Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
97


Maira masih menangis didalam dekapan papa, sulit baginya untuk menerima kepergian mama. Fardhan baru saja datang usai mengantar mamanya kembali pulang, setelah semalam ikut dengan Fardhan menyambut jenazah di rumah.


Fardhan melihat Maira yang masih tergugu dalam tangisannya, bahkan rintihannya terdengar begitu perih menyayat hati. Fardhan tidak bisa membayangkannya. Azka menepuk pundak Fardhan dan menggiringnya untuk mendekat pada Maira.


Papa melihat Fardhan mendekat dan beraimpuh didepannya pun mulai mengurai pelukannya, papa sengaja melakukannya. Ya, papa tahu masalah yang sedang dihadapi oleh Maira dari Azka, tapi Azka tidak memberi tahu perihal penyakit Maira. Sedikitnya papa mengerti dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh anaknya, jadi papa akan membiarkan Maira bersama Fardhan untuk sementara.


Fardhan merengkuh tubuh Maira, Maira tidak sadar siapa yang kini merengkuhnya kedalam pelukan yang menghangatkan ini. Maira tidak memikirkan itu, ia terlalu tenggelam dalam rasa sedihnya.


" sabar sayang, kamu harus sabar. Semua sudah takdir Allah, kamu harus kuat. Sekarang mama sudah tenang dan tidak sakit lagi, sekarang yang mama butuhkan itu do'a dari kita sebagai seorang anak " kata Fardhan sambil mengelus punggung Maira yang masih menangis


Tak lama setelah kedatangan Maira, jenazah mama kembali ditutup kain kafan bagian wajahnya. Setelah selesai, jenazah kemudian di shalatkan di rumah ol3h anak dan keluarga dekat lainnya. Sementara warga masyarakat yang terus berdatangan juga sudah menunggu di mesjid sebagian. Setelah selesai, jenazah dibawa ke mesjid untuk kembali di shalatkan dan akan dimakamkan di pemakaman keluarga dekat dengan rumah. Ya, papa dan mama jauh sebelumnya telah membeli sebidang tanah yang di khususkan untuk makam keluarga.


Jenazah dibawa ke pemakaman diiringi oleh iringan para pelayat, sanak saudara serta anak dan suaminya. Maira masih di papah oleh Fardhan, sedangkan Nisa dipapah oleh Azka. Sedangkan papa ? papa mencoba menguatkan diri dengan apa yang kini dialaminya. Papa juga merasa sedih, sangat kehilangan. Mama adalah sosok istri yang luar biasa dimata papa, mama itu istri yang penurut, baik, tak banyak mengeluh, selalu banyak mengalah. Walaupun berumah tangga itu banyak sekali cobaannya, mama tidak pernah menuntut hal hal yang diluar batas. Mama itu orang yang bijaksana. Papa hanya berharap bisa bersatu k3mbali dengan mama di surga yang abadi kelak di akhirat sana.


Jenazah mulai diturunkan kedalam liang lahat, Maira dan Nisa menangis makin keras saja saat melihat jasad mama perlahan ditimbun oleh tanah. Bahkan Maira sempat meronta melarang orang orang agar tidak mengubur mamanya.


" istighfar Mai, istighfar sayang ! " kata Fardhan menenangkan


Pemakaman kini telah usai, semua berpamitan untuk pulang. Hanya menyisakan keluarga saja, Maira dusuk bersimpuh di pinggir papan yang bertuliskan nama Siti Halimah. Maira mengusapnya dan bersandar sambil menangis pilu.


" kenapa mama ninggalin Mai begini ma ? apa mama gak sayang lagi sama Mai ? maafkan Maira ma, mama jadi begini karena Maira. Kenapa gak Maira aja yang Engkau ambil ya Allah ? kenapa harus mama ? " isak Maira


" sudahlah sayang, jangan meratapinya. Sebaiknya kita pulang saja, sebentar lagi juga dzhuhur. Kita pulang ya, kita shalat dokan mama biar tenang disana " kata Fardhan


" Ayo Mai, kita pulang ! tidak baik seperti itu " kata Azka


" Mai, kita pulang ya ! kita istirahat di rumah, kamu masih harus banyak istirahat Mai ! " kata Zahra


Mau bagaimanapun orang membujuknya, tapi Maira masih tetap tak bergeming. Hal ini membuat Azka dan Zahra takut mengingat kondisinya yang belum pulih.


