
Singkat cerita kini acara pernikahan sudah selesai setelah mereka berempat mengikrarkan janji suci pernikahan dan kini mereka sudah mengganti pakaian serba hitam untuk bersiap mengantar ke peristirahatan terakhir orang tua daddy Thomas dan sepasang suami istri daddy Thomas dan mommy Gloria bertepatan kedatangan segerombolan orang berpakaian serba hitam.
Sepasang suami istri turun dari mobil dan diikuti enam pasang suami istri dengan memakai pakaian pesta, mereka sangat terkejut melihat ke tujuh anak kembar bersama pasangannya dari daddy Thomas bersama mommy Gloria memakai pakaian serba hitam sama seperti para bodyguard milik anak - anak dan menantunya.
" Anak - anak tante dan paman kenapa kalian memakai pakaian serba hitam? Bukankah hari ini pernikahan Quenby dengan Fico dan Yohanes dengan Aurora? Terus kenapa tadi pas kami lewat ada empat mobil ambulance?" Tanya wanita itu beruntun sambil mendekati Quenby, dokter Kasandra dan Cantika karena di antara ke tujuh anak daddy Thomas dan mommy Gloria yang paling dekat adalah Quenby, dokter Kasandra dan Cantika mungkin karena sama - sama wanita.
" Tante Laras, hiks... hiks... mommy... hiks... hiks.. daddy... hiks.... hiks..." Ucap Quenby, dokter Kasandra dan Cantika sambil memeluk mommy Laras.
Ya mereka adalah mommy Laras, daddy Alvonso dan ke enam anak kembar mereka bersama pasangan masing - masing, mereka datang untuk menghadiri acara pernikahan ke dua anak kembar daddy Thomas dan mommy Gloria.
" Aleandro apa yang terjadi? Kenapa kalian memakai pakaian serba hitam?" Tanya daddy Alvonso.
" Paman, daddy dan mommy mengalami kecelakaan mobilnya masuk jurang semuanya meninggal termasuk oma dan opanya daddy." Jawab Aleandro dengan air mata tidak berhenti keluar begitu pula dengan saudara - saudara kembarnya.
" Apa???" Teriak mereka serempak.
" Maaf paman, tante dan semuanya kami mau mengantar ke peristirahatan terakhir oma, opa, mommy dan daddy." Ucap Aleandro pamit.
" Kami juga akan ke sana." Ucap daddy Alvonso.
Merekapun pergi dari mansion menuju ke tempat pemakaman milik keluarga daddy Thomas dalam perjalanan daddy Alvonso, mommy Laras, Alvonso, Alvian, Alviana, Debby, Dennis dan Dennisa bersama pasangannya langsung mengganti pakaian pesta menjadi pakaian serba hitam yang di simpan di dalam mobil karena tidak mungkin mereka memakai pakaian pesta sedangkan mereka pergi ke tempat pemakaman.
Singkat cerita setelah melakukan prosesi pemakaman mereka duduk di pusara daddy Thomas dan mommy Gloria dalam satu liang lahat semua anak dan para menantu daddy Thomas dan mommy Gloria duduk bersimpuh sambil menangis sedangkan keluarga besar Alvonso hanya bisa menitikkan air mata namun dalam hatinya bertanya - tanya sama seperti tuan Saverio.
" Quenby sayang, ayo kita pulang." Ajak Fico karena hari sangat panas maklum sudah siang.
" Kak Fico, daddy dan mommy kasihan tidak ada yang menemani." Ucap Quenby sambil masih menangis dengan ke dua mata membengkak karena tidak berhenti menangis begitu pula dengan ke enam anak kembarnya.
" Ssttt.... Sayang, daddy dan mommy saling menemani jadi mereka tidak kesepian, kalau sayangku menangis terus kasihan mommy dan daddy yang melihatmu tidak berhenti menangis." Ucap Fico sambil memeluk Quenby dari arah samping sambil mengelus pundak Quenby agar kuat dan tegar kehilangan ke dua orang tuanya.
" Sayang, kita pulang yuk." Ajak Maya dengan nada lembut.
" Sayang.. Hiks... Hiks... Hiks... Mommy dan daddy..." Ucap Nathan menggantungkan kalimatnya sambil masih terisak.
