
Mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit jiwa, dua orang wanita turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit dengan memakai pakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam serta rambut palsu agar tidak ada orang yang mengenali dirinya.
" Selamat malam, kami ingin menemui nyonya Vero." Ucap salah satu wanita itu.
" Maaf dengan nona siapa?" Tanya salah satu perawat.
" Saya Rena." Ucap Rena memperkenalkan dirinya.
" Silahkan ikut saya nona." Pinta perawat itu.
" Baik suster." Jawab Rena
Ke dua wanita itu berjalan mengikuti perawat tersebut dan tanpa sepengetahuan mereka dua orang pria mengikuti mereka hingga mereka sampai di sebuah ruangan.
Ceklek
Perawat itupun membuka pintu ruangan tersebut dan ke dua wanita itu melihat nyonya Vero sedang duduk dengan ke dua tangannya terikat dengan menggunakan pakaian khusus orang sakit jiwa membuat ke dua wanita itu menahan amarahnya.
" Kenapa ke dua tanganku ibuku di ikat?' Tanya wanita itu.
" Benar kata adikku Rina, kenapa ibu kami di ikat?" Protes Rena.
Rena dan Rina adalah adiknya Kevin sedangkan nyonya Vero adalah ibu mereka bertiga yang di rawat di rumah sakit jiwa.
" Maaf nona, nyonya Vero marah - marah dan sering melukai pasien lainnya." Ucap perawat itu menjelaskan.
" Aku ingin ke kamar mandi dulu, di mana kamar mandi?" Tanya Rena yang tidak menjawab ucapan perawat itu.
" Nona keluar dari ruangan ini lalu belok ke arah kanan." Ucap perawat tersebut.
Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati perawat tersebut sedangkan perawat itu tanpa curiga sedikitpun dengan Rena.
" Bisakan ikatan ke dua tangan ibuku dilepaskan?" Tanya Rina mengalihkan perhatian.
" Maaf nona tidak bi...." Ucapan perawat itu terhenti karena tiba - tiba Rena memukul tengkuk perawat itu dengan menggunakan ke dua tangannya.
" Akhhhh..." Teriak perawat itu.
Bruk
Perawat itupun ambruk tidak sadarkan diri ketika Rena menyerang dengan tiba - tiba, Rena dan Rina langsung berjalan ke arah nyonya Vero sambil melepaskan ikatan ke dua tangan tersebut.
" Kalian siapa?" Tanya nyonya Vero
" Aku Rena dan dia Rina, kami anak ibu." Ucap Rena
" Mana Kevin?" Tanya nyonya Vero.
" Kak Kevin meninggal bu." Ucap Rena sambil melepaskan pakaian pasien nyonya vero dan di ganti dengan pakaian baru.
" Apa??? Siapa yang melakukannya?" Tanya nyonya Vero sambil menahan amarahnya.
" Keluarganya suami Maya bu." Ucap Rina.
" Kalau begitu kita harus membunuh Maya, nyawa harus di bayar dengan nyawa." Ucap nyonya Vero sambil menahan amarahnya.
" Benar bu, nyawa harus di bayar dengan nyawa." Ucap Rena dan Rina
" Sebelum itu terjadi kalianlah yang mati." Ucap ke dua pria itu sambil mendorong pintu dan menutupnya dengan rapat.
Ke dua pria itu mengeluarkan pistol peredam suara dan mengarahkan pistolnya ke arah kening Rena dan Rina dengan tatapan membunuh.
" Kalian siapa?" Tanya ke tiganya dengan serempak dengan wajah pucat.
" Kami malaikat pencabut nyawa kalian." Ucap salah satu pria itu tersenyum menyeringai.
Dor Dor
" Akhhhhhhhh..." Teriak ke duanya dengan serempak
Bruk Bruk
" Rena, Rina!!!" Teriak nyonya Vero sambil berlutut memeluk ke dua putrinya.
Setelah mengatakan malaikat pencabut nyawa ke dua pria itu langsung menembak kening Rena dan Rina membuat mereka ambruk ke lantai dan langsung mati seketika. Hal itu membuat nyonya Vero berteriak dan mengguncang - guncang kan jasad ke dua putrinya agar terbangun.
