Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Nathan dan Maya


" Kok namanya sama seperti perusahaan milik suami sahabatku, tunggu sebentar apakah kak Johanes saudara kembar kak Nathan suami sahabatku karena wajahnya sangat mirip." Ucap Aurora baru tersadar.


" Iya benar, kebetulan aku membutuhkan sekretaris besok datanglah ke perusahaan." Ucap Yohanes sambil mengambil dompetnya di saku belakang celana panjang dan memberikan kartu nama miliknya.


" Hebat ya masih muda mempunyai perusahaan sendiri." Ucap Aurora sambil menerima kartu nama


" Bukan perusahaan milikku tapi perusahaan milik keluarga." Ucap Yohanes


" Tapi tetap saja hebat bisa mengelola bisnis keluarga." Ucap Aurora.


" Terima kasih atas pujiannya." Ucap Yohanes.


Aurora hanya tersenyum manis membuat jantung Yohanes berdetak kencang.


( " Baru kali ini jantungku berdetak kencang dekat dengan seorang gadis." Ucap Yohanes dalam hati ).


" Sudah menikah atau sudah mempunyai kekasih?" Tanya Yohanes tanpa basa basi karena dirinya tidak ingin sudah cape-cape pdkt ternyata sudah mempunyai suami atau kekasih.


" Belum, kenapa?" Tanya Aurora


" Tidak apa-apa aku sangat senang jika kamu tidak ada pasangan." Jawab Yohanes


" Kenapa sangat senang?" Tanya Aurora dengan nada bingung.


" Akhhh... Lupakan apa yang aku katakan." Ucap Yohanes dengan wajah memerah.


" Kak Yohanes demam?" Tanya Aurora sambil tangan kanannya di arahkan ke kening Yohanes


grep


" Kakak tidak demam." Ucap Yohanes sambil menahan tangan Aurora.


" Tapi kenapa wajah kakak memerah?" Tanya Aurora


" Itu karena adikku sedang jatuh cinta." Goda Aleandro yang tiba-tiba datang.


" Ohhh..." Jawab Aurora


" Eh... Jatuh cinta sama siapa?" Tanya Aurora


" Dengan empffftt...." Aleandro tidak bisa melanjutkan karena mulutnya di bekap oleh adiknya.


" Kakak, kakak di panggil sama kak Cantika." Ucap Yohanes sambil menatap tajam ke arah kakaknya dan melepaskan tangannya yang membekap mulut kakaknya.


Aleandro hanya tersenyum geli melihat adiknya menatap dirinya dengan tatapan tajam.


" Jangan lama-lama pdkt nya nanti ke buru ke samber pria lain." Bisik Aleandro kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.


" Aish, dasar kakak rese." Ucap Yohannes


" Memang apa yang dibisikkan oleh kakakmu?" Tanya Aurora


" Lupakan saja, kita ke arah sana yuk?" Ajak Yohanes


" Ok." Jawab Aurora singkat.


Hampir lima jam acara resepsi pernikahan membuat Maya lelah.


" Sayangku lelah?" Tanya Nathan


" Iya sayang, kakiku lumayan pegel sayang." Ucap Maya


" Kalau begitu kita ke kamar saja sekalian istirahat." Ucap Nathan sambil menarik perlahan tangan istrinya.


Maya mengikuti langkah suaminya dan tidak berapa lama Nathan menggendong istrinya ala bridal style membuat Maya menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suaminya.


" Sayang malu." Ucap Maya


" Kenapa malu, kamu kan istriku." Ucap Nathan sambil tersenyum.


Nathan berjalan tanpa memperdulikan orang - orang yang memperhatikan dirinya. Mereka tidak berani berkomentar karena mendapatkan tatapan tajam dari saudara-saudara kembarnya Nathan dan juga para bodyguard keluarga besar daddy Thomas.


" Sayang buka pintunya." Pinta Nathan


ceklek


Maya membuka pintu kemudian Nathan mendorong perlahan pintu tersebut dengan menggunakan kaki kanannya. Nathan meletakkan perlahan tubuh istrinya ke arah ranjang kemudian membalikkan badannya ke arah pintu kamarnya untuk mengunci pintu.


Maya bangun dari ranjang dan melepaskan sepatu heels yang lumayan tinggi.


" Memijat kakimu, pasti pegel." Ucap Nathan sambil memijat kaki Maya.


