Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
67.


Dua hari sudah Fardhan dan Maira di Palembang, hari ini keduanya harus kembali ke Jakarta karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan. Rupanya Maira dan Fardhan masih belum berbaikan, hanya berbicara seperlunya saja. Saat telah tiba di rumah pun juga masih begitu, keduanya enggan untuk memulai berbicara terlebih dahulu. Siang berganti malam, bulan dan bintang yang biasa menyinari saat malam hari kini tak muncul, digantikan dengan hujan deras yang mengguyur ibu kota.


Maira kini tengah berada di kamar mandi, dia menangis dibawah guyuran air shower yang menyirami tubuhnya. Maira menumpahkan segala sesak didadanya, ingin mengungkapkannya tapi pada siapa ? ingin marah juga pada siapa ?


Setelah selesai menumpahkan tangisnya, Maira kembali ke tempat tidur setelah memakai baju tidurnya. Ia terlelap dengan posisi menghadap ke jendela, memunggungi tempat dimana Fardhan biasa tertidur. Fardhan baru masuk kedalam kamar pada pukul sepuluh usai menyiapkan materi untuk meeting besok. Ia melihat Maira tidur menghadap jendela, Fardhan hanya bisa menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Sudah cukup ia bersabar dengan sikap Maira belakangan ini. Sebenarnya Fardhan juga tahu apa yang di rasakan Maira, dia juga sama. Hanya saja Fardhan masih bisa menyembunyikan itu semua dari orang orang.


beberapa vulan belakangan ini Maira jadi lebih sensitif, masalah kecil dan sepele bisa menjadi serius dimatanya. Ah, entahlah apa yang ada di fikiran Maira saat ini.


Malam telah berlalu dan berganti pagi. Pagi ini tidak secerah hari kemarin, hari ini mendung bahkan mulai turun hujan rintik rintik. Setelah sarapan Fardhan pamit pergi ke kantor, dan Maira sudah meminta izin untuk bertemu Aisyah di kafe.


" mas berangkat dulu, hati hati kalau kamu mau keluar rumah " kata Fardhan


" iya mas, mas juga hati hati " jawab Maira sambil mencium tanhan Fardhan


Setelah melihat mobil Fardhan tak terlihat lagi di pandangannya, Maira masuk kembali kedalam rumah. Maira akan bersantai sebentar sebelum pergi ke kafe bersama Aisyah. Siang hati Maira pergi bersama Aisyah, keduanya berjanjian untuk memakai motor matic saja supaya bisa lebih santai. Maira dan Aisyah pergi ke kafe keduanya, yang tidak terlalu jauh dari rumah yang ditempati Azka sekarang.


Sesampainya di kefe, Maira dan Aisyah langsung naik ke ruangan atas dimana ruang kerja berada. sama seperti kafe yang pertama, satu ruangan yang besar dengan dua meja kerja, satu set sofa, satu kamar berisikan lemari, kasur king size, kamar mandi dan satu buah kulkas for table di dalamnya.


" Syah bagaimana kalau dibawah sana kita buat taman bermain untuk anak sebagian, dan sebagian lagi kita buat tempat makan lesehan dan kolam ikan hias. Bagaimana menurutmu ?" tanya Maira


" bagus juga tuh Mai ! tapi untuk sementara kita planning dulu aja Mai, biar kita persiapan dengan dana yang bakalan di gunakan nanti " jawab Aisyah


" iya, nanti aja. ini kan baru ide Syah, nanti untuk waktunya kita tentukan lagi. Semuanya harus direncanakan dengan matang ! " kata Maira


" iya Mai, aku setuju " kata Aisyah


Keduanya kemudian duduk di sofa, terdiam sibuk dengan fikirannya masing masing.


" Syah, aku istirahat dulu ya ! nanti kalau ada apa apa bangunin aja ya " kata Maira


" iya Mai " jawab Aisyah


Maira pergi ke kamar, ia pergi ke toilet untuk buang air kecil dan membasuh wajahnya kemudian kembali ke ranjang.


" kenapa kepalaku pusing lagi ? " gumam Maira sambil memegangi kepalanya


Perlahan darah keluar dari hidungnya, Maira buru buru membersihkannya dengan tissue. Ia berbaring kembali dan memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Pukul dua siang Maira turun dari ruangannya meninggalkan Aisyah, rencananya ia akan mengontrol dapur dan stok bahan yang ada.


