
" Baiklah, sekarang kalian pergilah," usir Nathan karena melihat botol infusnya masih setengah botol lagi.
" Baik tuan," jawab mereka serempak sambil masing - masing menahan amarahnya.
Dokter dan perawat tersebut meninggalkan ruang perawatan sambil mengumpat Maya yang tidak mempunyai salah sedikitpun namun belum ada dua menit pintu ruang perawatan terbuka tampak seorang gadis dengan memakai pakaian yang kekurangan bahan berjalan ke arah Nathan dan Maya sedangkan Nathan dan Maya yang melihat pintu ruang perawatan terbuka membuat mereka menatap ke arah pintu.
" Mila," panggil Maya.
Maya sangat terkejut karena tidak biasanya Mila menengok dirinya jika sedang di rawat di rumah sakit karena sejak dulu jika Maya sedang sakit maka Mila tidak pernah perduli dengan dirinya sedangkan Nathan melihat sekilas ke arah Mila di ujung pintu ruang perawatan sambil turun dari ranjang dan ingin mengambil bubur untuk menyuapi istrinya
Grep
" Kak Nathan hiks... hiks.. hiks.." isak Mila sambil memeluk Nathan dari arah belakang.
" Lepaskan pelukanmu!!" Bentak Nathan sambil meletakkan mangkok yang berisi bubur.
Nathan sangat tidak suka tubuhnya di peluk oleh wanita lain kecuali saudara - saudara kandungnya terutama istri yang sangat di cintainya.
" Kak Nathan hiks... hiks... orang tua ku sampai sekarang belum pulang aku telepon ponselnya tidak aktif," Ucap Mila tanpa memperdulikan bentakan Nathan.
Bruk
" Akhhhhhhhh," teriak Mila.
Mila dengan sengaja menempelkan dua gunung kembar himalaya ke punggung Nathan kemudian salah satu tangannya di arahkan ke bawah perut di mana tombak sakti milik Nathan sedang tertidur sedangkan Nathan yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Mila mendorong tubuh Mila dengan menggunakan satu tangannya membuat Mila langsung jatuh ke lantai.
Maya sama sekali tidak memarahi Nathan karena Maya mengerti kenapa Nathan melakukannya dan dalam hatinya sangat bersyukur Nathan tidak tergoda.
" Aku ini kakak ipar mu jadi hormati aku sebagai kakak!!!" perintah Nathan.
" Aku tahu kak Nathan adalah kakak ipar ku tapi apakah salah jika adik bersedih memeluk kakaknya?" tanya Mila
' Sial selama ini tidak ada satupun pria yang menolak pesona cantikku,' ucap Mila dalam hati.
" Jika itu kakak kandungmu itu tidak salah tapi aku adalah kakak ipar mu jaga perasaan istriku," perintah Nathan dengan nada tegas.
" Kak Maya, aku lagi sedih dan ingin memeluk seseorang dan saat ini aku ingin memeluk kak Nathan, boleh ya kak?" tanya Mila penuh harap.
" Apakah kamu tidak mendengar apa kata suamiku? Kak Nathan adalah suamiku jadi jika kamu ingin memeluk carilah pria yang belum beristri," jawab Maya yang tidak ingin Mila memeluk suaminya yang bernama Nathan.
" Kak Maya, kita kan bersaudara? Kenapa kak Maya jadi jahat?" tanya Mila sambil menatap tajam ke arah Maya.
" PERGI!!!!" bentak Nathan dengan suara menggelegar.
Mila dan Maya sangat kaget dengan suara bentakan Nathan untuk pertama kalinya sedangkan Nathan langsung tersadar ketika dirinya ingat di sampingnya ada istrinya yang sangat di cintai membuat Nathan memejamkan matanya untuk menghilangkan kemarahannya.
Mila yang sangat kaget langsung pergi meninggalkan mereka berdua sambil menahan amarahnya sedangkan Nathan membalikkan badannya menatap ke arah Maya dengan tatapan sendu karena melihat tubuh gemetar Maya.
" Sayang maaf, aku tidak bermaksud membentak mu tapi adik sepupumu itu sangat keterlaluan mengatakan kamu jahat karena siapapun yang menjelekan istriku aku tidak akan terima," ucap Nathan dengan tatapannya tidak pernah lepas dari tatapan Maya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
🌹
Terima kasih sudah mampir di ceritaku.
