
siang hari ditengah cuaca yang tidak menentu, terkadang panas terik kadang juga hujan. Saat itu Zahra sedang memakan makan siangnya di dalam ruangan Maira, sedangkan Azka ia menunggu di luar ruangan. Tak lama terdengar suara seorang wanita dan seorang pria yang suaranya hampir Zahra lupakan. Ya, suara itu adalah suara papa Salman.Papa datang bersama Nisa, sedangkan untuk Silmi bersama neneknya (mama Nisa).
" assalamualaikum " ucap Nisa dan papa
" waalaikumsalaam " jawab Azka langsung memeluk papa
Azka memeluk papa dengan erat, ia menumpahkan segala kegundahan, kegelisahan dan semua beban yang ia pikul di pundak sang papa dengan tangis berharap itu akan membuat hatinya sedikit lega.
" sudahlah, semua sudah menjadi suratan takdir kita ! apapun yang terjadi kedepannya baik atau buruknya itu semua sudah ketentuan hidup kita, kita harus ikhlas menerima semuanya walaupun berat " kata papa sambil menepuk pundak Azka
"sekarang bagaimana dengan kondisi mama ?" tanya papa menatap manik mata coklat pekat milik Azka
" kondisinya masih tetap sama pa, dokter hanya meminta kita untuk berdoa dan bersabar. Azka juga sudah mengajukan kalau sebaiknya mama dibawa berobat di luar negeri saja, tapi kondisi mama belum memungkinkan untuk kita membawanya pergi " jawab Azka
" papa ingin menemui mama dulu " kata papa lalu meninggalkan Azka dan Nisa
Tersisalah Azka dan Nisa di luar ruangan, Nisa menatap suaminya yang nampak berantakan. Wajahnya menyiratkan kalau ia kurang tidur, mata yang berkantung.
" mas, Nisa bawakan baju dan makanan. Mas makan dulu ya, baru setelah itu mas mandi " kata Nisa sambil mengusap punggung suaminya
" mas sudah makan tadi ! bagaimana Silmi ?" tanya Azka
" Silmi baik baik saja, dia sekarang bersama ibu di rumah. Kita harus kuat mas, jangan putus berdoa semoga Allah segera menyembuhkan mama " kata Nisa
" ya, mas harap juga begitu " kata Azka
" maaf ya, semenjak mama hilang aku hanya beberapa kali pulang ke rumah. Bukan aku tidak mengkhawatirkan atau memperdulikan kalian, tapi aku ingin fokus pada satu masalah terlebih dahulu agar bisa segera selesai. Aku harap kamu mengerti " kata Azka menatap Nisa dengan rasa bersalah.
" mas tenang saja, aku mengerti kok ! jika posisi kita dibalik, aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu mas. Jadi mas jangan khawatir tapi untuk sekarang Nisa harap mas pulang dulu ya, mas harus istirahat ! biar disini Nisa yang menjaga mama " kata Nisa
" ya, mas juga maunya begitu tapi mas selalu tidak tenang jika meninggalkan mama " kata Azka
" mas harus pulang, harus istirahat. Coba sekarang mas pergi ke kamar mandi, mas lihat diri mas di depan cermin. Mas jangan hanya memikirkan mama, tubuh mas juga berhak mendapatkan haknya untyk istirahat mas. Jangan sampai nanyi kondisi mama membaik dan malah mas jadi sakit " tutur Nisa dengan lembut
" pulang ya, setidaknya hanya sampai maghrib saja biarkan Nisa yang disini. Nanti mas kembali lagi setelah shalat maghrib " bujuk Nisa
" ya, baiklah ! nanti mas akan pulang bersama papa " jawab Azka
Akhirnya Azka menyetujui untuk pulang walau hanya sebentar saja, ia sadar kalau ia juga butuh istirahat supaya tidak tumbang. Ia juga sudah sangat merindukan Silmi, semenjak mama menghilang Azka jadi jarang untuk mertemu dengan Silmi.
