
Fardhan dan Maira turun ke bawah untuk makan bersama di meja makan. Maira dan Fardhan selalu mengajak mang Jajang dan bi Titin makan bersama di meja makan, karena Fardhan juga Maira tidak ingin ada jarak diantara mereka. Fardhan juga Maira sudah menganggap Mang Jajang dan bi Titin sudah seperti orang tua sendiri.
Mereka makan dengan sesekali diselingi dengan obrolan kecil. Setelah selesai makan, bi Titin membersihkan meja makan dan Maira juga Fardhan langsung pergi ke kamarnya.
" mas mau bicara sama kamu " kata Fardhan
" ada apa mas ?" tanya Maira
" kenapa akhir akhir ini kamu berubah, aku melihatmu berbeda " kata Fardhan
" Mai masih sama seperti dulu mas, tidak ada yang berubah. Mungkin itu hanya perasaan mas saja !" jawab Maira tenang
" jangan berbohong Mai ! mas tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari mas kan ?" tanya Fardhan
" tidak ada mas " jawab Maira
" Mai, dalam hidup berumah tangga itu kita harus saling terbuka sling jujur ! katakan Mai !" kata Fardhan penuh penekanan
" apa yang harus Mai katakan mas ?" tanya Maira
" kenapa sikapmu berbeda ? jelaskan padaku dan jangan ada yang di tutup tutupi " kata Fardhan sambil menatap kedua mata Maira
" maaf mas, kalau Mai menceritakan semua ini Mai takut mas akan marah " kata Maira
" aku tidak akan marah, katakanlah sejujurnya " kata Fardhan
" jujur, Mai merasa tertekan mas oleh mama. Setiap mama telfon, pasti mama tanya aku udah hamil apa belum. Aku jadi tidak tenang mas, jujur saja Mai merasa stres mengahadapinya. Mai juga inginnya segera punya anak mas, makanya Mai tidak memakai alat kontrasepsi. Tapi mau bagaimana lagi mas, Allah belum memberikan kepercayaan pada Mai " kata Maira sambil terisak
" kenapa kamu tidak pernah bercerita pada mas ? apa kamu tidak percaya pada suamimu ini ?" tanya Fardhan
" maafkan Mai, bukannya Mai tidak percaya sama mas. Tapi Mai takut jika Mai selalu menceritakannya pada mas nanti dikira Mai berniat mengadu domba antara mas dan mama ! Mai mau semua baik baik saja mas " kata Maira sambil menyeka air matanya yang terus mengalir
" harusnya kamu bilang Mai, maafkan mama yang terlalu berambisi dan menekan kamu sehingga membuatmu begini ! Mas janji akan bicara baik baik dengan mama, kamu yang sabar ya ! Mungkin sekarang kita masih di beri kesempatan untuk selalu bisa jalan berdua, karena Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita. Kita berdoa saja supaya kita bisa cepat diberi keturunan " kata Fardhan
" iya mas " jawab Maira masih terisak
" sudah, jangan menangis lagi ya ! Jangan terlalu di fikirkan, kita enjoy saja nikmati alur yang sudah Allah takdirkan. Lagi pula pernikahan kita baru enam bulan, bukankah kak Nisa juga baru mengandung setelah satu tahun usia pernikahannya ! Jadi kita tenang saja ya, terus berdoa dan berusaha " kata Fardhan lalu memeluk Maira
" terima kasih mas, kamu sudah mau mengerti aku " kata Maira
" nah, sekarang kita harus berusaha. kamu mau kan beribadah dengan mas malam ini ?" tanya Fardhan
" insya Allah mau mas " jawab Maira tahu kemana arah pembicaraan suaminya
" terima kasih sayang " kata Fardhan sambil mengecup bibir Maira dengan mesra
Malam ini Maira merasa sedikit lega, ia merasa kini bebannya berkurang setelah mengungkapkannya pada Fardhan. Dan setelah itu, keduanya melakukan ibadah yang telah di niatkan oleh Fardhan tadi. ( kalian pasti tahu mereka ngapain, tapi jangan di bayangin ya ๐)
Kini waktu sudah shubuh, Maira dan Fardhan sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Fardhan lebih dulu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Maira masih bergelung dibawah selimut tebalnya.