Sambil menunggu lanjutannya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :
JERAT DENDAM SANG MAFIA
Deva yang melihat lelehan bening di pelupuk mata Davina, langsung tersenyum smirk, dan semakin mendekatkan dirinya, pada wanita yang meringsut ke pojok pintu mobil.
“Apa yang akan kau lakukan! Cepat lepaskan aku! Aku tidak tahu apapun!” bentak Davin yang berusaha untuk berontak dan mendorong tubuh kekar milik Deva.
Plakk!
Deva menampar pipi mulus milik Davina dengan sangat kasar, hingga wanita itu meringis sambil memegangi pipi dan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Ahss! Desis Davina sambil menatap tajam ke arah Deva.
“Kau tidak pantas menatapku seperti itu. Sebaiknya layani aku secepatnya,” geram Deva pada Davina, yang berani menatap tajam ke arah dirinya.
Deva merobek pakaian atas milik Davina, membuat wanita ketakutan dan menyilangkan kedua tangannya, menutupi gunung himalaya yang hampir longsor di terjang topan.
“Hentikan! Aku mohon hentikan!” teriak Davina histeris, ia tidak ingin lebih hancur lagi saat pria yang ada di hadapannya menghancurkan hidupnya.
“Aku Deva, tidak akan pernah melepaskan mangsaku dengan mudah,” desis Deva sambil terus menjamah tubuh Davina.
Tanpa menunggu lama lagi, Deva akhirnya dapat menjelajahi gunung himalaya indah tersebut tanpa hambatan, meskipun terkadang banyak rintangan, tetapi Deva bisa menyingkirkannya dengan sangat mudah. Tak hanya gunung himalaya, tapi juga hutan belantara yang terdapat danau yang dalam, sedalam Palung Mariana.
Deva yang bergerak cepat, sudah bercucur keringat kepuasan. Dengan tersenyum penuh kemenangan ia layangkan pada seorang wanita yang berada dalam kungkunngannya.
Deva menatap Davina dengan tatapan mengejek. Wanita itu hanya meringis kesakitan. Tak ada nikmat yang Davina rasakan, karena Deva melakukannya dengan sangat kasar dan juga kekerasan. Davina tak lagi memikirkan hidupnya yang sudah hancur, oleh pria yang merupakan kakak dari temannya sendiri.
Davina hanya ingin hal ini cepat berlalu dan ingin segera menyelesaikannya. Davina sungguh muak melihat wajah Deva yang terlihat begitu menjijikan, bahkan pria itu sangat menikmati permainannya, sampai mengeluarkan suara yang membuat Davina benci pada tubuhnya sendiri.
“Kau sangat nikmat,” ucap Deva yang terus mengayunkan pinggulnya dengan cepat, sambil mengeluarkan suara yang terdengar sangat menjijikan di telinga Davina. Namun, mendengar hal itu, membuat Davina memalingkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Kini bukan hanya hati Davina yang hancur, tapi tubuhnya juga sudah ternodai oleh pria yang tak punya hati seperti Deva.
‘Aku bersumpah pada diriku sendiri, akan membalaskan rasa sakit ini padamu, Dev. Aku bersumpah tidak akan terjatuh lebih dalam pada pria iblis seperti dirimu, Deva,’ batin Davina sambil memejamkan matanya. Kini ia benar-benar merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, cara Deva yang kasar, membuat Davina merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Kau sangat sempit,” ucap Deva yang kini mulai mengayunkan pinggulnya secara perlahan. Dapat dilihat dari raut wajah Deva, yang sangat menikmati permainan itu.
"Sakit, tolong lepaskan aku. Aku mohon lepaskan,” ringis Davina sambil terisak saat Deva memulai dengan kasar kembali.
Plakk! Plakk!
Deva memukul balon raksasa yang di belakang hutang belantara itu dengan sangat keras, membuat Davina meringis sakit dan langsung diam karena ketakutan.
“Jika kau masih banyak bicara, aku tidak akan segan melakukannya dengan lebih kasar daripada ini,” ucap Deva memperingati tanpa menghentikan ayunannya.
