Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
51


Setelah adzan maghrib, Fardhan baru sampai di rumah. Ia bergegas masuk kedalam ruang kerja dan kembali ke kamar tamu untuk membersihkan diri. Pagi tadi Fardhan membawa beberapa baju yang biasa di pakai olehnya ke kamar tamu. Selepas mandi dan berganti baju, Fardhan beristirahat sebentar di kamarnya untuk melepas lelah. Barulah selepas adzan isha Fardhan makan malam sendiri, karena bi Titin dan mang Jajang sudah makan terlebih dulu tadi oleh Fardhan.


Fardhan melihat kursi di sampingnya, biasanya Maira akan duduk dan makan bersama dalam satu piring. Mengingat moment tersebut, Fardhan hanya bisa menghela nafas kasar sambil memejamkan matanya. Ia jadi teringat apakah Maira sudah makan apa belum ? Tapi lagi lagi ego dan bujuk rayu setan membutakan hati dan fikiran Fardhan. Setelah makan Fardhan memilih untuk langsung istirahat saja.


Dering ponsel Maira berbunyi dengan nyaring, ia melihat ternyata panggilan dari mama.


πŸ“ž " hallo assalamualaikum ma " kata Maira


πŸ“ž " waalaikumsalaam sayang, bagaimana kabarmu ?" tanya mama


πŸ“ž " alhamdulillah baik ma, mama sama papa bagaimana kabarnya ?" tanya Maira


πŸ“ž " alhamdulillah kami juga sehat sayang, tapi papa ingat terus dari kemarin. Katanya papa mau ketemu sama kamu " kata mama


deg..


" apa mungkin papa sudah punya feeling dengan apa yang terjadi denganku ?"


batin Maira


πŸ“ž " insya Allah nanti Mai kesana ma, rencananya Mai akan kesana besok atau lusa ma. Tapi gak tahu sama mas Fardhan atau sendiri, soalnya mas Fardhan lagi sibuk banget ngurusin pekerjaan di kantor " kata Maira menutupi keadaan yang sebenarnya


πŸ“ž " oh gitu ya, mama sama papa tunggu ya. Nanti kalau mau kesini, kamu kabari mama dulu ya biar mama beliin makanan kesukaan kamu " kata mama


πŸ“ž " iya ma, nanti Mai kasih tahu dulu jadi apa enggaknya " kata Maira


πŸ“ž " ya sudah kalau begitu mama tutup dulu telfonnya ya ! bilangin salam sama suamimu dari mama dan papa. assalamualaikum " kata mama lalu memutus sambungan telfonnya


" waalaikumsalaam "


Maira terdiam sejenak mengingat rencananya untuk pergi ke Sumedang kemungkinan besar akan batal. Maira berniat akan pergi sendiri saja ke Sumedang, kemudian ia membereskan baju baju yang akan dibawanya nanti kedalam koper kecil.


Setelah membereskan pakaiannya, Maira kembali berbaring diatas kasur. Ia merasa kurang enak badan, mungkin terlalu lama berendam tadi saat maghrib tiba. Maira mencoba memejamkan matanya hingga ia tertidur.


***


Di rumah, Azka masih saja bermain main dengan Silmi walaupun sudah malam. Tapi anak kecil itu terus saja mengajaknya bermain. Nisa melihat Azka yang sudah lelah, Nisa berusaha untuk membujuk Silmi untuk tidur.


" sayang, kita bobo yuk ! ini kan sudah malam, besok Silmi ajak papa main sepuasnya ya. Kita bobo sambil mimi mau ?" tawar Nisa


" mimi cucu ? mau ma mau " jawab Silmi dengan semangat


" mas, aku tidurin Silmi dulu ya " kata Nisa


" iya, sayang " jawab Azka


Nisa membawa Silmi ke kamarnya yang ada di sebelah kamarnya dan Azka. Setelah Silmi tidur, Nisa pergi ke kamar dan melihat suaminya kini tengah duduk sambil memainkan ponsel pintarnya.


