Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Seli dan Presdir Albert


Deg


Jantung Seli berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tetapi Presdir Albert bisa tahu kalau dirinya menjulurkan lidahnya padahal Presdir Albert sedang mengecek dokumen di tambah betapa jahat dan kejamnya Presdir Albert jika benar - benar melakukannya.


Seli hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan tanpa memperdulikan ucapan Presdir Albert membuat Presdir Albert menatap Seli dengan tatapan kesal karena baru kali ini ada yang berani menjulurkan lidahnya dan tidak memperdulikan ucapan Presdir Albert.


" Kenapa ka..." ucap Presdir Albert terpotong oleh Seli.


" Ssttt.. Berisik nanti anak bapak bangun," ucap Seli dengan suara pelan karena takut Cintya terbangun sambil matanya menatap tajam ke arah Presdir Albert tanpa ada rasa takut sedikitpun karena Presdir Albert berbicara dengan nada setengah oktaf.


" Kamu be...." ucap Presdir Albert terpotong lagi oleh Seli


" Berisik, sekali lagi berisik aku jahit mulut bapak." ancam Seli sambil kembali menatap tajam.


Presdir Albert langsung menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya sedangkan Seli tetap berjalan ke arah kamar pribadi Presdir Albert tanpa memperdulikannya hingga Presdir Albert tersadar dan berjalan mengikuti Seli sambil menahan amarahnya.


Seli membuka pintu kamar pribadi Presdir Albert kemudian mendorongnya dengan menggunakan kaki kanannya. Seli berjalan ke arah ranjang dan perlahan membaringkan tubuh mungil Cintya setelah selesai Seli membalikkan badannya.


Bruk


Grep


Deg                          Deg


Ketika Seli membalikkan badannya tanpa sengaja menabrak tubuh kekar Presdir Albert yang berdiri membelakangi dirinya membuat Seli terjungkal ke belakang dan dirinya beruntung karena Presdir Albert memeluk dirinya hingga Seli tidak terjatuh. Jantung ke duanya berdetak kencang hingga pandangan matanya terkunci setelah beberapa saat Seli tersadar.


" Terima kasih dan maaf bisakah lepaskan pelukannya?" tanya Seli sambil mendorong  perlahan tubuh Presdir Albert.


Presdir Albert melepaskan pelukannya sedangkan Seli berjalan meninggalkan Presdir Albert namun baru beberapa langkah Cintya memanggilnya membuat ms Seli menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya.


" Ms. Seli mau kemana?" tanya Cintya.


" Mau pulang sayang," jawab Seli dengan nada lembut.


" Bicara sama aku jutek dan tidak pantas kamu itu jadi guru," sindir Presdir Albert sambil menatap sinis.


" Siapa yang mulai duluan?" tanya Seli sambil membalas tatapan sinis.


" Daddy, jangan marah - marah sama mommy," ucap Cintya.


" Mommy?" tanya ulang Presdir Albert dan Seli serempak.


" Ms. Seli kan sebentar lagi kan jadi mommynya Cintya jadi Cintya punya banyak mommy," jawab Cintya polos.


" Banyak mommy?" tanya ulang Seli


" Iya banyak mommy dan banyak daddy," jawab Cintya polos.


" Maksudnya?" tanya Seli masih bingung


" Nanti mommy juga tahu," jawab Cintya.


Seli memalingkan wajahnya ke arah Albert dengan tatapan seakan membutuhkan jawabannya sedangkan Presdir Albert hanya mengangkat ke dua bahunya seakan mengatakan tebak saja sendiri sambil tersenyum devil membuat Seli memijat keningnya tidak mengerti jalan pikiran ayah dan anak.


" Cintya, kepala ms Seli pusing jadi ms pulang dulu ya," ucap Seli berbohong.


" Daddy antar kan mommy pulang," pinta Cintya.


" Tidak perlu repot - repot," ucap Seli sambil memaksakan dirinya tersenyum.


" Ms. pulang dulu ya," sambung Seli sambil membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan tersebut.


" Daddy antar kan mommy pulang," pinta Cintya mengulangi perkataannya.


Presdir Albert hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membalikkan badannya namun baru beberapa langkah Cintya memanggilnya.


" Daddy ikut," pinta Cintya.


Presdir Albert lagi - lagi menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membalikkan badannya kembali dan berjalan ke arah ranjang di mana Cintya sedang duduk di ranjang.


" Gendong," pinta Cintya manja.


Presdir Albert dengan patuh menggendong Cintya kemudian berjalan menyusul Seli dengan langkah cepat karena Cintya memintanya.