
Setelah dua malam diopname di rumah sakit, akhirnya kini kondisi Maira sudah membaik bahkan sudah diizinkan pulang. Azka dan Nisa ikut serta menjemput Maira, awalnya Azka sangat khawatir saat mendengar Maira dirawat di rumah sakit. Hal itu mengingatkannya akan kondisi Maira saat sakit kanker, dan itu cukup membuatnya merasa takut.
Tapi akhirnya rasa khawatir itu kini perlahan memudar, saat mendengar berita jika Maira diizinkan untuk pulang pagi ini. Hal ini membuat Nisa juga ingin ikut untuk menjemput adik iparnya untuk pulang kerumahnya. Usai berkemas membereskan baju bajunya dan sang istri, Fardhan segera beraiap untuk pulang.
Maira sudah tersenyum senang saat mendengar ia diperbolehkan pulang, pasalnya semenjak ia masuk rumah sakit, ia selalu saja merengek pada Fardhan ingin pulang ke rumah. Maira tidak betah, masuk kerumah sakit seolah menjadi mimpi buruk baginya karena mengingatkannya dengan kejadian setahun lalu saat ia dirawat dirumah sakit.
Setelah selang infusnya dicabut oleh suster, Maira segera mengajak Azka, Nisa dan juga suaminya pulang. Ia sudah tidak sabar untuk kembali ke rumah, ia ingin istirahat juga dirumah rasanya lebih nyaman dan tenang katanya.
" ayo kita pulang mas " rengek Maira sambil bergelayut manja pada suaminya
" iya, tunggu dulu disini sebentar ya ! mas mau ambil mobil dulu, sekalian nunggu abang kembali nebus obatnya " kata Fardhan
Akhirnya Maira menunggu dengan Nisa diloby rumah sakit, tak lama kemudian Azka datang dengan membawa kantong plastik berisi obat obatan yang harus Maira konsumsi.
" nih obatnya, jangan lupa diminum nanti biar cepat sembuh " kata Azka sambil menyodorkan kantong plastik pada Maira
" ck, bosen deh minum obat terus. Lama lama tubuhku isinya kimia semua, untung gak jadi pabrik obat juga " keluh Maira
" jangan begitu, itu juga untuk kesembuhanmu juga " sambar Azka
" iya Mai, ini kan salah satu bentuk ikhtiar untuk kesembuhanmu juga " kata Nisa sambil mengelus pundak Maira
Azka keluar untuk mengambil mobilnya yang ada diparkiran, sedangkan Fardhan kini sudah berada didepan pintu loby untuk menemui Maira. Setelah menemui Maira dan menunggu Azka, akhirnya Fardhan bersama Maira dan Azka bersama Nisa pulang beriringan.
Sesampainya dirumah, Maira disuruh untuk langsung beristirahat dikamarnya. Tapi ia menolak, ia ingin ngobrol bersama abang dan kakak iparnya. Biasanya ia ingin bermanja dengan mamanya, tapi berhubung mama sudah meninggal maka ia akan bermanja pada kakak dan abangnya saja. Karena bermanja dengan Fardhan itu sudah biasa baginya.
Azka dan Nisa tidak bisa berlama lama dirumah Fardhan juga Maira. Keduanya izin untuk urusan penting, karena kabar Maira yang masuk rumah sakit tidak diberi tahukan pada papanya. Azka dan Fardhan takut kondisi papa akan menurun saat mendengar Maira kembali dirawat. Jadi kondisi Maira disembunyikan oleh Azka dan Nisa juga dari papa.
" Dhan, abang gak bisa lama disini. Jadi kita harus segera pulang, takutnya nanti papa curiga " kata Azka
" iya bang, kita juga ngerti. Jangan sampai papa curiga, kita takut papa drop " sambung Fardhan
" makanya, ini kita gak bisa lama. nanti kapan kapan kita main kesini deh, ajakin papa sekalian Silmi pas libur sekolah " kata Nisa.
Setelah berpamitan, Azka dan Nisa pergi meninggalkan rumah Fardhan. Rencananya Nisa dan Azka akan mampir ke pasar sebentar untuk membeli kebutuhan dapur.
" mas, nanti kita mampir dulu ke pasar ya ! Sekalian kita belanja kebutuhan udah pada habis " kata Nisa
Azka mendampingi Nisa berbelanja kebutuhan dapur, ia setia menggenggam tangan istrinya. Nisa benar benar memanfaatkan situasi saat ini, ia membeli bermacam macam sayuran, daging dan ikan termasuk bumbu bumbunya iuga dengan lengkap.
" apalagi ya mas ?" tanya Nisa
" mas mau cumi dong " jawab Azka
Nisa pun menuruti keinginan suaminya untuk membeli cumi segar, karena ia tadi hanya membeli ikan kembung, udang dan kakap saja. Selagi Nisa membeli cumi, Azka memilih jajanan yang tempatnya tak jauh dari tempat penjual Ikan.
Setelah selesai berbelanja, Azka langsung mengajak Nisa untuk pulang ke rumah. Ia yakin kalau Silmi sudah mulai mencarinya. Tadi ia pamit pada Silmi akan keluar sebentar saja.
" mas, kita gak beli buah buahan dulu ?" tanya Nisa
" tadi mas sudah suruh bibi untuk membelinya, bahkan nambah dari jumlah biasa. Tahu sendiri kan, sekarang kamu lebih banyak makan buah ditambah lagi Eilmi yang ikut ikutan kamu " kata Azka sambil fokus pada kemudinya
" sukurlah kalau begitu " ucap Nisa lega
Benar saja, sesampainya dirumah Nisa dan Azka diserang banyak pertanyaan oleh Silmi. Hal ini tidak membuat Nisa atau Azka marah, malah keduanya merasa lucu dengan tingkah anak ini. Rasa ingin tahunya kian besar, kadang membuat Azka atau Bisa kerepotan untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya itu.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
Segini dulu ya😁