" Aku tahu, kita semua terpukul dan sangat kehilangan mommy dan daddy tapi mereka sudah tenang di sana. Kalau kita sedih mommy dan daddy ikut sedih melihat kita." Ucap Maya dengan nada lembut sambil mengelus bahu suaminya.
Nathan hanya memeluk Maya dengan tubuh terguncang dan Maya tahu kalau suaminya sangat terpukul atas kehilangan kedua orang tuanya secara mendadak.
" Sayang kita pulang yuk." Ajak Cantika istri Aleandro dengan nada lembut.
" Aku masih ingin di sini kalian pulanglah." Ucap Aleandro sambil memeluk pusara.
Cantika hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan membiarkan suaminya karena dirinya mengerti kalau kejadian ini membuat suami dan ke enam adik iparnya merasa sangat terpukul.
" Aku akan menemani mommy dan daddy." Ucap Maximus.
Claudia hanya diam dan setia menunggu suaminya sedangkan Aurora, Aska dan Robert hanya diam tanpa banyak bicara karena mereka tahu jawaban masing - masing pasangannya. Para pelayat satu persatu pergi meninggalkan area pemakaman menuju ke rumah masing - masing kecuali keluarga besar daddy Alvonso.
" Kecelakaan mereka apakah murni kecelakaan atau ada yang menyabotase?" Tanya daddy Alvonso tiba - tiba sambil mendekati tuan Saverio.
" Aku pun merasakan hal yang sama, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengetahui apakah perasaanku benar atau tidak kalau mereka di celakai oleh seseorang." Jawab tuan Saverio.
" Tenang saja keluargaku akan membantunya." Ucap daddy Thomas.
" Ponakan - ponakan tante dan paman, kami tahu kalian sangat sedih tapi apakah kalian tidak ingin mengetahui kenapa mommy dan Daddy kalian bisa mengalami kecelakaan?" Tanya mommy Laras ketika mendengar percakapan suaminya dengan tuan Saverio.
" Kami ingin tahu tante." Jawab mereka serempak.
" Bagus, kalau begitu kita pulang dan kalian semua mandilah setelah itu kita berkumpul di ruang kerja milik daddy kalian dan tante minta kalian siapkan tujuh laptop." Ucap mommy Laras merasa senang karena mereka bisa di bujuk karena mommy Laras kasihan dengan para wanitanya yang wajahnya tampak jelas sangat lelah.
" Baik tante." Jawab mereka serempak dengan patuh karena mereka juga ingin tahu kenapa ke dua orang tuanya bisa mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ke dua orang tuanya yang sangat dicintai meninggal secara tragis.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat area pemakaman menuju ke mansion milik daddy Thomas, sampai di mansion Cantika istri Aleandro, Claudia istri Maximus, Maya istri Nathan dan Aurora istri Yohanes mengantar keluarga besar daddy Alvonso untuk beristirahat di kamar tamu sedangkan yang lainnya membersihkan tubuhnya yang lengket ke kamar mandi agar tubuhnya terasa segar.
Tiga Puluh Menit Kemudian
Kini mereka sudah berada di ruang kerja milik daddy Thomas, Alvonso, Alvian, Alviana, Debby, Dennis, Dennisa dan Max masing - masing memegang laptop dan menunggu perintah mommy Laras dan daddy Alvonso. Aleandro, Maximus, Fico, Nathan, Yohanes, Aska dan Robert duduk dengan manis mendengarkan dan melihat apa yang mereka lakukan sedangkan pasangan masing - masing beristirahat di kamar masing - masing karena tubuh mereka sangat lelah baik lelah hati maupun lelah fisik secara bersamaan.
" Aleandro, boleh kami meretas cctv mansion ini?" Tanya daddy Alvonso meminta ijin.
" Silahkan paman." Jawab Aleandro
" Alvonso. Panggil daddy Alvonso
" Iya dad." Jawab Alvonso
" Coba kamu retas cctv mansion ini mulai lima hari yang lalu, cek di lantai satu dulu kalau tidak ada yang mencurigakan cek ke lantai dua sampai ke lantai empat nanti laporkan ke kami." Pinta daddy Alvonso.
" Baik dad." Jawab Alvonso patuh sambil jari jemari tangannya dengan lincah mengutak atik laptopnya.
" Alvian." Panggil daddy Alvonso.
" Iya dad." Jawab Alvian