Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Soraya dan Delisa


Delon dan Lemos dengan wajah polosnya menatap ke arah samping kanan dan kiri kemudian ke arah belakang secara serempak kemudian kembali menatap ke arah mereka.


"Kalian menyapa kami?" tanya Delon dan Lemos serempak sambil menunjuk ke dadanya masing - masing.


"Benar kak, memang siapa lagi," ucap gadis pertama sambil tersenyum.


"Boleh kita kenalan?" tanya gadis pertama.


"Tidak," jawab Delon dan Lemos dengan singkat dan padat serta serempak.


Tanpa menunggu jawaban ke dua gadis tersebut Delon dan Lemos berjalan meninggalkan ke dua gadis tersebut membuat ke dua gadis itu saling menatapnya dengan tatapan bingung.


"Sombong banget," ucap gadis pertama.


"Sudahlah lebih baik kita masuk ke dalam hotel tubuhku sangat lengket," ucap gadis ke dua sambil berjalan ke arah lobby hotel.


Delon dan Lemos mendengar ucapan gadis pertama karena pendengaran mereka sangat tajam jadi walau mereka berjalan agak jauh Delon dan Lemos masih bisa mendengar percakapan ke dua gadis tersebut tapi mereka tidak memperdulikannya asalkan tidak mengusik mereka dan keluarganya.


Tanpa sepengetahuan mereka dua pasang mata menatapnya dengan tatapan tajam kemudian masuk ke dalam lobby hotel untuk menginap di hotel tersebut.


Delon dan Lemos berkeliling menikmati suasana di kota tersebut tanpa memperdulikan tatapan lapar para gadis dan para wanita setelah lelah mereka kembali ke hotel untuk memesan makanan namun semua meja penuh hanya ada satu meja yang sudah di isi oleh dua gadis yang tadi ditemuinya yang menyisakan dua kursi.


"Kak Delon semua meja penuh dan hanya ada dua kursi kosong itu," ucap Lemos.


"Kita makan di luar saja," ucap Delon.


"Kakiku capek kak habis berkeliling," ucap Lemos.


"Ya sudahlah kita duduk di kursi itu toh inikan tempat umum jadi siapa saja boleh duduk," ucap Delon yang juga merasakan capek habis berkeliling bersama adik kembarnya.


"Boleh kami numpang duduk di sini?" tanya Lemos.


"Silahkan," jawab gadis ke dua.


"Tidak boleh," jawab gadis pertama secara bersamaan namun jawabannya berbeda satu dengan yang lainnya.


"Sudahlah Lemos kita makan di luar saja," ajak Delon yang kesal dengan gadis pertama.


"Silahkan makan di luar," ucap gadis pertama dengan cuek.


"Delisa sudah, malu di lihat orang," ucap temannya.


"Soraya kenapa sih tetap baik sama orang sombong seperti mereka," ucap Delisa sambil menatap Delon dengan kesal.


"Silahkan duduk kakak - kakak dan maafkan temanku," ucap Soraya tanpa memperdulikan ucapan sahabatnya.


"Tidak usah kita makan di restoran tempat lain," ucap Delon sambil menarik tangan adik kembarnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Soraya sudahlah jadi orang jangan terlalu baik," ucap Delisa.


"Lihat semua kursi penuh hanya dua kursi kita yang kosong, jadi ketika ada orang yang ingin duduk kenapa kita tidak mengijinkannya untuk duduk? Kan ini milik umum," ucap Soraya.


"Iya aku tahu tapi aku kesal dengan mereka berdua di ajak kenalan malah di tolak mentah - mentah di depan orang banyak kan jadi malu," ucap Delisa.


"Jadi ceritanya dendam nih." goda Soraya.


"Ya iyalah aku sangat dendam karena baru kali ini aku di tolak padahal kan aku hanya ngajak kenalan," ucap Delisa.


"Tidak baik menyimpan dendam, kalau kita diperlakukan seperti itu tentu kita kecewa dan marah," ucap Soraya.


