
Waktu satu tahun memang waktu yang singkat untuk mengobati sakit kanker. Tapi Maira tidak menyangka kalau ia akan sembuh seperti sekarang, karena dulu kondisinya memang sudah parah. Bahkan ketika menjalani pengobatan saja di Jerman yang hampir saja merenggut nyawanya, ia hanya bisa pasrah saja seandainya ia akan segera kembali pada Sang Kuasa menyusul mamanya.
Tapi rupanya takdir berkata lain, Allah masih menghendaki Maira untuk berumur panjang hingga sekarang ia bisa sembuh dan esok ia akan pulang ke tanah air.
Maira tertidur dengan lelap dalam dekapan Fardhan. Tempat ternyamannya semenjak ia menikah. Walaupun saat di rumah sakit juga kadang Fardhan menemani Maira tidur dalam satu blankar, tapi kali ini suasananya berbeda. Kasur yang luas dan nyaman, suasana ruangan yang wangi dan yang pasti tidak ada alat medis yang mmbuat bosan untuk dilihatnya.
Malam dengan penuh bertabur bintang itu berlalu begitu cepat, kini Maira sudah bersiap untuk kembali ke tanah air bersama sang suami. Setelah selesai bersiap dan akan pergi, pintu kamar diketuk oleh seaeorang.
" siapa ya mas ?" tanya Maira
" entahlah, biar mas yang lihat " jawab Fardhan berlalu membukakan pintu
Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah salah satu kenalan Fardhan yang hampir setahun ini bersahabat dengannya. Kemarin ia sempat memintanya untuk membelikan beberapa oleh oleh untuk keluarganya. Setelah mengucapkan terima kasih dan sahabatnya itu pergi, Fardhan kemudian masuk kembali dengan membawa sebuah koper kecil.
" lah, kok bawa koper ?" tanya Maira heran
" iya, oleh oleh untuk keluarga di rumah. Aku sengaja meminta Jimmy membelikannya untuk kita " jawab Fardhan
" mas hambur hamburin uang deh ! kan sayang uangnya, disini juga aku udah pakai banyak uangnya mas buat pengobatan ditambah lagi sekarang untuk beli oleh oleh " kata Maira kesal
" kamu tenang saja, insya Allah uang kita selalu ada. Kamu jangan takut " kata Fardhan
" mas enteng banget bilang jangan takut. Mas gak ngerti gimana rasanya jadi aku ! aku merasa gak guna tahu gak jadi istri kamu mas, aku hanya bisa menghamburkan uangmu saja " keluh Maira penuh rasa bersalah
" hey, dengar sayang ! kamu tidak menghamburkan uangku, justru semenjak aku membawamu berobat kesini usahaku makin lancar. Banyak tender yang perusahaanku dapatkan. Lagipula uang untuk pengobatanmu juga tidak menjadi masalah bagiku, kalaupun aku harus kehilangan perusahaanku demi kesembuhanmu. Tapi alhamdulillah nya semua itu tidak terjadi " kata Fardhan
" kamu tahu sayang, ternyata rumah sakit tempatmu dirawat adalah milik orangtua dokter Evelyn. Evan mengenalkanmu sebagai adik angkatnya, jadi ia juga ikut andil dalam membantu biaya pengobatanmu. Jadi uang yang aku dan abang keluarkan tidak terlalu banyak. Awalnya aku dan abang menolak bantuan dokter Evelyn, tapi orang tuanya terus saja memaksa kami untuk menerima bantuannya. dan kamu tahu kenapa orang tuanya begitu ngebetnya mau membantu pengobatanmu ?" tanya Fardhan diakhir ceritanya dan dijawab gelengan kepala oleh Maira
" itu karena wajahmu mirip dengan mendiang kakak Evelyn yang telah tiada. Jadi jangan heran jika mereka nanti akan datang tiba tiba ke Indonesia untuk bertemu denganmu. Mereka ingin menjadikanmu anak angkatnya " sambung Fardhan
" masyaa Allah, jadi aku mirip dengan kakaknya dokter Evelyn !" kata Maira
pantas saja ketika aku sadar dia begitu antusias dan sangat bahagia. Rupanya wajahku mirip dengan kakaknya yang telah tiada. Dan juga dengan orang tua dokter Evelyn yang selalu menjengukku, bahkan dengan terang terangan memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan mommy dan daddy
gumam Maira
Ya, selama Maira dirawat dirumah sakit kedua orang tua dokter Evelyn sering datang menjenguknya. Maira juga sempat merasa heran dengan sikap orang tua dokter Evelyn, tapi ia tidak memikirkannya lebih jauh. Ia hanya berfikir kalau keluarga dokter Evelyn memang orang yang baik.
