
takdir kita tlah bersatu
dalam keangkuhan kupinggir kasihmu
kini baru ku sedari
abadinya cinta hungga akhir nafasku
walau kau kusayangi
kuturut kata kau yang terluka
maafku tak sempurna
kiranya dikau tak bahagia
Tuhan jiwaku merawan
perasaan saat ku kehilangan
oh biarlah aku pendam tangis dihati
seandainya aku yang pergi dulu
sampai mati kukan mencintai kamu
karena akulah bidadari syurgamu
walau kau kusayangi
kuturut kata kau yang terluka
maafku tak sempurna
kiranya dikau tak bahagia
tuhan jiwaku merawan
perasaan saatku kehilangan
oh biarlah aku pendam tangis dihati
seandainya aku yang pergi dulu
sampai mati kukan mencintai kamu
karena akulah bidadari syurgamu
Suara indah mengalun diiringi oleh petikan gitar. Dua orang beda gendre itu menyanyi dan memetik gitar sambil memejamkan matanya menghayati kata perkata yang dilantunkan. Sungguh suara yang merdu, menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Lagu Bidadari syurgamu milik Siti Nurhaliza ini begitu indah didengar, Fardhan pun terasa terhipnotis dengan indahnya suara Maira.
Kedua insan itu adalah Maira dan Fardhan yang sedang duduk di halaman belakang rumah Azka, tepatnya dibawah pohon yang rindang. Cuaca siang ini tidak terlalu terik, hembusan angin sepoy sepoy menerpa dedaunan menggiring nada petikan gitar terasa sangat menyentuh, apalagi ditambah si penyanyi yang merdu suaranya.
Setelah selesai menyanyikan sebuah lagu itu, mata keduanya kembali terbuka dan keduanya tersentak kaget saat mendengar tepuk tangan yang tak jauh dari tempatnya duduk. Fardhan menolehkan kepalanya melihat siapa yang datang dan mendengarkan kolaborasinya bersama sang istri. Dilihatnya ada Nisa, Silmi dan Azka yang memandang keduanya dengan wajah dihiasi senyuman.
" kakak sama abang sejak kapan disana ?" tanya Maira
" sejak ada yang nyanyi. Abang kira yang lagi nyetel musik eh tahunya ada sejoli yang sedang berduet " seloroh Azka
" suara kamu merdu banget Mai, adem banget deh dengerin suara kamu kalau lagi nyanyi " kata Nisa
"bunda suaranya bagus " kata Silmi dengan girangnya
" terima kasih sayang " jawab Maira
" nanti bunda ajarin Silmi ya " pinta gadis cilik nan menggemaskan itu
" iya, nanti bunda ajarkan " sahut Maira sambil mengulas senyum
" nanti belajarnya ya. Sekarang kita makan siang dulu, papa udah nunggu didalam " kata Nisa
Fardhan dan Maira pun masuk mengikuti langkah Azka dan Nisa. Hari kemarin Azka dan keluarga telah melaksanakan acara syukuran atas kesembuhan Maira, jadi kedua sahabat Maira dan ART nya sudah kembali pulang. Tinggallah sekarang hanya papa Salman bersama anak menantu dan cucunya saja di rumah.
