Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
25


Waktu kini menunjukkan pukul 12.45 menit. Maira mulai dirias kembali untuk acara resepsi tamu undangan dari para kolega bisnis Fardhan dan juga papa Salman dan Azka. Fardhan duduk diatas kasur sambil memperhatikan istrinya yang kini sedang di rias kembali.


Setelah selesai di rias, Maira dan Farfhan keluar kamar sambil bergandengan tangan dengan mesra berjalan menuju pelaminan. Acara kali ini juga bukan hanya para kolega bisnis Fardhan dan papa Salman saja, tapi juga teman teman Maira dan Fardhan juga di undang semua.


Ghina dan Aisyah sudah ada di sana sedari acara akad nikah tadi, keduanya dilarang pulang oleh kedua orang tua Maira termasuk oleh Maira sendiri. Ghina dan Aisyah merasa seperti keluarga Maira, pedahal Aisyah dan Ghina bukanlah siapa siapa. yah, tapi itulah keluarga papa Salman, papa Salman dan keluarga tidak pernah pandang bulu, semua ia anggap sama. Apalagi Aisyah dan Ghina adalah dua orang yang sangat dekat sekali dengan Maira, hingga papa dan mama Maira menganggap keduanya sebagai putri mereka juga.


" kak, aku terharu banget dan merasa beruntung berada di tengah tengah keluarga ini kak ! Keluarga kak Maira memperlakukan Ghina layaknya anak mereka sendiri !" curhat Ghina


" yah, kedua orang tua Maira memang begitu. Mereka juga menganggap kakak adalah anak mereka juga, mereka sangat penyayang, berjiwa besar, walaupun orang berada tapi mereka tidak pernah sombong dengan kekayaan yang dimilikinya !" kata Aisyah menanggapi


" kakak tahu, setelah kedua orang tua kak Maira tahu kalau Ghina hidup sendiri, mama dan papa kak Maira menyuruh Ghina pindah ke rumahnya dan tinggal bersama mereka. Tapi Ghina cukup tahu diri kak, jafi Ghina menolaknya !" kata Ghina sambil menundukkan kepalanya.


" kamu tahu, keluarga Maira itu memang orang yang sangat baik. Mama dan papa Maira akan pindah dari sini Ghin, kata Maira papa dan mamanya akan pindah ke Sumedang !" kata Aisyah dengan raut sedih


" ke Sumedang ? " tanya Ghina


" iya, mereka juga punya beberapa aset disana seperti rumah dan tanah yang selama ini di urus oleh orang kepercayaannya !" jawab Aisyah


" terus kalau mama sama papanya kak Mai pindah kesana kak Mai juga bakalan ikut mereka ?" tanya Ghina


" ya enggak lah Ghin, Maira bakalan pindah ke rumah suaminya. rumahnya akan tetap diisi oleh bang Azka dan kak Nisa !" jawab Aisyah


" oh, gitu ya !" kata Ghina mengerti sambil menganggukkan kepalanya


Saat ini Maira dan Fardhan sedang berdiri bergandengan tangan menemui rekan bisnis dari Fardhan. Keduanya tampak serasi, banyak pasang mata yang memandang kagum pada keduanya.


Berbeda dengan Maira dan Fardhan, saat ini Nisa dan Azka sedang duduk di salah satu ruangan. Nisa masih saja asik memakan rujak buah yang tadi ia beli bersama Azka. Sedangkan Azka ? ia menatap istrinya yang sedang asik memakan rujaknya tanpa bisa di ganggu.


" mas mau ?" tanya Nisa sambil menyodorkan potongan buah kedondong pada Azka


" tidak sayang, buat kamu saja. tapi jangan terlalu banyak makan yang kayak gitu ya, nanti perutmu bisa sakit !" saran Azka


" insya Allah gak akan mas ! oh iya, mas pergi aja nemuin rekan bisnis mas duluan saja, biar nanti Nisa nyusul !" kata Nisa


" tidak sayang ! mas bakalan nungguin kamu beres makan dulu baru kita keluar sama sama ya !" kata Azka sambil mengelus kepala Nisa


Sesuai dengan ucapannya, Azka menunggu Nisa selesai memakan rujak barulah keduanya keluar dari ruangan yang di tempatinya. Acara resepsi kini telah berakhir karena waktu telah menunjukkan pukul 16.30. Semua kembali ke kamarnya masing masing. Kedua orang tua Maira kembali ke rumah sama seperti keluarga Fardhan.


" kamu gak mau nginep disini ?" tanya Azka


" enggak mas, lebih nyaman di rumah ! lagian mama sama papa pasti merasa kesepian cuman berdua di rumah !" jawab Nisa


" baiklah, kita akan pulang sekarang sayang !" kata Azka sambil mengusap pucuk kepala Nisa


Akhirnya Azka dan Nisa kembali ke rumah. Kini kita beranjak pada sepasang pengantin yang baru saja masuk kedalam kamar yang telah di persiapkan untuknya.


" huh, melelahkan sekali !" kata Maira


" lekaslah mandi dan istirahat Mai !" kata Fardhan dengan lembut


" iya mas, aku mandi duluan ya !"kata Maira


" awas, jangan ketiduran lagi ya !" kata Fardhan membuat Maira malu


Maira pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kali ini Maira mandi hanya lima belas menit saja, pasalnya ia sudah merasa lelah dengan aktifitas seharian ini dan ingin segera istirahat. Setelah Maira selesai mandi, kini giliran Fardhan yang mandi. Maira membaringkan tubuhnya diatas kasur, tapi ia tak bisa tidur entahlah apa penyebabnya. Fardhan keluar dari kamar mandi dengan setelan baju santainya, hanya memakai baju kaos berwarna hitam dan celana pendek berwarna cream.


" katanya tadi capek, mau istirahat !" kata Fardhan saat melihat Maira duduk diatas kasur sambil memainkan ponsel miliknya


" maunya sih tidur mas, tapi gak bisa ! aku mau pulang mas, kita pulang yuk !" ajak Maira


" kenapa ?" tanya Fardhan heran


" aku berasa gak betah mas kalau disini, lebih enak di kamar sendiri lebih bebas !" jawab Maira


" ke rumahku saja ya !" ajak Fardhan


" ke rumah mamaku saja ya mas ! " rengek Maira


" baiklah, aku ikut saja padamu !" jawab Fardhan sambil tersenyum


Fardhan menyiapkan koper miliknya dan Maira, dan di letakkan di dekat pintu. setelah istirahat sejenak, Maira dan Fardhan pulang ke rumah orang tua Maira.