Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
9


Keesokan harinya....


Pagi ini Maira tengah bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasa, walaupun mama dan yang lainnya melarangnya untuk masuk bekerja hari ini dengan alasan kondisinya yang masih belum pulih sepenuhnya. Tapi Maira tidak ingin berdiam diri di rumah, menurutnya hal itu sangatlah membosankan.


" pagi semuanya !" sapa Maira saat sampai di meja makan


" pagi " jawab semua serempak


" loh, kamu mau kemana udah rapi begini ?" tanya bang Azka


" kerja dong !" jawab Maira sambil mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat


" kamu yakin ? kondisimu masih belum pulih Mai !" kata papa


" Mai udah gak apa apa kok pa, gak usah khawatir ! lagian di rumah terus Mai bosen gak ada kerjaan !" jawab Maira


" oh iya Mai, kapan kamu mau turun langsung bantuin abang kamu ?" tanya papa


" Mai masih harus banyak belajar pa, Mai masih belum bisa mengemban tugas sebesar itu. Makanya sekarang Mai mau belajar dulu bekerja di perusahaan orang, nanti kalau Mai sudah siap Mai bakal bilang kok sama pap !" jawab Maira dengan tenang


" huh, selalu saja itu jawabannya !" kata Azka sambil menghela nafas


" kalau Mai masuk langsung ke perusahaan papa pasti bakal dapat perlakuan istimewa, Mai mau semuanya bermula dari bawah. Mai mau proses belajar Mai berjalan normal seperti yang lainnya, Mai tidak mau mendapat perlakuan istimewa. Mai mau merasakan bagaimana rasanya menjadi karyawan biasa, tanpa embel embel pasilitas dan kekuasaan papa ! Mai harap papa dan bang Azka mengerti itu !" terang Maira


" baiklah, terserah kamu saja Mai !" kata bang Azka


" ya sudah, Mai berangkat dulu ya ! assalamualaikum !" pamit Mai sambil menyalami mama, papa, bang Azka juga Nisa.


" waalaikumsalaam !" jawab semua serempak


" Maira itu berbeda dengan anak yang lain ! dia tidak ingin mendapat semua secara instan, ia lebih memilih melalui proses dari bawah. Jika yang lain memilih langsung bisa sukses dengan bantuan dari orang tuanya, tapi Mai berbeda dengan yang lainnya. Jadi jangan dipaksakan, kelak kalau dia sudah merasa pantas dan bisa dia akan turun langsung ke perusahaan !" jelas mama panjang lebar


" iya, keras kepala banget tuh anak !" sela Azka


" tapi bagus, itu suatu proses untuk mendewasakan diri dan kemandiriannya. papa bangga pada Maira !" kata papa


" iya, apa yang dikatakan papa benar ! biarkan Maira banyak belajar dulu, agar nanti saat dia masuk ke perusahaan dia audah benar benar siap dan mengerti ! " kata mama


Setelah perbincangan di meja makan, kini papa dan Azka berangkat ke kantor dan Mama juga Nisa tengah beraiap untuk pergi berbelanja bahan makanan. Sedangkan Maira kini tengah berkutat dengan laptop dan berkas berkas yang harus ia kerjakan.


" pagi Mai, Syah !" sapa Miko


" pagi juga kak !" jawab Aisyah dan Maira kompak


" gimana kabar kamu Mai ? sudah sehat ?" tanya Miko


" alhamdulillah kak, udah baikan kok !" jawab Maira


Tak banyak obrolan diantara mereka karena mereka kini terfokuskan pada laporan yang harus mereka bereskan hari ini. Waktu berputar terasa cepat, kini waktunya pulang telah tiba.


" Mai, pulang yuk !" ajak Aisyah


" ayo, tunggu aku beresin dulu meja !" kata Maira sambil merapikan beberapa berkas yang ada di mejanya


Maira dan Aisyah segera turun untuk pulang dan beristirahat.


" Mai, kita kan bawa motor, bagaimana kalau kita mampir dulu ke toko kue ? aku mau beliin kue buat ayah !" kata Aisyah


" oke boleh, sekalian aku juga mau kue !" jawab Maira


" mbak, saya mau red velvet sama brownies ya !" kata Aisyah


" oh iya mbak, silahkan di tunggu sebentar !" kata pelayan toko kue


" saya mau black forest 2 ya !" kata Maira


" iya mbak, ditunggu sebentar ya !" kata pelayan toko


Maira dan Aisyah kini duduk memunggu di meja dekat dengan kasir. Keduanya sedang mengobrol dengan riang, kadang mereka juga tertawa bersama.


" hai, Mai, Aisyah !" sapa Fardhan


" eh, hai juga pak !" jawab keduanya


" kompak bener nib ceritanya ! lagi nungguin pesanan ya ?" tanya Fardhan


" iya pak !" jawab Aisyah


" mbak ini brownies dan red velvet dan dua black forest nya " lata pelayan tadi


" oh iya, terima kasih !" kata Maira


Aisyah meninggalkan Maira dan Fardhan di meja yang tadi ia duduki untuk membayar kue yang ia dan Maira pesan tadi. Sedangkan Maira kini tengah ngobrol bersama dengan Fardhan .


" Mai, kalaiu nanti aku main ke rumah kamu boleh gak ?" tanya Fardhan


" main ? boleh kalau mau main, kebetulan bang Azka juga selalu ada di rumah kalau bapak mau main ke rumah biar ada teman papa dan bang Azka ngobrol !" jawab Maira dengan polosnya, ia masih belum mengerti dengan kode yang di berikan oleh Fardhan


" iya, nanti aku ke rumah kamu ya ! tapi jangan panggil aku bapak dong, kesannya udah tua banget !" kata Fardhan


" terus Mai harus panggil apa dong ?" tanya Maira


" mas aja kalau kita di luar kantor !" jawab Fardhan


" oke deh mm mas Fardhan !" kata Maira dengan terbata


Fardhan tersenyum saat mendengar Maira memanggilnya dengan sebutan "Mas" tanpa embel embel " bapak". Maira melihat Fardhan tersenyum membuatnya menjadi salah tingkah sekaligus malu sendiri. Tapi tak di pungkiri juga ia merasa senang, ada rasa bahagia yang tak dapat di ungkapkan dengan kata kata saat melihat Fardhan tersenyum.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading