
Tiba - tiba ponsel milik Presdir Albert berdering dua kali tanda ada pesan masuk membuat Presdir Albert mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Pesan dari siapa kak?" tanya Seli.
"Pesan dari paman Max," jawab Presdir Albert sambil membuka pesan pertama.
"Rekaman video cctv waktu reuni," ucap Presdir Albert membaca pesan pertama sambil membuka pesan ke dua kemudian mendownload rekaman video cctv.
"Berikan ke Lemos," perintah Delon.
"Baik kak," jawab Presdir Albert patuh sambil memberikan ponselnya ke Lemos.
Lemos langsung menerima ponsel tersebut kemudian membuka video tersebut di mana salah satu gadis itu pergi meninggalkan ke dua temannya, Delon dan Lemos hingga gadis itu memberikan dua bungkusan ke arah pelayan dengan memberikan beberapa lembar uang hingga akhirnya Lemos meminumnya dan tubuhnya terasa panas membuat perasaan Lemos bercampur aduk rasa bersalah karena telah menuduh Soraya yang melakukannya.
"Ternyata benar ke tiga gadis itu pelakunya dan seharusnya kak Delon juga kena sepertiku," ucap Lemos dengan wajah amat bersalah terhadap Soraya.
"Maksudnya?" tanya Delon bingung begitu pula dengan yang lainnya.
"Ke tiga gadis itu sebenarnya menargetkan kak Delon dan aku tapi gagal karena itulah aku yang kena," jawab Lemos sambil menahan amarahnya terhadap gadis yang baru disukainya.
"Kenapa bisa gagal?" tanya Delon yang masih penasaran.
"Kakak ingat dengan temannya Soraya yang tidak sengaja menabrak kakak dan gelas kakak tumpah dan mengenai jas kakak?" tanya Lemos pertanyaan di balas dengan pertanyaan.
"Iya kakak ingat, berarti kalau seandainya saat itu dia tidak menyenggol kakak ... ( men jeda kalimatnya ) bisa saja kakak bernasib sama sepertimu," ucap Delon.
"Betul kak," jawab Lemos.
"Kakak merasa bersalah karena sempat kesal dengan gadis itu padahal berkat gadis itu kakak selamat," ucap Delon merasa bersalah terhadap Delisa sahabat Soraya.
Tidak berapa lama pintu UGD terbuka tampak dokter dengan wajah lelahnya membuat Delon, Lemos, Seli, Presdir Axel dan Presdir Albert berjalan ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Presdir Axel dengan wajah kuatir.
"Istri dan janinnya baik - baik saja dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut.
"Janin? Maksud dokter istriku hamil?" tanya Presdir Axel tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Betul sekali, untuk lebih jelasnya silahkan di usg," jawab dokter tersebut.
"Oh ya kepalanya di perban karena terkena benturan tapi tidak begitu parah," ucap dokter tersebut.
"Iya dok waktu itu istriku di dorong oleh seseorang dari tangga atas menuju ke tangga bawah," jawab Presdir Axel menjelaskan.
"Tapi aneh kenapa lukanya tidak begitu parah? Apakah ada seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tamengnya makanya lukanya tidak begitu parah?" tanya dokter tersebut dengan wajah tidak percaya.
Deg Deg
Deg Deg
Deg
Jantung Delon, Lemos, Seli, Presdir Axel dan Presdir Albert langsung berdetak kencang ketika mendengar ucapan dokter tersebut terlebih Lemos membuat perasaan Lemos semakin bertambah bersalah terhadap Soraya.
Lemos sangat ingat waktu kejadian itu Soraya membelakangi dirinya dan juga dirinya ingat ketika memeluk tubuh Soraya dirinya mendengar Soraya meringis menahan rasa sakit walau agak pelan.
"Maaf dok, aku kurang tahu," jawab Presdir Axel.
"Baik, apa ada yang ditanyakan?" tanya dokter tersebut.
"Tidak ada dok," jawab Presdir Axel.
"Kalau begitu saya ingin pergi mengecek pasien lainnya," ucap dokter tersebut.
"Baik dok, terima kasih," jawab Seli.
"Sama - sama nona," jawab dokter tersebut sambil tersenyum manis menatap Seli.
Grep
"Jangan senyum - senyum dan panggil istriku dengan sebutan nyonya bukan nona," ucap Presdir Albert sambil memeluk istrinya secara posesif dari arah samping dan menatap tajam ke arah dokter tersebut.
"Maaf tuan dan nyonya, saya permisi dulu," ucap dokter tersebut dengan wajah pucat nya dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Lain kali kalau pergi jangan dandan," ucap Presdir Albert dengan nada kesal.