"Aku mengerti kamu kesal di tolak di depan banyak orang tapi kan sifat orang berbeda - beda ada yang ramah dan membalas perkenalan kita dan ada juga yang menolaknya dengan tegas seperti ke dua pria tadi," sambung Soraya.


Soraya menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berfikir setelah beberapa saat Soraya tersenyum menatap sahabatnya.


"Sekarang begini jika ada dua preman berwajah sangar dan ingin mengajak kita kenalan apakah kamu mau menanggapi atau pergi meninggalkan ke dua preman tersebut?" tanya Soraya.


"Pergi meninggalkan ke dua preman tersebut," jawab Delisa.


"Berarti kita sombong dong seperti ke dua pria tadi," ucap Soraya.


"Tapikan kita bukan preman," ucap Delisa.


"Memang bukan, intinya kita jangan membalas apa yang telah mereka lakukan pada kita," ucap Soraya.


"Kita tetap berbuat baik dan jangan menyimpan dendam karena akan merusak hati kita jadi selama kita masih hidup tetaplah berbuat baik," sambung Soraya.


"Aku senang bersahabat denganmu karena berkatmu membuatku untuk selalu berbuat baik, aku akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Delisa.


"Aku juga senang bersahabat denganmu," jawab Soraya.


Tidak berapa lama pesanan mereka datang dan mereka pun berdoa terlebih dahulu kemudian mereka makan bersama dalam diam tanpa ada yang bicara sedikitpun.


Tanpa sepengetahuan Soraya dan Delisa kalau percakapan mereka di dengar oleh dua orang gadis dari kedatangan Lemos dan Delon sampai Soraya dan Delisa selesai mengobrol sambil tersenyum devil.


Di tempat yang sama Delon yang menarik tangan Lemos pergi ke restoran yang berada di sebrang, Delon memesan makanan yang agak banyak membuat Lemos menatap kakaknya dengan tatapan bingung.


"Kak Delon tidak salah pesan makanan sebanyak itu?" tanya Lemos penasaran.


"Tidak," jawab Delon singkat.


Hening


Hening


"Aku tahu kenapa kakak memesan makanan sebanyak itu," ucap Lemos tiba - tiba setelah beberapa saat mereka saling terdiam.


"Apa?" tanya Delon sambil menatap adik kembarnya.


"Pasti gara - gara Delisa makanya kakak memesan makanan sebanyak ini," tebak Lemos.


"Tidak juga, sudahlah kakak tidak mau membicarakan mereka," ucap Delon.


"Memang kenapa kak?" tanya Lemos kepo.


"Bikin tidak naf*u makan," jawab Delon.


Lemos hanya tersenyum melihat wajah kakak kembarnya yang terlihat dengan jelas wajah kesalnya terhadap Delisa karena baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya  dan tidak berapa lama pesanan mereka datang.


Mereka makan dalam diam hingga setengah jam kemudian makanan yang di meja habis tanpa sisa.


Mereka melanjutkan percakapannya hingga setengah jam kemudian mereka sudah selesai mengobrol dan mereka pergi dari restoran tersebut menuju ke arah hotel tempat mereka menginap.


Detik, menit dan jam berjalan dengan cepatnya dan tidak terasa acara reuni sudah mulai, Delon, Lemos, Sela, Presdir Axel, Seli dan Presdir Albert sudah berada di ruang pesta.


Delon dan Lemos tidak sengaja bertemu kembali dengan Soraya dan Delisa begitu pula sebaliknya namun Delon dan Lemos tidak memperdulikan keberadaan mereka hingga Lemos melihat seorang gadis yang dulu pernah ditolongnya sedang mengobrol dengan ke dua temannya.


"Kak Delon aku ingin ke arah sana," ucap Lemos sambil menunjuk ke arah gadis tersebut.


"Kamu kenal dengan mereka?" tanya Delon.


"Kenal sih tidak kak tapi waktu itu aku sempat menolongnya bersama paman Fico dan paman Aska ketika gadis tersebut bersama ke dua temannya di keroyok oleh para preman," jawab Lemos.