Nyonya Vero bangkit dan berjalan ke arah ke dua pria itu karena telah menembak ke dua putrinya.
" Kalian telah membunuh ke dua putriku, kalian berdua harus mati." Ucap nyonya Vero dengan tatapan nyalang.
Dor Dor
" Akhhhhhhhh..." Teriak ke nyonya Vero.
Bruk
Dua peluru mengenai kening dan dada yang menebus jantung setelah dipastikan ketiganya meninggal mereka pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa di ketahui oleh orang karena Alvonso dan Max sudah meretas rumah sakit tersebut dan merusaknya sehingga tidak ada orang yang bisa berhasil memperbaikinya kecuali keluarga besar Alvonso.
xxxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda Quenby dan Maya sudah dipindahkan ke ruangan yang dulu pernah digunakan waktu mommy Gloria melahirkan ke tujuh anak kembarnya yang berada di dalam mansion milik daddy Thomas.
" Yang lainnya pada kemana dad?" Tanya Quenby.
" Aleandro, Maximus dan Yohanes sudah tidur, kamu istirahatlah." Ucap daddy Thomas.
" Kak Romero dan Fico, kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian silahkan ikuti kepala pelayan." Ucap mommy Gloria.
" Kami pulang saja dan maafkan kami telah merepotkan." Ucap tuan Romero.
" Sudah malam istirahatlah." Ucap mommy Gloria.
" Mengenai pakaian ganti pakailah pakaianku yang masih baru dan untuk Fico bisa memakai pakaian milik Nathan yang masih baru." Ucap daddy Thomas sambil memeluk pinggang istrinya.
" Terima kasih dan sekali lagi maaf telah merepotkan." Ucap tuan Romero merasa terharu akan perubahan daddy Thomas yang mendadak.
" Kami tidak merasakan direpotkan." Ucap mommy Gloria sambil tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
" Ayo sayang, kita tidur aku sangat mengantuk." Ucap daddy Thomas sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
" Baik sayang." Jawab mommy Gloria.
" Fico, apakah kamu masih di sini?" Tanya tuan Romero.
" Aku ingin menemani Quenby, dad." Ucap Fico yang tidak ingin jauh dengan Quenby.
" Baiklah daddy mau istirahat." Ucap tuan Romero keluar dari ruangan tersebut.
" Kak Fico istirahatlah sama paman, kan di sini ada Nathan dan Maya." Ucap Quenby.
" Aku ingin menemanimu, apakah kamu merasa keberatan?" Tanya Fico
" Tidak." Jawab Quenby singkat.
Fico tersenyum kemudian duduk di kursi sambil menggengam tangan Quenby dengan menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang terluka sedangkan Maya dan Nathan masih mengobrol sambil berbaring di ranjang yang sama.
" Sayang, aku ingin tidur di kamar kita yuk?" Ajak Maya
" Memang kenapa kalau tidur di sini?" Tanya Nathan dengan nada bingung.
" Aku lagi ingin itu." Bisik Maya.
" Maksudnya?" Tanya Nathan yang pura - pura tidak mengerti ucapan Maya.
Maya menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membelai tombak sakti milik suaminya membuat Nathan menahan tangan istrinya. Nathan turun dari ranjang kemudian mengambil botol infus milik istrinya dan diberikan ke istrinya.
" Pegang lah, kita pergi ke kamar." Ucap Nathan dengan suara mulai berat karena dirinya juga sudah tidak bisa menahan hasratnya.
Maya tersenyum kemudian Nathan menggendong istrinya ala bridal style dan berjalan melewati mereka berdua.
" Mau kemana?" Tanya Quenby.
" Ke kamar, kalian berdua jangan macam - macam ya." Perintah Nathan.
" Maksud kakak macam - macam apa?" Tanya Quenby tidak mengerti.
" Tanyalah pada kak Fico, dia tahu." Ucap Nathan sambil melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamarnya.
" Kak Fico tahu maksud perkataan Nathan?" Tanya Quenby.