
" Baik dad, salam buat opa Alvonso dan oma Laras." Jawab dokter Alexa
" Sayang." Panggil Fico sambil melepaskan celana panjangnya hingga menyisakan celana boxernya.
" Kenapa sayang?" Tanya Quenby dengan wajah merona karena melihat tubuh suaminya yang sangat menggodanya.
" Perutmu apakah masih sakit?" Tanya Fico sambil melangkahkan kakinya ke arah ranjang hingga akhirnya Fico berbaring di samping ranjang.
" Masih sayang, kenapa?" Tanya Quenby yang mengerti ke arah mana pembicaraan suaminya.
" Adik kecilku sudah tegang sayang." Bisik Fico sambil memainkan salah satu gunung himalaya milik Quenby sambil memeluk istrinya dari arah samping.
" Sayang, perutku masih perih." Ucap Quenby yang pahanya terasa ada yang menempel agak keras dan panjang sambil menahan mulutnya agar tidak bersuara.
" Perih banget?" Tanya Fico sambil melepaskan tangannya yang tadi memainkan salah satu gunung himalaya milik Quenby.
" Iya sayang, maaf ya." Ucap Quenby sambil memalingkan wajahnya ke arah suaminya dengan tatapan sendu.
Cup
" Tidak apa - apa sayang, justru aku yang minta maaf karena tidak bisa menahan hasr*tku." Ucap Fico sambil mengecup kening Quenby dengan lembut.
" Sayang, aku ngantuk peluk aku ya." Pinta Quenby manja.
" Ok." Jawab Fico kemudian memeluk dada Quenby sambil memainkan kembali salah satu gunung himalaya.
" Sayang." Panggil Quenby sambil menahan kembali mulutnya agar tidak mengeluarkan suara merdunya karena perbuatan Fico membuat hasr*t Quenby mulai naik.
" Hmmmm..." Jawab Fico berupa dehemen kemudian mencium leher Quenby kemudian memberikan tanda kepemilikan.
" Sayang geli." Ucap Quenby.
" Tapi enakkan." Bisik Fico.
" Enak tapi aku tidak bisa tidur." Ucap Quenby manja.
" Hehehe... ya sudah tidurlah kakak akan menemani dirimu tidur." Ucap Fico sambil tertawa terkekeh geli melihat wajah istrinya.
" Sayang." Panggil Quenby lagi.
" Hmmmm..." Jawab Fico berupa dehemen sambil membelai rambut Quenby dengan lembut.
" Sayang, bahagia tidak menikah denganku?" Tanya Quenby sambil menatap wajah tampan Fico.
" Sayangku kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Fico sambil tersenyum.
" Aku hanya ingin tahu saja." Ucap Quenby.
" Tentu saja aku sangat bahagia menikah denganmu, apapun yang kamu minta aku akan berikan semuanya asalkan kakak pinta tiga hal darimu." Ucap Fico.
" Apa itu?" Tanya Quenby
" Terimalah aku apa adanya, setia lah padaku dan jangan pernah berfikir untuk mengkhianati diriku." Ucap Fico.
" Sayang, tanpa kamu pinta aku akan lakukan tiga permintaanmu asalkan apapun kata orang tentang diriku suamiku lebih percaya padaku dan juga katakanlah padaku apa yang tidak di sukai oleh suamiku agar aku bisa melakukan apa yang di minta oleh suamiku." Pinta Quenby sambil membelai pipi suaminya dengan lembut.
Grep
Cup
" Terima kasih sayang." Jawab Fico sambil menahan tangan Quenby karena dirinya sedang menahan hasra*nya yang sangat tinggi kemudian mengecup kening Quenby dengan lembut.
" Jangan membelai pipiku." Bisik Fico kemudian menggigit daun telinga Quenby dengan gemas.
" Memang kenapa sayang?" Tanya Quenby polos sambil menahan geli.
" Karena membuat hasra*ku naik dan ingin sekali memakanmu." Bisik Fico kembali sambil memainkan salah satu gunung kembar milik istrinya.
" Maaf aku tidak tahu." Jawab Quenby.
" Tidak apa - apa sayang, sekarang tidurlah." Ucap Fico sambil memejamkan matanya agar dapat menghilangkan hasra*nya yang naik kembali akibat ulah Quenby.
" Tapi tangan kak Fico." Ucap Quenby.
" Memang kenapa dengan tanganku?" Tanya Fico pura - pura tidak tahu.
" Aku jadi ingin merasakan bagaimana rasanya punya kak Fico masuk ke punyaku." Ucap Quenby polos
" Mau mencobanya?" Tanya Fico sambil tersenyum mesum dan masih asyik memainkan salah satu gunung kembar milik istrinya.
" Tapi waktu itu kita mencobanya sakit sekali." Ucap Quenby dengan jujur.
" Kakak akan pelan - pelan." Bisik Fico.
" Lakukanlah kak." Pinta Quenby yang sudah mulai bergairah karena ulah suaminya.
" Apakah perutmu digerakkan sakit?" Tanya Fico untuk memastikan.
Quenby menggerakkan tubuhnya agar berhadapan dengan suaminya namun baru saja digerakkan sedikit Quenby meringis menahan rasa sakit pada perutnya membuat Quenby menganggukkan kepalanya membuat Fico menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" Lebih baik kita tidur saja sayang." Ucap Fico sambil memeluk pinggang Quenby.
" Tapi bukankah suamiku menginginkannya?" Tanya Quenby yang tidak tega melihat suaminya tersiksa terlebih dirinya juga ingin merasakannya.
" Kita bisa melakukannya kapan - kapan karena kakak tidak tega melihatmu meringis menahan rasa sakit." Ucap Fico.
" Terima kasih sayang." Jawab Quenby sambil tersenyum.