" bang, gimana ini ? Mai belum sarapan dari tadi pagi, bahkan obatnya pun belum diminum bang ! Ara takut kondisinya kembali menurun, kita harus bagaimana ?" bisil Zahra


" abang juga bingung Ra, kamu lihat sendiri kan tadi " jawab Azka


" Mai, kita pulang yuk ! apa kamu gak kasihan sama mama kalau kamu kayak gini ? inget loh Mai, bersedih itu boleh tapi tidak boleh meratap ! itu dosa Mai, kaĺau begini caranya kamu memberatkan mama disana. Mending sekarang kita pulang ya, kita istirahat. Kita do'akan mama, yang sekarang mama butuhkan hanya do'a kita Mai, mama gak butuh sedihnya kita. kita pulang ya " bujuk Aisyah


Akhirnya Aisyah berhasil mengajak Maira pulang. Aisyah kembali ke rumah duka bersama yang lain. Azka, Nisa, Maira, Zahra dan Fardhan masuk kedalam mobil yang sama. Azka duduk disamping Fardhan yang m3ngambil alih kemudi. Sedangkan ketiga perempuan duduk di kursi tengah. Pandangan Maira masih lurus dan kosong, entah apa yang sekarang ia fikirkan, yang jelas air matanya masih enggan berhenti juga.


Sesampainya di rumah, Maira langsung diantarkan ke kamar untuk istirahat oleh Zahra dan Aisyah. Keduanya menemani Maira dan mebujuknya agar mau mengisi perutnya walau hanya sesuap nasi saja. Tapi bujuk rayu apapun yang dilakukan Aisyah dan Zahra tidak mempan.


" aku juga bingung, bagaimana ini ? apa sebaiknya kita bilang aja ke suaminya atau sama abang aja ?" tanya Zahra


" coba sama abang dulu, siapa tahu berhasil " kata Aisyah


Zahra pun turun memanggil Azka dan menjelaskan kalau Maira tidak mau makan. Azka merasa khawatir dengan kondisi Maira pun mendatangi adiknya yang kini tengah berbaring dwngan tatapan kosong walaupun sudah tak ada air mata yang mengalir lagi.


" Mai, makan dulu ya ! Biar kamu kuat, kamu kan harus sehat. mau makan ya ? mau abang belikan apa ? atau mau di masakin sama kak Nisa ? " tanya Azka


" Mai gak lapar bang " jawab Maira lirih dengan suara seraknya


" Mai belum makan apapun dari pagi kata Zahra, masa gak lapar ? Mai gak kasihan sama papa ? Papa udah kehilangan mama, terus sekarang papa harus lihat Mai sakit ? apa Mai gak fikir kalau papa akan semakin sedih lihat kamu seprti ini ?" kata Azka


" nanti aja bang, Mai mau sendiri dulu. Tolong tinggalkan Mai sendiri " kata Maira pelan


" ya sudah, nanti abang kembali lagi bawa makanan ya ! " kata Azka dan Maira menganggukkan kepalanya


Aiayah, Zahra dan Azka meninggalkan Maira di kamar untuk istirahat. Biarlah sendiri dulu, siapa tahu bisa membuatnya lebih tenang. Azka menyuruh asisten rumah tangga untuk memasak makanan khusus untuk Maira. Para pelayat masih terus berdatangan, baik dari tetangga maupun dari relasi bisnis Fardhan ddan Azka. Tak ketinggalan juga karyawan kafe yang datang bergantian mengucapkan bela sungkawa.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


sorry dibikin lebay😁


Thank you readers..