Setelah menjelaskan tentang dokter Evelyn, Fardhan mengajak Maira untuk segera check out dari hotel karena jam keberangkatan pesawat sudah semakin dekat. Maira pun mengikuti langkah Fardhan, untuk keluar dari jotel dan menaiki taxi untuk pergi ke bandara.
Didalam pesawat Maira menyandarkan kepalanya di bahu Fardhan, perjalanan kali ini pasti akan sangat melelahkan bagi Maira. Tapi ia merasa bahagia karena akan kembali berkumpul dengan keluarganya. Maira dan Fardhan sudah sangat rindu dengan suasana rumah mereka. Apalagi bagi Maira yang tidak pernah beranjak kemanapun selama setahun ini.
Waktu terus berlalu hingga kini Maira dan Fardhan telah menginjakkan kaki di tanah air. Perjalanan yang cukup lama membuat keduanya merasa lelah, apalagi Maira. Maira dan Fardhan sampai di rumah siang pukul setengah sebelas lebih.
Semua keluarga tengah berkumpul di rumah Azka menyambut kedatangan Maira dan Fardhan. Tangis haru tak terelakkan lagi, apalagi Azka dan Zahra yang tahu bagaimana perjuangan Maira menghadapi penyakitnya selama ini. Walaupun mereka mengetahuinya belum terlalu lama. Papa menangis mengingat putrinya yang sangat ia sayangi telah sembuh berjuang melawan penyakit kanker yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Setelah suasana mengharu biru itu, Nisa mengajak semua makan bersama sebagai ungkapan rasa syukurnya atas kesembuhan Maira. Rencananya Azka dan Farfhan akan menggelar pengajian sebagai tanda rasa syukurnya, dan rencana itu langsung disetujui oleh yang lain.
Maira hanya tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya, ia merasa sangat bahagia walaupun saat ini tubuhnya masih merasa lelah.
" kalian pasti masih lelah, istirahatlah di kamar" kata papa
" iya, sebaiknya kalian istirahat. Ngobrolnya dilanjut nanti saja " timpal Azka
" iya. Kalau begitu kami ke kamar dulu ya, semuanya " pamit Fardhan
Fardhan dan Maira pergi ke kamar untuk istirahat, sesampainya di kamar keduanya langsung membersihkan diri dan bergegas langsung tidur. Sedangkan di ruangan bawah, Azka sedang bermain catur bersama papa. Zahra, Nisa, bi Titin dan Aisyah sedang membuat makanan ringan didapur. Dan kalau Arfan bersama mang Jajang sedang ngobrol bersama mang Doni yang sedang membersihkan rumput di halaman belakang. Mereka semua larut dalam aktivotas masing masing.
Rencananya nanti malam mereka akan mengadakan acara barbeque di halaman belakang. Jadi sesuai kesepakatan, mereka semua masih menetap di rumah Azka sampai besok.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
maaf ya, part ini Rose ngerasa ngambang ya dwngan ceritanya. Tapi nanti rose kasih yang sedikit berdebar debar deh di episode selanjutnya. nanti ada beberapa episode yang mengandung religi dan action nya😁 ditunggu saja ya..
yang punya masukan buat part selanjutnya rose tunggu ya sarannya di kolom komentar😅
thank you🙏🏻