Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
96


" aku gak bohong Mai ! mungkin itu jawaban dari firasatmu semalam yang memimpikan mama kamu ! ini semua nyata Mai, aku gak berani bohong ! bahkan mungkin sebentar lagi kita akan dijemput oleh kak Ghaisan " kata Zahra menerangkan


Maira tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Zahra, fokusnya hanya pada satu 'mama'. Bagaimana ini bisa terjadi ? sedangkan kemarin Azka dan Zahra bilang kondisi mama sudah membaik, tapi kenapa sekarang jadi begini.


Zahra juga bingung harus bicara perlahan seperti apa, jadilah ia mengatakan semuanya seperti itu. Sekarang ia berharap Maira akan baik baik saja, bisa menerima kenyataan kalau mamanya telah tiada, dan semoga saja kondisi Maira tidak drop kembali.


.


...#####...


Maira masih merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zahra. Maira mengambil ponselnya dan menghubungi Azka untuk memastikan kalau kabar yang baru saja di dengarnya dari Zahra itu salah.


πŸ“ž " hallo assalamualaikum bang " ucap Maira mencoba menetralkan rasa cemasnya


πŸ“ž " hallo, waalaikumsalam.. Ada apa Mai ?" tanya Azka pelan


πŸ“ž " bang, gimana kabar mama sekarang ?" tanya Maira langsung membuat Azka terdiam, tenggorokannya serasa tercekat untuk mengucapkan kata


πŸ“ž " Mama sudah gak ada Mai, mama sudah pulang " jawab Azka pelan


πŸ“ž " maksud abang gimana ? Mai gak ngerti bang ! abang ngomong yang jelas dong abang " kata Maira mulai emosi


πŸ“ž " mama udah meninggal Mai, mama udah ninggalin kita selamanya. nanti kamu kesini sama Ghaisan juga Zahra ya, kamu kuat Mai " kata Azka


πŸ“ž " enggak, abang pasti bohongkan sama Mai ? kemarin abang bilang mama baik baik saja, tapi kenapa abang kasih kabar berita kayak gini bang ! ini gak lucu bang !" ucap Maira dengan emosi yang menggebu gebu


πŸ“ž " maafkan abang yang menutupi keadaan mama yang sebenarnya Mai. Abang hanya gak mau kamu kefikiran dan membuat kondisimu menurun " kata azka mencoba memberikan pengertian


πŸ“ž " sebentar lagi Ghaisan sampai disana, kamu ikut sama Zahra ya ! maafkan abang Mai " kata Azka disertai isakan yang begitu lirih


πŸ“ž " gak, abang pasti bohong ! kalian pasti bohong " kata Maira masih diliputi emosi kemudian menutup sambungan telfonnya secara sepihak


Maira terduduk dilantai dengan tangis yang begitu menyayat hati, bagaimana tidak merasa sakit hati ? mamanya menjadi korban penculikan gara gara Maira, masuk rumah sakit sampai kritis dan sekarang meninggal juga karena Maira. Apalagi disaat terakhir sang mama Maira tidak menemaninya, tidak ada disampingnya. Dan sekarang kabar yang diterimanya begitu membuatnya shok dan tidak percaya dwngan apa yang didengarnya.


Tak lama kemudian Ghaisan telah sampai di apartemen yang ditempati Maira dan Zahra. Sebelumnya Ghaisan sudah menghubungi Zahra kalau ia akan segera sampai. Ghaisan masuk setelah dibukakan pintu oleh Zahra. Didengarnya Maira yang masih menangis didalam kamarnya.


" gimana ?" tanya Ghaisan


" dia gak percaya dan gak bisa nerima. Aku jadi takut kondisinya terus menurun " jawab Zahra


" kita berdoa saja. Oh iya, kita berangkat sekarang ! kamu siapkan obat obatan Maira dan bawa saja, cepatlah bersiap " kata Ghaisan


" aku siap siap dulu ya, sambil nyiapin keperluan Mai dulu " kata Zahra lalu pergi ke kamar Maira


Dilihatnya Maira tengah duduk bersimpuh disisi ranjangnya dengan air mata yang tak berhentinya mengalir dipipinya. Zahra pun mendekatinya, merengkuh dan membawanya kedalam pelukan agar bisa m3mbuatnya sedikit tenang.


" yang sabar, ini semua sudah ketentuan Mai. Sekarang kita bersiap ya, kita akan segera pergi ke rumah mama " kata Zahra lalu membimbing Maira untuk membenahi dirinya


Setelah selesai membantu Maira bersiap dan menyiapkan obat obatan maira, Zahra pun bersiap siap. Selesai bersiap, Zahra memapah memapah Maira berjalan menuju lift dan keluar dari area apartemen. Perjalanan kali ini tidak ada yang membuka suara, hanya ada isak tangis Maira yang masih belum berhenti sedari tadi. Zahra sempat membujuknya untuk sarapan tapi ia menolak dengan keras, akhirnya mereka pun pergi tanpa sarapan.


Setelah sampai di rumah, banyak karangan bunga yang berjajar rapi di halaman rumah bahkan sampai ke luar pintu gerbang juga. Para pelayat juga datang silih berganti mengucapkan bela sungkawa. Maira masih mematung didepan pintu dengan dipegangi oleh Zahra dibelakangnya.


Ghaisan memberi kabar pada Azka kalau ia sudah sampai bersama Zahra dan Maira. Azka pun menghampiri Maira yang masih diam mematung didepan pintu masuk rumah masih dipenuhi oleh para pelayat.


" ikut abang yuk ! kita lihat mama untuk yang terakhir, sebelum mama dimakamkan ! " kata Azka membimbing Maira masuk


Maira tak mengucapkan apapun, ia hanya berdiam diri dengan tatapan kosong yang diiringi dengan air mata. Azka membawanya kehadapan jenazah mama yang sudah terbujur kaku tertutup kain putih. Jenazah mama sudah dimandikan dan di kafankan, hanya saja Azka meminta pada pengurus agar jangan dulu menutup wajah mama sebelum Maira datang.


Maira menundukkan pandangannya melihat jasad yang terbaring kaku dengan wajah pucat dihiasi senyum tipis itu dengan pilu. Maira kembali meraung menangisi kepergian mamanya, ia masih belum bisa menerima ini semua. Azka mendekapnya dengan erat mencoba menguatkan, tapi ia juga tak kuasa menahan kesedihan. Papa dan Nisa datang menghampiri keduanya. Papa juga menangis bersedih, ia meraih tubuh kurus Maira kedalam dekapannya. Maira makin tergugu dalam dekapan papa, Nisa memeluk Azka.


" kenapa semuanya begini pa ? kenapa ?" raung Maira dalam tangisnya


" sabar sayang, ini cobaan. Ini sudah takdirnya mama " jawab papa


" ini semua salahnya Mai pa, salah Mai ! andai saja Mai gak ada pasti mama sekarang masih ada pa, ini semua gara gara Mai semua salah Mai " kata Maira


" kamu jangan bilang begitu Mai, itu tidak boleh. Semua kehidupan sudah ada yang mengatur, kita hanya menjalankannya saja. Allah lebih sayang dengan mama, sekarang mama sudah sembuh dan tidak sakit lagi. Lihatlah wajah mama yang damai seperti sedang tidur lelap ! Ini semua Allah yang sudah menentukannya Mai, bukan kita " kata papa semakin mengeratkan pelukannya


Maira masih tergugu dalam tangisnya dipelukan papa, Azka tidak bisa apa apa untuk menenangkan adiknya. Azka tahu Maira lebih dekat dengan mama dan dirinya, jadi Azka tidak heran dengan Maira yang seperti ini. Selama ini mama sangat dekat dengan kedua anaknya, apalagi papa yang selalu pergi keluar kota bahkan luar negeri membuat mama harus bisa menjadi sosok mama dan papa untuk kedua anaknya.


Bukan hanya Maira yang merasa kehilangan, papa, Azka, Nisa, Silmi pun merasakan hal yang sama. Tapi bedanya satu bagi Maira, ia tak ada disaat mamanya menghembuskan nafas terakhirnya dan semua yang terjadi pada mamanya itu adalah karena dirinya. Secara tidak langsung ia telah menuduh dirinya sendiri sebagai pembunuh mamanya sendiri.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading guys😊


jangan lupa tinggalkan jejaknya..


boleh komen kok kritik dan sarannya juga, bebas asal yang membangun😁 biar author semangat up nya. Apalagi kasih like, boleh banget yaaaa..


kalau kasih tip atau vote juga Ros mh gak bakalan nolak🀣 Tapi seikhlasnya aja ya, kalau ikhlasnya cuman like juga gk apa apa kok, it's oke😁 tetep stay cool😊


Terima kasiihπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»