" Tapi bukankah itu aku tidak sopan?" Tanya Maya


" Kenapa tidak sopan? Aku yang ingin memijat kakimu." Ucap Nathan sambil tersenyum.


" Terima kasih sayang, aku sangat beruntung bisa menikah denganmu." Ucap Maya sambil tersenyum bahagia.


" Aku juga terima kasih kamu mau menjadi istriku." Ucap Nathan


Setelah hampir sepuluh menit Nathan sudah selesai memijat kaki Maya.


" Gimana sudah enakkan?" Tanya Nathan


" Enakkan sayang, sekali lagi terima kasih." Jawab Maya sambil turun dari ranjang.


" Aku mau mandi dulu badannku lengket." Ucap Maya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


" Ok, nanti gantian aku mandi." Ucap Nathan


Maya menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Maya mencoba membuka resleting gaun pengantin yang berada di belakang tapi sangat sulit.


" Haruskah aku meminta bantuan suamiku? tapi aku malu." Ucap Maya


Setelah lama berfikir Maya membuka pintu kamar mandi dan melihat suaminya sedang menatap dirinya di ranjang pengantin.


" Ada apa sayang?" Tanya Nathan sambil bangun dari ranjang dan berjalan ke arah istrinya.


" Aku ingin membuka resleting tapi sangat sulit." Ucap Maya.


Tanpa menjawab ucapan istrinya Nathan menarik perlahan resleting gaun pengantin milik istrinya.


glek


Nathan menelan salivanya dengan bersusah payah melihat punggung mulus istrinya.


" Sayang, sekarang saja ya?" Pinta Nathan yang merasakan burung perkututnya mulai terasa menegang.


" Nanti saja sayang, badanku lengket banget." Ucap Maya gugup karena dirinya tahu maksud perkataan suaminya.


Walau Maya sudah pernah menikah tapi tidak pernah merasakan hubungan suami istri itulah kenapa dirinya sangat gugup sedangkan Nathan hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membalikkan badannya meninggalkan istrinya.


" Maaf sayang, aku sangat gugup tapi jangan kuatir aku akan memberikan yang terbaik untuk suamiku." Ucap Maya.


Maya mulai melepaskan gaun pengantinnya, semua pakaian dal*m yang menutupi dua gunung kembarnya dan kain yang menutupi bagian privasinya yang berupa segitiga bermuda kemudian dilanjutkan segala pernak pernik yang berada di kepalanya, kalung dan cincin. Kemudian Maya berjalan ke arah shower.


Selama lima belas menit Maya sudah selesai mandi dan menggunakan jubah handuk.


ceklek


Maya membuka pintu kamar mandi dan melihat suaminya memandangi dirinya.


" Sayang, mandi dulu ya biar segar." Ucap Maya


" Ok." Jawab Nathan sambil tersenyum.


Nathan berjalan ke arah kamar mandi sedangkan Maya berjalan ke arah lemari mengambil satu stel pakaian tidur milik suaminya kemudian membuka lemari yang berada di sebelahnya


" Ya ampun semua pakaian tidurku kurang bahan semua." Pekik Maya melihat deretan lingerie dengan berbagai warna dan desain yang berbeda.


Maya mengambil salah satu lingerie kemudian memakainya tanpa menggunakan dala***nya.


" Demi membahagiakan suamiku." Ucap Maya sambil meletakkan jubah handuk ke keranjang khusus pakaian kotor.


Maya berbaring di ranjang dan masuk ke dalam selimut sampai menutupi lehernya.


ceklek


Nathan membuka pintu dan melihat istrinya sedang berbaring membuat Maya pura-pura memejamkan matanya. Nathan tersenyum ketika melihat istrinya sudah menyiapkan pakaian tidur untuk dirinya tapi Nathan tidak memakainya. Nathan berjalan ke arah ranjang dengan pinggang ditutupi handuk yang menutupi burung perkututnya.


" Aku tahu sayangku pura-pura tidur." Ucap Nathan sambil menarik selimutnya.


sretttt


Mata Nathan membulat sempurna melihat tubuh molek istrinya membuat burung perkututnya tidak sabar masuk ke sarangnya. Nathan menarik handuknya dan membuangnya secara asal kemudian menaiki tubuh istrinya. Nathan langsung mencium bibir Maya yang sudah menjadi candunya kemudian pindah ke leher memberikan tanda kepemilikan.


" Sayang." Panggil Maya dengan nada lirih sambil membuka matanya.