" mas " kata Nisa


" iya, ada apa ?" tanya Azka


" lagi apa ? serius amat sih !" kata Nisa


" gak ada, eh iya. Maira ada ngabarin kamu gak ?" tanya Azka


" ngabarin apa mas, ngehubungi aja enggak ! gak tahu kenapa tuh, biasanya sehari aja gak video call sama Silmi penasaran banget dia. Tapi dari kemarin gak ada ngehubungi mas, coba mas telfon " kata Nisa


" mas juga udah telfon berkali kali, tapi gak di angkat angkat. Udah pada tidur mungkin !" kata Azka


" iya juga sih, gak enak nelfon malam malam gini ! besok aja di coba lagi mas, eh tapi ada apa mas nanyain Maira tiba tiba ?" tanya Nisa


" tadi papa sama mama bilang katanya dia mau ke Sumedang, entah dengan Fardhan atau sendiri. Katanya Fardhan lagi sibuk banget dikantor, jadi kemungkinan besar gak bisa temani Mai kesana " kata Azka


" Mai mau pergi ke Sumedang kok gak bilang sama kita ya mas ? biasanya kan suka bilang kalau mau pergi !" kata Nisa heran


" entahlah, mungkin dia lupa ngabarin kita !" kata Azka


" ya udah, kita tidur aja mas. Lelah rasanya aku seharian ini Silmi gak mau berhenti main, ngajak jalan terus " keluh Nisa


" sabar sayang, semoga lelahmu menjadi Lillah " kata Azka lalu mengecup kening Nisa


" jangan lupa berdoa sayang ! selamat malam " kata Azka lalu memeluk Nisa


" iya mas, selamat malam juga suamiku " kata Nisa sambil membalas pelukan Azka


Keduanya tidur pulas karena merasa lelah. Untung saja malam ini Silmi tidak rewel dan tertidur pulas, biasanya Silmi akan menangis meminta susu saat tengah malam.


Pagi hari, Fardhan bangun lebih dulu dan langsung mandi. Kemudian ia menyiapkan pakaiannya sendiri. Sedangkan Maira, ia bangun dan langsung membersihkan dirinya walaupun berjalan sempoyongan. Tubuhnya terasa kurang fit, untuk berjalan saja terasa lemas.


Waktu sarapan tiba, seperti hari kemarin Fardhan duduk bertiga di meja makan tanpa Maira. Fardhan tidak pernah menanyakan bagaimana kabar Maira, apakah sudah makan atau belum pada bi Titin. Setelah sarapan Fardhan pergi ke kantornya, dan bi Titin untuk yang kedua kalinya mengetuk pintu kamar Maira.


tok.. tok.. tok..


" neng sarapan dulu, atau mau bibi bawakan kesini sarapannya ?" tanya bi Titin


ceklek, Maira membuka pintu kamarnya


" Mai boleh minta tolong gak sama bibi ?" tanya Maira


" boleh neng, minta tolong apa ?" kata bi Titin


" tolong belikan buburnya mang Ujang yang di perempatan jalan ya bi " kata Maira sambil memberikan uang


" kok makan bubur neng ? bibi kan sudah masak di bawah. Atau neng lagi sakit ? " tanya bi Titin


" enggak bi, Mai baik baik saja " jawab Maira sambil tersenyum


" ya sudah, bibibelikan dulu ya " kata bi Titin lalu pergi untuk membeli bubur


Maira mengusap dadanya merasa lega, untung saja tadi sempat mengoleskan lip cream tipis di bibirnya jadi tidak terlalu pucat saat ada yang memandangnya.


Lima belas menit kemudian bi Titin kembali dengan membawa satu porai bubur yang di pesan oleh Maira.


tok.. tok.. tok..


" neng, ini buburnya " kata bi Titin


ceklek, Maira membuka pintu kamarnya


" wah, terima kasih bi " kata Maira


" neng kenapa gak di meja makan aja makannya ?" tanya bibi


" Mai lagi males turun bi " jawab Maira


" ya sudah, bibi terusin beres beres ya " kata bibi


" iya bi, sekali lagi terima kasih ya " kata Maira


Bi Titin kembali ke bawah untuk membereskan meja makan dan dapur. Sedangkan Maira memakan buburnya di dalam kamar.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


terima kasiihπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»