela karena Maya terlalu baik.


" Sayang, aku butuh ketenangan karena itulah dari pada meributkan harta lebih baik serahkan ke mereka. Harta bisa di cari tapi ketenangan hidup tidak akan bisa kalau kita merebutkan harta." Ucap Maya dengan kata bijaknya.


" Sungguh bodoh laki-laki itu wanita sebaik dirimu disia-siakan." Ucap Nathan sambil mengusap rambut Maya.


" Berjanjilah padaku untuk selalu setia padaku karena aku tidak ingin terluka lagi." Ucap Maya sambil menyentuh pipi suaminya.


" Aku laki-laki bodoh jika menyia-nyiakan istri sebaik dirimu." Ucap Nathan sambil menggenggam tangan istrinya.


" Terima kasih sayang." Jawab Maya sambil tersenyum bahagia


Nathan membalas senyuman Maya dan merekapun melanjutkan perjalanan kembali menuju ke mansion milik Nathan.


Dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di mansion mereka berdua turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu utama. Dua orang bodyguard membuka pintu utama tersebut dan mereka berdua masuk ke dalam.


" Tidak." Jawab Nathan singkat.


" Terus tinggal di mana?" Tanya Maya


" Apartemen, mansion ini terlalu besar dan sepi walau ada pelayan dan bodyguard tetap saja." Ucap Nathan


" Kenapa sekarang tinggal di sini?" Tanya Maya


pletak


" Aduh, kak Nathan kdrt." Ucap Maya sambil mengelus keningnya.


" Hehehehe maaf, apa itu kdrt?" Tanya Nathan yang tidak mengerti istilah itu sambil mengusap kening istrinya dan meniupnya.


" Kekerasan Dalam Rumah Tangga." Ucap Maya


" Itu bukan kdrt sayang tapi rasa gemas mempunyai istri secantik dirimu." Ucap Nathan gombal


" Sejak kapan suamiku pintar gombal?" Tanya Maya


" Sejak kenal denganmu." Ucap Nathan sambil memeluk istrinya dari arah samping.


" Sayang aku ingin lagi." Bisik Nathan


" Ingin apa?" Tanya Maya


" Melakukan itu seperti waktu di hotel." Bisik suaminya.


" Masih siang sayang." Ucap Maya


" Tapi adik kecilku dari tadi tegang dan ingin melakukan itu." Ucap Nathan sambil menggendong istrinya menuju ke arah kamarnya dengan menaiki anak tangga.


" Sayang." Pekik Maya sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher suaminya karena takut terjatuh


" Biar cepat sayang." Bisik Nathan


Maya hanya meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya hingga mereka sudah sampai di depan pintu kamar.


" Sayang tolong bukakan pintu kamar." Pinta Nathan


ceklek


Tanpa menjawab Maya membuka pintu kamarnya dan Nathan langsung mendorong pintu dengan menggunakan kakinya. Nathan masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Maya di ranjang dengan perlahan.


" Sayang dua ronde ya." Ucap Nathan sambil melepaskan satu persatu pakaiannya.


Maya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan merekapun melakukan kegiatan suami istri pada siang hari.