" Pa, seandainya Mai sama mas Fardhan kembali ke rumah besok gimana ?" tanya Maira
" gimana ? apanya yang gimana Mai ?" tanya papa
" ya, maksud Mai itu tidak apa apa kalau Mai kembali ke rumah Mai lagi bersama mas Fardhan ?" jelas Maira
" oh, gitu. Ya tentu boleh nak, walau bagaimanapun juga seorang istri harus mengikuti suaminya " jawab papa terkekeh pelan diakhir kalimatnya
" papa tidak apa kami pulang ? nanti Fardhan akan izinkan Mai disini sampai Fardhan pulang, sorenya Fardhan jemput setelah pulang dari kantor " kata Fardhan
" tidak perlu nak ! kalau Maira mau kesini ya kesini saja, tidak perlu setiap hari juga. Lagi pula Maira masih butuh waktu untuk istirahat, kalau ada waktu luang kalian bisa kesini sekalian nginep " kata papa
" tapi apa nanti papa tidak akan kesepian ?" tanya Maira lagi
" papa gak akan kesepian Mai, kan ada kakak sama Silmi disini. Tapi kalau kamu mau tiap hari kesini juga tidak apa apa, tapi untuk sementara waktu sebaiknya kamu lebih banyak istirahat dulu supaya kondisimu benar benar fit nantinya. Kakak gak mau lihat kamu sakit lagi " cerocos Nisa
" apa yang dikatakan kakakmu benar Mai ! kalian boleh kesini kapan saja, pintu rumah ini akan selalu terbuka. Tapi untuk sekarang sekarang lebih naik kamu pulihkan dulu kondisi tubuhmu " timpal Azka
" tuh, denger kata abang dan kakakmu " kata papa
" eh tapi ngomong ngomong kalian kapan mau pulang kerumah kalian ?" tanya Azka
" rencananya nanti sore bang, lagi pula mas Fardhan juga harus kembali ke perusahaan besok. Sudah terlalu lama libur " kata Maira
" hei, aku gak masuk kantor juga tetap ya kerjaan aku ngalir seperti biasa. cuman pindah tempatnya doang " sewot Fardhan
" iya deh iya, yang giat kerja, rajin nabung dan tidak sombong " sahut Maira
Semua tertawa saat mendengar celotehan Maira barusan. Papa merasa senang sekali melihat anaknya yang sudah sembuh, ditambah lagi dengan kondisi rumah tangganya yang terlihat harmonis. Hanya satu sekarang harapan papa, hanya ingin melihat Maira punya anak. Entah anak perempuan atau laki laki sama saja bagi papa. Tqpi papa tidak berani mengungkapkan keinginannya itu, papa takut akan menyinggung dan melukai hati anaknya.
Makanya papa selalu berdo'a semoga saja Maira dan Fardhan segera dikaruniai anak. Setelah lama ngobrol, papa merasa lelah. Wajar saja diusianya yang tidak muda membuatnya lebih cepat merasa lelah. Jadi papa memutuskan untuk istirahat saja di kamar.
" papa lelah, kalian ngobrol saja. Papa mau istirahat dulu " kata papa lalu pergi meninggalkan anak dan menantunya
" aku gak tega lihat papa " lirih Maira
" kita bisa kok disini dulu. Nanti mas berangkat ke kantor dari sini saja, mas juga gak tega lihat papa kalau seperti itu " timpal Fardhan
" papa memang seperti itu jika merasa lelah. Kalian tidak perlu khawatir, papa baik baik saja kok " kata Nisa
" wajar saja jika papa seperti itu. Kalian juga tahu umur papa sudah tidak muda lagi, jadi papa lebih sering merasa lelah. Memang disaat seperti inilah orang tua kita harus berhenti dari aktifitas yang membuatnya mudah lelah, bukan hanya umurnya saja tapi tenaganya juga kan sudah mulai berkurang " tambah Azka
" jadi gimana sayang ? kita jadi pulang nanti sore atau tetap disini ?" tanya Fardhan
" kalau pulang aja gimana mas ? gak apa apa kan bang ?" tanya Maira
" gak apa apa. Lagipula, rumah kita tidak telalu jauh jadi bisa lebih sering main kesini buat temani papa di rumah. " jawab Azka
" kalau mas ngikut aja maunya kamu gimana " kata Fardhan
Akhirnya Maira memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. Selain merasa rindu dengan rumahnya, tak mungkin juga ia terus mwnginap di rumah Azka ini. Lagipula jarak dari rumah Azka ke kantornya Fardhan cukup jauh, jadi lebih baik jika ia pulang saja. Nanti jika ia mau ia akan ke rumah Azka untuk menemani papa selama Fardhan bekerja.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
terima kasiih🙏🏻
sengaja waktunya di bikin cepet ya, biar gak terlalu ribet