Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Daddy Alvonso dan Katarina


Katarina menghembuskan nafasnya dengan perlahan membuat wajah daddy Alvonso langsung pucat pasi kemudian berjalan ke arah ranjang di mana istrinya sedang berbaring. Daddy Alvonso melihat mommy Laras dan dokter Amelia, dokter Kasandra serta Jessica berbaring di ranjang dan semuanya memejamkan matanya.


"Kenapa mereka memejamkan mata semuanya? Bagaimana dengan istriku?" tanya daddy Alvonso sambil duduk di sisi ranjang mommy Laras.


"Mereka sangat lelah dan tidak bertenaga karena belum makan terlebih Jessica menyumbangkan satu kantung darah padahal perutnya belum di isi sama sekali," jawab Katarina.


"Tolong bawakan makanan buat mereka!!!" perintah daddy Alvonso.


"Baik paman," jawab Cantika, Claudia, Maya dan Aurora serempak kemudian meninggalkan kamar tersebut.


"Bisa tinggalkan kami, aku ingin bicara dengan opa," ucap Katarina dengan nada serius.


"Ok," jawab mereka serempak yang masih ada di ruangan itu.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut membuat perasaan daddy Alvonso tidak enak terlebih istri yang dicintainya sejak tadi hanya diam tidak bergerak terlebih posisi mommy Laras tengkurap dan wajahnya tidak menatap ke arah dirinya hal itu dilakukan agar suaminya tidak curiga dengan mommy Laras.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku?" tanya daddy Alvonso penasaran.


"Untungnya oma Laras bisa bertahan hanya saja lain kali opa jangan memberikan obat perang sang karena takutnya jika kejadian ini terulang lagi bisa membahayakan nyawa oma," ucap Katarina dengan wajah serius namun dalam hatinya ingin tertawa.


"Memang apa hubungan obat perang sang dengan kejadian ini?" tanya daddy Alvonso penasaran.


"Karena tubuh oma sudah tidak sekuat dulu waktu oma masih muda jika opa tetap melakukan itu dan tubuh oma menjadi lemah di tambah kejadian ini maka Katarina tidak bisa menjamin keselamatan oma," jawab Katarina dengan wajah masih sangat serius.


"Kamu serius?" tanya daddy Alvonso sambil mengusap rambut istrinya dengan lembut.


Hening


Hening


"Kalau opa sayang sama oma jangan lakukan itu atau Katarina mempunyai usul terserah opa bersedia atau tidak dengan usulan Katarina," ucap Katarina karena sejak tadi daddy Alvonso diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Usul apa?" tanya daddy Alvonso penasaran sambil menatap ke arah Katarina.


"Kalau opa ingin melakukan itu cari pengganti oma yang masih fresh," jawab Katarina jahil.


"Katarina!!!" bentak daddy Alvonso sambil menatap tajam ke arah Katarina.


"Maaf opa, Katarina kan hanya kasih usul kalau opa tidak suka jangan marah," ucap Katarina sambil mengusap dadanya berulang kali karena terkejut mendengar bentakan daddy Alvonso.


"Usulan mu tidak bagus, opa sangat setia dengan oma kalau memang itu bisa membahayakan oma maka lebih baik opa tidak akan melakukannya karena opa sangat mencintai oma," jawab daddy Alvonso.


"Maafkan daddy, daddy janji tidak akan melakukan itu lagi," ucap daddy Alvonso sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Oh ya kenapa kamu tidak datang bersama cucuku Mikael?" tanya daddy Alvonso.


"Maaf opa, kalau kami datang pasti kami kena juga sedangkan Katarina sudah tahu efeknya bisa bikin badan Katarina menjadi lemas seperti tidak bertulang," jawab Katarina.


"Apa lagi opa tahu sendiri kita tidak tahu siapa musuh kita seperti kejadian barusan, untung saja musuh itu hanya menembak coba kalau musuh itu menyerang hotel ini atau memberikan bom tentu para wanita yang sudah menikah tidak sempat melarikan diri karena tubuh mereka lemas karena semalam habis melakukan olah raga malam. Jika para pria menggendong istrinya masing - masing untuk menyelamatkan dari serangan bom tapi jika di serang lagi dengan tiba - tiba pasti para pria tidak sempat membalas dan otomatis opa akan tahu kelanjutannya. Maaf opa, Apakah opa pernah memikirkan hal ini?" tanya Katarina dengan nada sangat serius.