Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Hantu


Hening


Hening


Nathan menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian tertawa hambar tapi air matanya tidak berhenti keluar hingga membasahi wajah istrinya yang masih setia memejamkan matanya.


" Maya, apakah kamu mencintaiku? Jika memang kamu mencintaiku aku mohon bangunlah jika tidak berarti kamu tidak mencintaiku," ucap Nathan.


Hening


Hening


" Sayang, aku dan keluargaku akan pergi ke markas paman Alvonso untuk membuat perhitungan dengan orang yang telah menabrak mu dan juga Quenby terlebih membuatmu pergi dari kehidupanku," ucap Nathan sambil perlahan melepaskan tangan Maya.


" Aku sangat mencintaimu sekarang dan selamanya," bisik Nathan di telinga Maya.


cup


" Aku sangat berharap ada keajaiban." ucap Nathan kemudian mengecup bibir Maya yang sudah pucat.


Nathan menatap wajah istrinya kemudian membalikkan badannya meninggalkan Maya sendirian di ruang jenasah, setelah kepergian Nathan datang tiga perawat dan membawa jenasah Maya untuk di pindahkan ke tempat khusus pemandian jenasah.


Ketika jenasah Maya sudah diletakkan di tempat khusus pemandian jenasah dan salah satu perawat hendak membuka kancing Maya tiba - tiba tangan Maya bergerak sangat pelan dan lima menit kemudian perlahan Maya membuka matanya membuat tiga perawat ketakutan dan berlari meninggalkan Maya.


" Hantu!!!! Tolong!!!" teriak ke tiga perawat tersebut sambil berlari.


Mommy Gloria, Cantika istri Aleandro dan Claudia istri Maximus yang ingin melihat Maya dimandikan membuat Cantika istri Aleandro menahan salah satu tangan perawat.


" Ada apa?" tanya Cantika istri Aleandro.


" Maaf nyonya, nyonya Nathan jadi hantu," ucap perawat tersebut dengan tubuh ketakutan.


" Jangan bercanda!! Canda mu tidak lucu!!!" bentak Cantika untuk pertama kalinya karena dirinya tidak rela adik iparnya dikatakan hantu.


" Maaf nyonya saya tidak bercanda," ucap perawat tersebut.


" Lebih baik kita melihat ke sana," usul mommy Gloria.


" Baik mom," jawab Cantika akhirnya sambil melepaskan tangannya yang tadi menahan tangan perawat tersebut.


Mommy Gloria, Cantika istri Aleandro dan Claudia istri Maximus berjalan ke arah ruang jenasah dengan jantung berdebar - debar bukannya jatuh cinta atau takut melainkan mereka berharap Maya hidup kembali walau itu tidak mungkin.


Ceklek


Claudia membuka pintu dengan lebar kemudian mommy Gloria, Cantika istri Aleandro berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan diikuti oleh Claudia.  Mommy Gloria, Cantika istri Aleandro dan Claudia istri Maximus membulatkan matanya dengan sempurna melihat Maya sedang duduk menatap mereka bertiga.


" Mommy, kak Cantika, kak Claudia," panggil Maya kembali.


Grep


Grep


Grep


Mommy Gloria, Cantika istri Aleandro dan Claudia istri Maximus berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah Maya kemudian memeluknya dengan erat membuat Maya kesulitan bernafas.


" Aku tidak bisa nafas," ucap Maya.


" Maaf," jawab ketiganya dengan serempak.


" Mommy, kak Cantika dan kak Claudia kenapa Maya ada di sini?" tanya Maya sambil menatap sekeliling ruangan.


" Kata dokter kamu sudah meninggal tapi ternyata kamu masih hidup," ucap mommy Gloria.


" Kami sangat senang kamu masih hidup." sambung Cantika istri Aleandro.


" Kenapa dokter bisa salah? oh ya bagaimana dengan kak Quenby?" tanya Maya.


" Quenby mengalami koma," jawab Claudia.


" Mommy, kepalaku pusing dan badanku terasa lemas," ucap Maya sambil memegang perutnya yang terasa perih.


Maya yang memegang perutnya sudah rata membuat Maya menangis terisak membuat ke tiga wanita itu terkejut mendengar Maya menangis,


" Mommy, kak Cantika dan kak Claudia.... hiks... hiks... hiks.... anak - anakku...." ucap Maya menggantungkan kalimatnya sambil memejamkan matanya karena kepalanya terasa sangat pusing.


Bruk


Grep


" Maya!!! teriak mereka bertiga serempak.


Tubuh Maya ambruk namun langsung di peluk oleh Cantika agar kepalanya tidak terkena keramik dengan di bantu Claudia.


" Kita bawa ke ruang perawatan," ucap mommy Gloria.


" Baik mom," jawab ke dua wanita itu serempak.