
Di Kalimantan Fardhan sedang istirahat di hotel sebelum berangkat meeting bersama kliennya. Fardhan masih merenung didalam kamar, ia ingat dengan kejadian kemarin sebelum ia berangkat. Ia melihat Maira pulang dengan kondisi baju yang basah kuyup, ia menjadi khawatir dengan keadaan Maira saat ini.
Fardhan mencoba menghubungi Maira lewat sambungan telfon, tapi tidak di angkat. Sudah beberapa kali Fardhan menghubunginya tapi masih juga tidak diangkat. Akhirnya Fardhan menghubungi telfon rumah yang langsung di terima oleh bi Titin.
π " hallo assalamualaikum " ucap bi Titin
π " waalaikumsalaam. Bi ini Fardhan " kata Fardhan
π " oh iya den, ada apa ?" tanya bi Titin
π " bi, Maira sudah pulang belum ?" tanya Fardhan
π " neng Maira belum pulang den, sejak berangkat pagi tadi masih belum kembali den ! ada apa den ?" tanya bi Titin
π " kok belum pulang bi ? ini kan udah sore, lagian dia kemana ?" tanya Fardhan
π " katanya tadi mau pergi ke nikahan sahabatnya den, gak lama setelah aden berangkat si neng juga langsung pergi " jawab bi Titin
π " nikahan sahabatnya ?" tanya Fardhan
π " iya den " jawab bi Titin
π " ya ampun bi, aku lupa kalau Aisyah nikah hari ini " kata Fardhan sambil menepuk keningnya
π " ya sudah bi, Fardhan tutup telfonnya ya. Bibi hati hati di rumah sama yang lainnya, kalau ada apa apa langsung hubungi Fardhan ya " kata Fardhan
π " iya den " jawab bi Titin
Fardhan mengakhiri sambungan telfonnya. Saat ini ia sedang bersiap untuk pergi meeting bersama Shandy. Tak lama kemudian Fardhan dan Shandy pergi meninggalkan hotel.
Sore pukul lima, Maira baru tiba di rumahnya. Bi Titin langsung menghampiri Maira.
" maaf neng, tadi den Fardhan telfon ke rumah nanyain neng " kata bi Titin
" nanyain apa bi ?" tanya Maira
" nanyain neng ada di rumah apa enggak ? ya bibi jawab jujur aja kalau neng pergi ke acara nikahan sahabat neng, seperti kata neng tadi pagi " jawab bi Titin
" iya, gak apa bi. Tadi ponsel aku low bat jadi gak tahu ada yang nelfon atau enggaknya " kata Maira
" ya udah neng, bibi ke dapur lagi ya " pamit bi Titin
" iya bi " jawab Maira
Bi Titin pergi kembali ke dapur dan Maira pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat. Setelah selesai membersihkan diri, Maira duduk berselonjor di atas kasurnya dengan punggung bersandar. Dering ponsel memecah lamunannya, ternyata telfon dari mama.
π " hallo assalamualaikum ma " ucap Maira
π " waalaikumsalaam sayang, bagaimana kabarmu ?" tanya mama
π " alhamdulillah baik ma, kabar mama sama papa bagaimana disana ?" tanya Maira
π " alhamdulillah baik nak. kamu lagi apa Mai ?" tanya mama
π " lagi duduk aja ma di kamar. Oh iya, tadi pagi Aisyah nikah ma. Nanti mama sama papa diundang saat resepsinya, mama sama papa datang ya !" kata Maira
π " iya, nanti mama sama papa usahakan datang ya. Tadinya mama juga mau datang sama papa, tapi papa lagi kurang enak badan " kata mama
π " loh, kenapa lagi ma ?" tanya Maira khawatir
π " bilangin sama papa, jangan terlalu lelah beraktifitas. Papa harus jaga kondisi biar sehat, mama juga ya " kata Maira
π " iya sayang " jawab mama
Maira dan mama terus ngobrol hingga suara adzan di mesjid menghentikan obrolan keduanya dan mama langsung memutus sambungan telfonnya. Mama kemudian menyimpan ponselnya kembali diatas nakas.