Deva sudah sampai pada puncak titik kenikmatannya, dan mengeluarkan bisa ular cobra miliknya di dalam sana.
“Cih! ternyata kau masih gadis. Tapi bagus juga, karena aku tidak memakai bekas orang lain,” ucap Deva berdecih. Pria itu langsung memakai kembali pakaiannya, kecuali jaket hitam miliknya.
Davina bangkit duduk dan memakai kembali segitiga bermuda nya, tapi ia tidak bisa menutupi kacamata yang terpampang jelas di depan sana. Apalagi isi dari dalam kacamata itu hampir menyembul keluar karena besar dan sintal. Melihat hal itu saja, membuat Deva ingin kembali menyerang wanita itu.
Namun, Deva segera melemparkan jaket hitam yang ia pegang. Hari ini ia harus segera membereskan kekacauan yang telah ia lakukan, sebelum polisi mencium jejak dari perbuatannya pada keluarga Emery.
“Pakai jaket ini, karena aku tidak ingin melihat tubuhmu yang sangat menjijikan itu,” ucap Deva sambil melirik Davina dengan tatapan dinginnya. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya Davina segera memakai jaket milik Deva, untuk menutupi tubuhnya.
Tak berselang lama, Galen sang asisten datang dan memasuki mobil. Seolah pria itu tahu, bahwa permainan Deva sudah selesai.
“Apa kau sudah selesai dengan tugasmu?” tanya Deva dengan dingin. Rasanya suasana itu terasa mencekam.
“Sudah Bos, saya sudah membereskan semua mayat keluarga Emery dan para pembantunya,” jawab Galen tegas.
Mendengar hal itu, membuat Davina menggelengkan kepala seolah tak percaya, dengan apa yang ia dengan saat ini. Keluarga yang sangat ia sayangi telah tiada semuanya. Hingga lelehan bening mengalir deras tak bisa ia bendung. Menggeleng dan terisak, kini Davina mulai berontak sambil teriak histeris.
“Dev, apa yang kalian lakukan pada keluargaku! Apa! Cepat katakan padaku, di mana letak kesalahanku, hingga kau membunuh orang yang tak bersalah! Cepat katakan padaku!” teriak Davina histeris, sambil menggoyangkan tubuh Deva dengan kasar, bahkan wanita itu memukuli Deva secara membuta, meskipun hal itu tak berarti apa-apa bagi Deva.
Deva yang sudah tak tahan dengan sikap Davina, langsung mencekik wanita itu hinggan wajahnya memerah.
“Kau adalah wanita yang tidak tahu malu, bahkan kau mempertanyakan apa kesalahan mu. Baiklah, akan aku beritahu, apa kesalahan mu. Kau adalah penyebab kematian Erika, kau sudah mengambil kehidupanku. Sekarang, aku sudah membalaskan dendam ku, yaitu mengambil seluruh kehidupanmu,” ucap Deva menatap Davina dengan tatapan tajam, sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Davina yang mendengar hal itu sangat terkejut, sambil berusaha menggelengkan kepalanya tanda ia mengelak. Bahkan, ia juga merasa terkejut dengan kematian temannya, Erika. Apalagi wanita itu menyangkutkan dirinya sebagai penyebab rasa sakitnya.
Sungguh, Davina tidak tahu apapun tentang hal ini. Ingin ia mengelak semua ucapan Deva, tapi ia tidak bisa melakukannya. Tangan kekar milik Deva, yang melingkar di lehernya, semakin kencang dan membuat ia sulit untuk bernapas.
‘Erika, sekarang rasa sakit mu akan kakak bayarkan. Kakak akan melakukan apapun, untuk membalaskan semua derita yang selama ini kamu rasakan,’ batin Deva yang kembali merasakan sakit saat kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
Ya, Deva dan Erika adalah anak yatim piatu. Mereka terlahir dari keluarga miskin, hingga sampai saat kedua orang tuanya sakit karena tidak bisa berobat, membuat Deva semakin bertekad untuk mendapatkan uang dengan cara apapun.
Deva, berjanji akan menjaga dan melakukan apapun untuk adiknya, Erika. Bahkan ia sampai rela memasuki dunia bawah dan membangun organisasi mafia terkuat sindikat obat terlarang dan juga senjata ilegal.
****************
Terima kasih.