Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Sela dan Presdir Axel


" Baik presdir," jawab Sela pasrah.


( ' Seandainya di depanku itu kak Lemos aku ce kik tapi sayang bosku,' ucap Sela dalam hati ).


" Kamu ingin mencekik ku?" tanya presdir Axel sambil menatap tajam ke arah Sela.


" Tidak tuan, mana berani aku melakukan itu," jawab sela berbohong.


" Benar atau tidaknya hanya kamu dan yang Di Atas tahu," ucap presdir Axel sambil mengerjakan.


( ' Apa presdir Axel bisa mendengar suara hatiku?" tanya Sela dalam hati ).


" Tentu saja aku tahu apa yang kamu katakan dalam hatimu jadi jangan pernah ngomongin aku terlebih ngomong dalam hati," ucap presdir Axel


Sela mengangkat kepalanya dan menatap presdir Axel yang sibuk memeriksa dokumen tanpa melihat dirinya membuat Sela menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya apa yang didengarnya.


Sela menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melanjutkan pekerjaan hingga tidak terasa jam menunjukkan waktu makan siang.


" Presdir Axel aku bawa bekal dua, apakah mau?" tanya Sela.


" Kamu bawa dua bekal apakah suamimu tidak curiga?" tanya presdir Axel.


" Kami saling percaya jadi apakah presdir Axel mau?" tanya Sela lagi.


" Taruhlah di mejaku karena aku tidak suka makanan di buang," ucap presdir Axel.


" Kalau presdir Axel tidak suka aku akan tawarkan ke temanku," ucap Sela sambil menahan kesal.


" Apakah kamu tidak rela?" tanya presdir Axel.


" Aku rela tapi kesannya presdir Axel sepertinya terpaksa menerima bekalku." ucap Sela.


" Mungkin itu hanya perasaanmu," jawab presdir Axel


Sela menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian turun dari kursi dan berjalan ke arah presdir Axel kemudian memberikan kotak makan di atas mejanya.


" Maaf presdir Axel ini kotak bekalnya," ucap Sela.


" Apakah kamu yang masak?" tanya presdir Axel.


" Aku dan adik kembarku yang masak sedangkan mommy yang menyiapkan kotak bekalnya," ucap Sela


" Kenapa bukan kamu saja yang menyiapkan?" tanya presdir Axel.


" Tidak sempat," jawab Sela


" Enak ya jadi kamu," sindir presdir Axel


" Enak apanya?" tanya Sela dengan nada bingung.


" Menyuruh mommy mu untuk menyiapkan bekal makanan, tidak sopan banget menyuruh orang tua," sindir presdir Axel sambil menatap sinis ke Sela


" Aku tidak menyuruh mommy untuk membawakan bekal," ucap Sela berusaha membela diri


" Tetap saja, coba kamu sempat menyiapkan membawa bekal mommy mu tidak akan melakukannya," jawab presdir Axel


Deg


Jantung Sela berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tapi apa yang dikatakan presdir Axel benar adanya membuat Sela terdiam sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.


" Mau kemana?" tanya presdir Axel


" Bukannya sekarang waktunya makan siang?" tanya presdir Axel


" Belum lapar," jawab Sela sambil membalikkan badannya.


Grep


Sela melanjutkan langkahnya sedangkan presdir Axel turun dari kursi kebesarannya kemudian berjalan dengan langkah cepat kemudian menarik tangan Sela agar menghadap dirinya setelah itu presdir Axel memeluknya.


" Maaf kalau perkataan ku menyinggung perasaanmu," ucap presdir Axel untuk pertama dirinya meminta maaf


" Hiks... Hiks... Hiks..." isak Sela sambil membalas pelukan presdir Axel.


" Maaf." ucap presdir Axel sambil membelai punggung Sela.


Presdir Axel mencium kembali aroma wangi tubuh Sela yang sudah seminggu di tahannya untuk tidak memeluk tubuh Sela. Hingga beberapa saat presdir Axel melepaskan pelukannya kemudian menatap bibir Sela sedangkan Sela yang tahu presdir Axel akan mencium bibirnya membuat Sela memejamkan matanya karena mendapatkan respon presdir Axel memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Sela.