" sayang, cepatlah mandi ! mas tunggu untuk shalat berjamaah ya " kata Fardhan
" iya mas " jawab Maira sambil berjalan ke kamar mandi
Fardhan menunggu Maira mandi sambil duduk setelah membentangkan dua sajadah untuk di pakai shalat. Lima belas menit kemudian Maira keluar dengan pakaian lengkap, setelah itu keduanya melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Jam enam pagi Maira turun ke dapur untuk membantu bi Titin memasak seperti biasa. Setelah selesai memasak Maira pergi ke kamar untuk memanggil Fardhan.
" mas, sarapan yuk !" ajak Maira
" pakaikan aku dasi dulu sayang !" kata Fardhan sambil memberikan dasi pada Maira
" oke baiklah suamiku yang tampan dan pengertian tapi manja " kata Maira sambil memasangkan dasi di kerah baju suaminya
" terima kasih sayang " kata Fardhan
cup
Satu kecupan mendarat di bibir Maira, membuat Maira merasa malu dengan perlakuan suaminya ini
" tidak perlu malu begitu sayang, kamu kan sering mendapatkannya bahkan lebih " kata Fardhan
" iiih, mas ini ! pagi pagi udah ngomong yang kayak gitu !" kata Maira
" lah, mas bener kan ?" kata Fardhan
" iya sih " jawab Maira
" ya sudah, ayo sarapan !" ajak Fardhan
Maira dan Fardhan berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra, keduanya memang begitu. Karena melihat perlakuan pasutri ini membuat bi Titin merasa bahagia, bagaimanapun bi Titin juga menganggap Maira dan Fardhan seperti anak sendiri walaupun nyatanya bi Titin hanya seorang asisten rumah tangga saja.
" mas, mau makan pakai lauk apa ?" tanya Maira
" mas mau sayur sop sama keupuk aja ya " jawab Fardhan
Maira pun mengambil nasi beserta sayurnya untuk di makan bersama dengan Fardhan. Moment kali ini Fardhan dan Maira saling menyuapi satu sama lain, makin romantislah mereka sekarang. Setelah selesai sarapan, Maira dan Fardhan berangkat bersama menggunakan mobil Fardhan karena rencananya nanti pulang kerja Fardhan akan mengajak Maira jalan jalan sebentar di luar.
Jarang jarang juga keduanya bisa jalan jalan bersama, keduanya sama sama sibuk dengan pekerjaan yang harus di selesaikan. Biasanya kalau Maira ada waktu luang, selalu Fardhan yang sibuk kadang juga sebaliknya.Fardhan mengantarkan Maira sampai di depan kantornya.
" terima kasih ya mas sudah antar aku " kata Maira
" iya sayang, nanti mas jemput ya kita jalan jalan !" kata Fardhan
" insya Allah mas " jawab Maira lembut sambil tersenyum
" masuk gih, nanti kesiangan !" kata Fardhan
" iya mas, Mai pamit ya assalamualaikum" kata Maira lalu mencium tangan Fardhan
" waalaikumsalaam sayang " jawab Fardhan
" hati hati bawa mobilnya mas, Mai tunggu nanti ya " kata Maira lalu kekuar dari mobil Fardhan
" iya sayang " kata Fardhan
Fardhan melajukan kembali mobilnya ke arah perusahaannya. Hati Fardhan kini berbunga bunga, ia senang bisa mengantarkan istrinya pergi ke kantor dan nanti pulang akan mengajak istrinya kencan.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
Jangan kupa tinggalkan jejak๐
Terima kasiih๐๐ป๐๐ป