
" Tapi aku tidak bisa nyanyi," jawab Fico sambil menyelimuti tubuh polos Quenby begitu pula dengan dirinya.
" Tapi aku ingin mendengar suamiku nyanyi," ucap Quenby dengan mata masih berkaca - kaca.
" Maaf sayang minta yang lainnya saja," tolak Fico.
Quenby melepaskan pelukannya kemudian membelakangi Fico hingga terdengar suara isak Quenby membuat Fico sangat terkejut dengan sikap Quenby.
Grep
" Sayang, kenapa menangis?" tanya Fico sambil memeluk Quenby.
Quenby melepaskan pelukan Fico kemudian selimut yang menutupi tubuh polosnya di buang ke arah samping suaminya hingga terlihat tubuh polosnya hal itu membuat Fico memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya dengan berat .
" Sayang, pakai selimut nanti kamu sakit," ucap Fico dengan nada lembut sambil menyelimuti tubuh polos istrinya.
" Biar saja kalau aku sakit," jawab Quenby dengan nada ketus sambil menepis selimutnya.
Fico kembaliĀ menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan amarahnya karena dirinya sudah berjanji untuk tidak menyakiti istri yang sangat dicintainya.
" Sayang mau apa?" tanya Fico dengan nada masih lembut.
" Selama kita menikah aku tidak pernah meminta sesuatu dan kini aku hanya ingin suamiku bernyanyi, apakah permintaanku sangat sulit?" tanya Quenby sambil membalikkan badannya menatap wajah tampan suaminya dengan sendu.
" Sudah malam, aku sangat mengantuk besok saja ya?" pinta Fico.
Fico yang sangat lelah memejamkan matanya sambil memeluk istrinya dan tidak berapa lama Fico tertidur dengan pulas sedangkan Quenby perlahan melepaskan pelukan suaminya kemudian turun dari ranjang.
Quenby kemudian mengambil jubah handuk dan memakainya. Quenby berjalan ke arah balkon kemudian membuka pintu balkon tersebut, Quenby duduk di sofa sambil menatap ke langit - langit dimana bulan bersinar dan bintang - bintang langit bertaburan dan tidak berapa lama Quenby menangis.
Fico yang terbiasa tidur memeluk Quenby merasa dirinya tidak memeluk Quenby membuat Fico meraba tangannya ke arah ranjang samping tempat biasa Quenby tidur tapi Fico tidak menemukannya membuat Fico terpaksa membuka matanya dan melihat ke arah samping dan ternyata istrinya tidak ada.
"Sayang," panggil Fico.
Fico turun dari ranjang sambil memungut celana boxer nya yang berada di lantai dan tubuh nya merasakan udaranya lebih dingin membuat Fico menatap ke arah balkon.
" Pintu balkon terbuka, apa jangan - jangan Quenby ke balkon?" tanya Fico pada dirinya sendiri.
Fico berjalan ke arah balkon dan melihat istri yang dicintainya sedang duduk dengan air mata tidak berhenti keluar membuat Fico duduk di samping istrinya.
"Kenapa menangis? Sudah malam, tidurlah," bujuk Fico sambil menghapus air mata Quenby dengan ke dua ibu jarinya kemudian mengecup sepasang mata Quenby lalu memeluknya.
" Aku tidak bisa tidur kak, kak Fico jika seandainya aku pergi kak Fico pasti bahagia dan bisa menikahi wanita yang lebih baik dariku," ucap Quenby tanpa menjawab ucapan suaminya sambil menatap wajah tampan suaminya.
" Kenapa kamu bilang seperti itu? Aku tidak suka mendengarnya karena bagi kakak, kamu adalah wanita yang terbaik untuk kakak," ucap Fico dengan nada tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
" Buktinya aku meminta suamiku menyanyikan satu lagu untukku suamiku tidak bisa jadi jika seandainya aku tiada sayangku pasti bahagia karena tidak ada lagi wanita yang memaksamu untuk bernyanyi," jawab Quenby sambil tersenyum tapi air matanya tidak berhenti keluar.
" Quenby!!! teriak Fico untuk pertama kalinya sambil menatap tajam ke arah istrinya untuk pertama kalinya.