Cup


Ciuman singkat membuat presdir Axel menginginkan lagi kemudian presdir Axel mencium kembali bibir Sela dan Sela pun membalas ciuman presdir Axel untuk pertama kalinya hingga tanpa sadar presdir Axel memainkan salah satu gunung himalaya yang masih terbungkus kain. Tidak berapa lama Sela memukul pelan bahu presdir Axel karena dirinya kehabisan nafas membuat presdir Axel terpaksa melepaskan ciumannya.


Presdir Axel tidak ingin berhenti dirinya memberanikan dirinya untuk mencium leher mulus Sela sedangkan tangan kanannya yang hanya memainkan salah satu gunung himalaya yang berada di luar kini presdir Axel memberanikan diri memasukkan tangan kanannya ke dalam pakaian milik Sela dan memegang salah satu gunung kembar himalaya yang pas di tangannya.


" Sela, aku ingin merasakan itu, bolehkah?" tanya presdir Axel yang sudah terbakar gairah.


Sela memejamkan matanya karena tidak bisa dipungkiri dirinya juga menginginkannya tapi akal sehatnya jalan membuat Sela menarik tangan presdir Axel yang berada di dalam pakaian kemejanya.


" Maaf aku tidak bisa," jawab Sela


Presdir Axel memejamkan matanya untuk menenangkan tombak saktinya yang sudah menegang setelah agak berkurang sedikit presdir Axel melepaskan pelukannya kemudian pergi ke ruang pribadinya untuk mandi air dingin untuk menidurkan tombak saktinya sedangkan Sela meruntuki kebodohannya.


" Bodoh kamu Sela, kenapa kamu jadi wanita murahan?" ucap Sela memarahi dirinya sendiri.


Sela berjalan ke arah mejanya kemudian duduk di kursi sambil mengusap wajahnya.


" Aku sangat malu jika bertemu presdir Axel," ucap Sela


" Perutku jadi lapar lebih baik aku makan saja," Sambung Sela


Sela turun dari ranjang dan berjalan ke arah wastafel di mana berhadapan dengan kamar presdir Axel, ketika Sela mencuci tangan bertepatan pintu kamar presdir Axel terbuka membuat Sela membalikkan badannya dan tersenyum kemudian berjalan meninggalkan presdir Axel dengan wajah memerah menahan malu tapi presdir Axel memeluknya dari belakang.


" Maaf, aku tidak ada maksud untuk merendahkan dirimu tapi jujur aku sangat nyaman jika dekat denganmu," ucap presdir Axel yang sulit mengatakan aku cinta kamu.


" Aku juga minta maaf dan lupakan apa yang telah terjadi barusan," ucap Sela.


Entah kenapa ketika mengatakan hal itu hati Sela terasa sangat sakit sedangkan presdir Axel sangat kecewa dengan perkataan Sela tapi dirinya hanya diam tanpa komentar apapun.


" Maaf presdir Axel, aku sangat lapar," ucap Sela sambil melepaskan pelukan presdir Axel.


Presdir Axel melepaskan pelukannya kemudian mereka berjalan ke arah meja mereka masing - masing, mereka makan dalam diam tanpa ada yang bicara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka selesai makan dan minum.


Sela merapikan peralatan makanannya kemudian mengambil peralatan makanan yang di gunakan oleh presdir Axel dan membawanya ke wastafel untuk di cuci sedangkan presdir Axel mengusap wajahnya dengan kasar.


" Apakah aku salah mencintai wanita yang sudah beristri? Apa kata ke dua orang tuaku jika seandainya aku mencintai wanita yang sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak." ucap presdir Axel sambil menatap langit - langit atap ruang kerjanya.


Tidak berapa lama Sela datang kemudian mereka melanjutkan pekerjaan yang tertunda hingga tidak terasa mereka meeting bersama kliennya sesuai jadwal yang diberikan oleh Sela hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore.


" Kamu mandilah di ruangan pribadiku sambil membawa pakaianmu setelah itu baru gantian," ucap presdir Axel yang baru kali ini mengijinkan sekretarisnya menggunakan kamar pribadinya.