
"Ok, jawab mereka serempak.
Mereka pun membantu ipar - ipar mereka dan bantuannya sungguh berarti karena ternyata musuh tidak bisa di anggap sepele, Katarina dan Maya berulang kali menyerang dengan menggunakan selendang tapi musuh dengan mudah bisa menghindarinya.
Lima belas menit kemudian ke delapan wanita itu mulai terdesak karena kuatnya musuh dan di saat terdesak terdengar empat suara letusan tembakkan.
"Akhhhh..." teriak ke empat pria tersebut secara serempak.
Bruk
Bruk
Bruk
Bruk
Ke empat pria tersebut langsung ambruk dan meninggal di tempat membuat ke delapan wanita tersebut dengan serempak membalikkan badannya untuk mengetahui siapa yang menembak ke empat pria tersebut.
Mereka melihat Aleandro, Maximus, Nathan dan Mikael sedang menggenggam pistol sedangkan Fico, Yohanes, Aska dan Robert sedang mengemil snack sambil duduk dengan santai seperti melihat pertunjukan yang menarik.
"Kak Aleandro, kak Maximus, kak Nathan dan kak Mikael, kami lagi menikmati pertunjukkan silat malah di dor musuhnya kan langsung isdet," ucap Yohanes dengan wajah di tekuk.
"Iya nih, padahal ramai ya kak melihat mereka ciat - ciat seperti di film kungfu," sambung Aska sambil mempraktekkan Kungfu yang pernah ditontonnya.
"Awas encok nya kumat," ledek Robert dengan nada santai sambil memakan snack milik Yohanes.
"Hei adik lucnut ini snack ku jangan di makan kalau mau beli sana," ucap Yohanes sambil menutup snack nya agar tidak di makan oleh adik iparnya.
"Bagus kak, jangan di kasih adik lucnutnya," sambung Aska yang kesal dengan ucapan Robert.
"Dasar kakak pelit," ucap Robert.
"Sudah jangan ngambek ini punya kakak saja," ucap Fico sambil memberikan bungkus snack.
"Kak Fico memang kakak yang paling baik," ucap Robert sambil menerima bungkusan tersebut.
"Kok kosong sih kak?" tanya Robert.
"Kosong ya? kok bisa ya?" tanya Fico dengan wajah polos.
"Aish nyebelin," ucap Robert.
"Pffttt... hahahahaha..." tawa mereka serempak.
"Sudah jangan bercanda lagi, semua musuh sudah tidak ada lagi lebih baik kita pulang saja," ucap Aleandro setelah dirinya dan saudara - saudaranya berhenti tertawa.
"Ok," jawab mereka serempak.
Mereka pun pergi dari tempat tersebut begitu pula dengan yang lainnya namun tanpa sepengetahuan mereka seseorang menatap mereka dengan penuh kebencian dan dendam karena keluarganya di bantai tanpa sisa.
Seminggu Kemudian
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat dan tidak terasa Delon, Lemos, Sela bersama suaminya yang bernama Presdir Axel dan si bungsu Seli bersama suaminya yang bernama Presdir Albert. Mereka bersiap-siap berangkat ke acara reuni sekolah
"Sayang, semua sudah disiapkan?" Tanya Presdir Albert.
"Sudah semua tinggal berangkat." Jawab Seli.
"Ok." Jawab Presdir Albert sambil mendorong koper ukuran besar.
Mereka keluar dari kamarnya bersamaan kakak kembarnya yang bernama Sela dan suaminya Presdir Axel.
"Kita berangkat sekarang." Ajak Sela.
"Iya kak." Jawab Seli sambil memeluk kakak kembarnya dari arah samping begitu pula dengan Sela.
Mereka berjalan ke arah lift karena suami mereka mendorong koper ukuran besar. Singkat cerita kini mereka berada di ruang keluarga di mana ke dua orang tuanya menunggu kedatangan mereka.
Delon, Lemos, Sela, Presdir Axel, Seli dan Presdir Albert mencium punggung tangan Mommy Maya dan Daddy Nathan secara bergantian kemudian mereka pergi meninggalkan mansion tersebut.