" Sama - sama sayang, sekarang tidurlah." Ucap Fico
Quenby menganggukkan kepalanya kemudian memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama Quenby sudah tertidur dengan pulas membuat Fico tersenyum melihat Quenby sudah tertidur dengan lelap.
' Aku berjanji untuk melindungimu dan juga keluargamu karena kehadiranmu membuatku sangat bahagia.' Ucap Fico dalam hati.
Fico pun memejamkan matanya dan tidak berapa lama Fico tertidur dengan pulas menyusul istrinya dalam mimpi sedangkan di tempat yang sama namun berbeda ruangan daddy Alvonso, Alvonso, Alvian, Arlan, Leo, Dennis, Max, Aleandro, Maximus, Yohanes, Robert dan tuan Saverio berkumpul di ruang keluarga.
" Alvonso, Alvian, Leo, Dennis dan Max coba kalian retas semua mansion sini apakah masih ada orang yang mencurigakan?" Perintah daddy Alvonso.
" Baik dad." Jawab mereka serempak
Alvonso, Alvian, Leo, Dennis dan Max mulai mengutak atik kembali laptopnya sedangkan yang lainnya hanya diam dan menunggu dengan sabar hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai bersamaan kedatangan mommy Laras, Cantika istri Aleandro, Claudia istri Maximus, Aurora istri Yohanes, Cantika istri Robert, Kelly istri Alvonso, dokter Amelia istri Alvian, Alviana istri Arlan, Debby istri Leo, dokter Elisabeth istri Dennis dan Dennisa istri Max mereka duduk di samping pasangan masing - masing.
" Aman dad." Jawab Alvonso, Alvian, Leo, Dennis dan Max serempak.
" Aman kenapa?" Tanya mommy Laras kepo.
" Mansion ini aman tidak ada lagi musuh." Ucap daddy Alvonso.
" Untuk lebih aman lagi pasang tombol alarm." Ucap mommy Laras.
" Tombol alarm? Untuk apa mom?" Tanya Aleandro penasaran.
" JIka ada musuh datang maka terdengar suara di kamar masing - masing." Ucap mommy Laras.
" Bagus juga ide mommy, siapa yang mau mendengarkan alarm jika ada musuh datang." Tanya daddy Alvonso.
" Kamarku saja paman." Ucap Aleandro.
" Aku juga mau." Ucap Maximus, Yohanes, Robert dan tuan Saverio serempak.
" Kalau begitu semua saja paman termasuk kamar Nathan dan kamar Quenby." Ucap Aleandro.
" Ok. Alvonso, Alvian, Alviana, Debby, Leo, Dennis, Dennisa dan Max pasang semua di kamar mereka." Perintah daddy Alvonso.
" Baik dad." Jawab mereka serempak sambil mengutak atik laptopnya.
Daddy Alvonso mengambil tas kemudian membukanya, daddy Alvonso mengambil alat berukuran kotak kecil kemudian memberikannya masing - masing ke tuan Saverio dan juga Aleandro, Maximus, Yohanes dan Robert.
" Tuan Saverio, Aleandro, Maximus, Yohanes dan Robert pasangkan alat ini di kamar kalian dan ini untuk kamar Nathan dan Fico." Ucap daddy Alvonso.
" Ok." Jawab mereka serempak.
" Setelah selesai kalian istirahat." Ucap daddy Alvonso.
" Paman, tante dan semuanya juga istirahat kalau ini sudah selesai." Ucap Aleandro.
" Ok." Jawab mereka serempak.
Tuan Saverio, Aleandro, Maximus, Yohanes dan Robert menaiki anak tangga menuju ke kamar masing - masing untuk memasang alarm sedangkan keluarga daddy Alvonso setelah hampir sepuluh menit mereka sudah selesai dan merekapun kembali ke kamar tamu masing - masing untuk beristirahat.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda dan di negara yang berbeda tepatnya di rumah sakit, jiwa kepo dokter Alexa Keyla Abner atau dr. Alexa akan ruangan yang di jaga oleh para bodyguard membuat dokter Alexa membawa tas kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang tidak terlalu jauh dengan ruangan yang di jaga oleh para bodyguard.
Dokter Alexa membuka tasnya kemudian mengganti pakaian dress-nya dengan memakai pakaian serba hitam, setelah mengganti pakaiannya dokter Alexa memasukkan dress-nya ke dalam tas.
Dokter Alexa berjalan dengan cara mengendap tanpa sepengetahuan para bodyguard. Suasana yang agak gelap karena waktu menunjukkan pukul 01.00 di tambah beberapa bodyguard yang merasa selama ini aman - aman membuat mereka lengah dan tertidur hal itu sangat menguntungkan dokter Alexa.
Dokter Alexa masuk ke dalam ruang perawatan dan berjalan dengan perlahan hingga dirinya melihat sepasang wanita dan laki - laki terbaring dengan tubuh dan kepala di perban dengan berbagai selang di tubuhnya dan juga alat bantu pernafasan.
Dokter Alexa membulatkan matanya dengan sempurna karena dokter Alexa mengenal siapa mereka membuat dokter Alexa mengambil ponselnya kemudian memfoto wanita dan laki - laki tersebut setelah selesai dokter Alexa menyimpan kembali ponselnya.
Dokter Alexa berjalan dengan perlahan ke arah pintu ruang perawatan dan meninggalkan ruangan tersebut hingga dirinya sampai di depan pintu kamar mandi dirinya tidak sengaja menabrak seseorang yang berada di depannya karena dokter Alexa memalingkan wajahnya ke arah samping.
Bruk
" Akhhhhhhhh..." Teriak dokter Alexa ketika dirinya nyaris terjengkang ke belakang.