Papa keluar dari ruang rawat mama sambil mengusap airmatanya, membuat Azka dan Nisa semakin sedih. Disaat usia senja berharap ketenangan untuk selalu bersama mengukir cerita indah, tapi kini malah cerita yang menyakitkan yang dirasakan.
" aku masuk dulu ya " kata Nisa pada Azka
Nisa bergegas masuk kwdalam ruang rawat mama mertuanya, sedangkan papa duduk disamping Azka.
" apa yang terjadi sebenarnya ? kenapa bisa begini ?" tanya papa
" mama diculik, dan ditemukan te4gwletak dipinggir jalan tak sadarkan diri dengan luka dikepalanya. Begitu sampai di rumah sakit dokter memerintahkan untuk segera dioperasi karena ada pembekuan darah di otak mama. Awalnya kondisi mama membaik, tapi setelah dipindahkan kesini kondisi mama terus menurun sampai sekarang " jawab Azka
" ya Allah " gumam papa yang masih bisa didengar oleh papa
" maafkan Azka pa, Azka merahasiakan kondisi mama dari papa. Azka yang mencegah Nisa agar tidak memberi tahu papa, karena Azka takut kesehatan papa juga akan menurun. Maafkan Azka pa " kata Azka sambil menundukkan kepalanya
" papa mengerti kekhawatiranmu. Papa juga ikhlas dengan semua yang terjadi, kita sudah mengusahakan yang terbaik tapi Allah belum memberikan hasilnya juga. Mungkin Allah ingin usaha kita lebih keras lagi untuk kesembuhan mama " kata papa
ceklek
" pa, papq pulang sama mas Azka ya ! biar Nisa yang disini menunggu mama. Nanti setelah maghrib Nisa pulang " kata Nisa pada papa
" iya, kamu baik baik disini ya " kata papa
ceklek
Pintu ruangan sebelah pun terbuka, disana Zahra keluar. Ia ingin menemui papanya Maira.
" assalamualaikum om " sapa Zahra dengan senyum manisnya
" waalaikumsalaam " jawab papa Salman
Papa memandangi wajah Zahra dengan lama, papa mencoba mengingat ngingat dan menggali memorinya yang lama.
" rasanya saya kenal dengan wajah ini, tapi saya lupa " kata papa Salman
" iya, om pasti lupa karena kita sudah lama tidak bertemu. Ini Zahra om, temannya Maira saat kecil dulu sebelum pindah keluar kota " jawab Zahra tersenyum
" Zahra ?" tanya papa
" iya pa, dia Zahra atqu Ara yang dulu rumahnya disamping rumah kita " sela Azka
" oooh, Ara ! iya, om ingat. Maaf om tidak mengelimu tadi, jujur saja om pangling denganmu yang kini sudah besar. oh iya, kamu sedang apa disini ? " tanya papa
" kebetulan teman Ara dirawat disini, jadi Ara sedang menemaninya " jawab Zahra setelah melihat Azka memberikan kode
" oh iya, Ara kenalkan ini Nisa istrinya abang " kata Azka mengenalkan Nisa
" assalamualaikum kak Nisa ! salam kenal ya " kata Zahra sambil mengulurkan tangan
" waalaikumsalaam, salam kenal juga Zahra " jawab Nisa sambil membalas uluran tangan Zahra
" oh iya, ngomong ngomong temanmu itu sakit apa ? dan dimana keluarganya ?" tanya papa Salman
" dia sakit kanker, sekarang keluarganya masih diluar kota om. Mungkin besok akan datang " jawab Zahra dengan tenang
Jawaban Zahra membuat Azka menghela nafas kasar, ia takut Zahra keceplosan saat menjawab pertanyaan papa. Tapi ternyata Zahra bisa menjawabnya dengan tenang. Tanpa Azka tahu kalau Zahra juga merasa gugup bahkan sangat gugup saat papa Salman menanyakan hal itu. Tapi apa yang diperkirakan oleh Zahra benar, tapi ia bersyukur karena ia berhasil mendapatkan alasan yang tepat.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