" Maira titip salam buat papa, juga amanat katanya papa jangan terlalu lelah biar cepat sehat " kata mama
" iya ma, tapi kan kalau gak gitu papa bosen di rumah terus ma " jawab papa beralasan
" udah ah, males mama kalau ngobrol sama papa selalu saja ujung ujungnya debat gak beres beres " kata mama lalu pergi ke kamar mandi
Sedangkan Maira di rumahnya kini sedang melaksanakan shalat maghrib sendiri di kamar. Setelah selesai shalat, ia duduk di balkon kamarnya menatap langit penuh bintang. Tak ada satu kata pun yang ia ucapkan, ia hanya diam menengadahkan wajahnya yang mulai meneteskan air mata.
ya Allah, berjuta bintang berkelipan diatas langitmu yang sangat luas. Bulan menerangi gelapnya malam yang gulita, menggantikan matahari yang menerangi siang. ya Allah tak akan henti hentinya hamba memohon dan berdoa kepada Mu, berikanlah hamba dan suami hamba keturunan yang sholeh dan sholehah. Berikanlah hamba dan suami hamba kemudahan untuk mendapatkan keturunan, hamba mohon ya Allah. Hanya Kaulah satu satunya tempat hamba meminta dan mengadu, tiada yang dapat menandingi Kuasa Mu ya Rabb, Wahai Dzat yang Menguasai segala alam.
doa Maira
Sedangkan di rumah Aisyah, kini Aisyah telah selesai shalat berjamaah bersama Arfan. Ini adalah kali pertama Aisyah shalat berdua bersama Arfan. Baik Aisyah maupun Arfan keduanya sama sama masih malu malu, belum terbiasa dengan kondisi baru yang kini mereka jalani.
Selepas shalat, Aisyah nampak ragu saat akan membuka mukena yang di pakainya. Ia merasa malu karena untuk pertama kalinya ia tidak mengenakan kerudung di hadapan laki laki selain ayahnya. Arfan melihat keraguan itu, lantas ia berdiri dan berjalan mendekat pada Aisyah.
" kenapa ? apa kamu malu ?" tanya Arfan, Sesangkan Aisyah hanya menundukkan kepalanya
" bukalah, tidak perlu malu ataupun ragu. Aku suamimu, aku makhrammu saat ini. Jadi tidak akan berdosa kalaupun kamu tidak memakai kerudung " tambah Arfan lalu perlaham membuka mukena yang masih dikenakan Aisyah
" maasya Allah, sungguh cantik " kata Arfan
" terima kasih mas " jawab Aisyah tersenyum masih menunduk malu
cup
Satu kecupan mendarat di kening Aisyah membuatnya langsung mendongak menatap Arfan.
" kamu cantik sekali sayang " puji Arfan
Mendengar panggilan "sayang" dari Arfan semakin membuatnya malu bercampur bahagia.
" pakailah kerudungmu, kita turun ke bawah kumpul bersama yang lain. Mas tidak mau keindahan ini dinikmati orang lain " kata Arfan sambil memberikan kerudung yang di pegangnya
Setelah memakai kerudung yang tadi diberikan oleh Arfan, Arfan dan Aisyah bergabung bersama keluarga yang masih ada di rumah Aisyah, termasuk mama dan papa Arfan juga. Setelah semuanya berkumpul, kemudian bunda dan mama Arfan membantu menyiapkan makan malam dan mereka makan malam bersama.
Setelah makan malam, mama dan papa Arfan pamit pulang. Sedangkan ayah dan bunda masih berbincang di ruang keluarga bersama Arfan dan Aisyah. Setelah mendengar adzan isha, ayah dan bunda langsung pergi ke kamar untuk shalat begitupun dengan Aisyah dan Arfan.
.
.
.
.
.
TBC