Sesampainya di lantai bawah, Maira melihat Fardhan tengah duduk bersama seorang wanita di meja pojok. Maira melihat dengan jelas, Fardhan mengobrol dengan wanita itu sambil tangan Fardham di genggam oleh wanita yang bersamanya. Maira mencoba menghubungi Fardhan dengan mengirimkannya pesan.


✉ Maira💕


Mas, kamu lagi apa ?


Sibuk nggak ?


✉Mas Fardhan


lumayanlah, pekerjaan lagi banyak !


emangnya ada apa ?


✉Maira💕


enggak jadi ah..


kasihan kalau mas lagi sibuk


✉ Mas Fardhan


gak apa, katakan saja !


kalau mau sesuatu nanti biar mas carikan !


✉ Maira💕


enggak jadi mas.


eh iya, mas sekarang lagi sama Shandy ya ?


✉ Mas Fardhan


enggak, mas lagi sendiri.


Emangnya kenapa ?


✉ Maira💕


✉ Mas Fardhan


ohh..


ya udah mas kerja lagi ya !


Maira dan Fardhan saling berkirim pesan, pedahal sekarang posisi keduanya berada dalam satu ruangan. Hanya saja Fardhan tengah duduk bersama seorang wanita berambut panjang. Maira mengurungkan kembali niatnya untuk ke dapur, ia kembali ke ruangannya dan langsung masuk kedalam kamar.


Aisyah melihat perbedaan di raut wajah Maira, ia berusaha menyusul Maira ke dalam kamar. Tapi sayangnya pintu kamar dikunci dari dalam.


" Mai, kamu kenapa ?" tanya Aisyah


" gak apa apa Syah, aku mau istirahat aja. Jangan ganggu ya !" teriak Maira dari dalam


" beneran gak apa apa ? kalau ada masalah kamu bilang aja Mai, jangan di pendam sendiri " kata Aisyah di balik pintu


" beneran Syah, aku gak apa apa kok !" jawab Maira


Akhirnua Aisyah menjauh dari pintu dan duduk kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa laporan, karena besok ia harus cuti. Dan sementara yang memegang kendali kafe adalah Maira.


Saat ini Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, Aisyah juga sudah menyelesaikan laporannya dan bersiap untuk pulang.


tok.. tok.. tok..


" Mai, ayo kita pulang ! keburu suamimu pulang duluan ke rumah " ajak Aisyah


" Mai " panggil Aisyah sambil mengetuk ngetuk pintu tapi masih belum ada jawaban dari dalam


" Mai " panggil Aisyah mengetuk pintu dengan keras


" ada apa Syah ?" tanya Maira membuka pintu


" kenapa gak nyahut sih kalau di panggil ? aku udah panik tahu, takutnya kamu kenapa napa didalam " kata Aisyah


" aku habis dari kamar mandi Syah ! emang ada apa sih ?" tanya Maira


" ayo pulang ! kamu bilang kan harus pulang sebelum suami kamu pulang !" kata Aisyah


" ph itu, gak apa Syah aku susah bilang juga. Kamu pulang duluan aja Syah, aku mau mampir dulu ke tempat lain mau beli sesuatu " kata Maira


" gak ah, bareng aja " kata Aisyah


" Syah, kamu itu besok mau nikah ! Jadi harus istirahat yang cukup, biar lebih fresh. Lagian tadi bunda chat aku, katanya dia udah nyuruh sopir jemput kamu di kafe. Pasti sekarang sopir yang jemput kamu udah sampai di kafe " kata Maira


" beneran nih, gak mau bareng aja ?" tanya Aisyah meyakinkan


" iya Syah, kamu tenang aja " kata Maira tersenyum


" ya udah, aku duluan ya. Assalamualaikum " ucap Aisyah


" waalaikumsalaam " jaeab Maira


Seperginya Aisyah, Maira duduk kembali di kasur dan memejamkan matanya. Maira berharap apa yang di lihatnya tadi siang adalah mimpi, atau ia hanya salah faham saja. Kalau memang Fardhan mencintai Maira sepenuh hati, lalu kenapa ia harus berduaan dengan seorang wanita. Dan saat di tanyakan ia pun berbohong, apa alasannya ? apa maksudnya ia melakukan semua ini ? batin Maira berkecamuk.


Hatinya bergejolak menahan amarah, sedih, sakit rasanya. Maira melajukan motornya ke danau yang tidak jauh dari kafe. Ia duduk di bangku kosong sendirian, memikirkan nasib rumah tangganya yang kini mulai dibubuhi oleh kebohongan dan entah apakah masih ada kebohongan lain atau tidak.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading..