Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
76


" assalamualaikum " ucap Maira saat masuk kedalam rumah


" waalaikumsalaam, baru pulang bu " sapa bi Titin


" iya bi. Mai langsung istirahat ya " kata Maira


" iya neng. Tapi neng gak apa apa kan ?" tanya bi Titin


" enggak bi, Mai baik baik aja kok. bibi jangan khawatir " jawab Maira


Maira langsung pergi ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Hari ini dunia seakan runtuh dan gelap bagi Maira. Bagaimana tidak, hubungannya dengan sang suami belum membaik ditambah dengan diagnosa penyakitnya.


Sejenak ia istirahat, lalu kemudian membersihkan dirinya. Usai membersihkan diri, Maira duduk termenung dibalkon kamarnya. Ia memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya. Saat ini ia tidak ingin keluarganya mengetahui apa yang terjadi padanya, hanya bi Titin saja yang mengetahui permasalahan yang di hadapi Maira saat ini.


Senja berganti malam, hembusan angin menerpa tubuh yang kini sedang berdiri menatap kosong ke arah langit lepas yang bertabur bintang. Hingga ia tak menyadari bahwa sang suami telah pulang ke rumah.


" Mai ada di rumah bi ?" tanya Fardhan


" ada den, semenjak aden pergi neng Maira lebih banyak mengurung diri di kamar. hanya kemarin saja izin keluar sebentar " jawab bi Titin


" baguslah " kata Fardhan


Fardhan langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat setelah menempuh perjalanan dari luar kota. Hingga selesai mandi, Fardhan masih tidak menemukan Maira didalam kamar, hanya saja pintu balkon terbuka dan menampakkan siluet bayangan seseorang tengah berdiri.


Maira masih terdiam memandangi langit yang pekat, fikirannya entah kemana, dan tatapan matanya pun kosong. entah apa yang ia fikirkan saat ini. Fardhan terus memandanginya, sekilas terbesit rasa iba dihatinya melihat Maira seperti itu. Tapi fikirannya kembali dipengaruhi bayang bayang pengkhianatan yang dilakukan Maira.


Akhirnya Fardhan masuk kembali kedalam kamar dan membiarkan Maira terdiam sendiri. Waktu terus berputar, sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Maira masih enggan beranjak dari balkon kamarnya. Sedangkan Fardhan ia tengah tertidur di ruang kerjanya. Ya, Fardhan memilih untuk menghindar dari Maira sementara waktu.


Maira masuk kedalam kamarnya setelah ia merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur, dirabanya tempat biasa dimana Fardhan tidur saat bersamanya. Air mata luruh seketika saat mengingat pertengkarannya bersama Fardhan tempo hari, hingga merasa lelah akhirnya Maira tertidur dengan mata sembab.


" bi, Maira sudah bangun ?" tanya Fardhan


" gak tahu den, bibi belum keatas. Biar bibi panggilkan dulu " kata bi Titin


Bi Titin pun pergi ke kamar Maira. Sebenarnya aneh juga jika Maira jam segini masih belum bangun, biasanya ia akan lebih dulu bangun.


tok tok tok


" neng, ini bibi. Boleh bibi masuk ?" tanya bi Titin


" iya, masuk bi " terdengar sahutan kecil


" neng sarapannya sudah siap, den Fardhan juga sudah menunggu dibawah " kata bi Titin


" mas Fardhan sudah pulang bi ?" tanya Maira


" udah neng, semalam " jawab bi Titin


" bibi duluan aja, Mai kurang enak badan. Nanti Mai nyusul aja ke bawah " kata Maira


" neng sakit lagi ?" tanya bi Titin khawatir


" enggak bi, cuman kepala Mai aja terasa pusing. Sebentar lagi juga baikan kok " jawab Maira


" ya udah, bibi kebawah lagi ya " kata bi Titin kembali ke bawah


Maira masih berbaring di tempat tidurnya, ia merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Sedangkan bi Titin kembali ke bawah menemui Fardhan


" mana Maira bi ?" tanya Farfhan karena bi Titin kembali sendiri


" katanya lagi kurang enak badan, jadi mau istirahat dulu sebentar " jawab bi Titin


" dia sakit ?" tanya Fardhan


" katanya kepalanya pusing den " kata bi Titin


Fardhan langsung bergegas masuk kedalam kamar, dan benar saja dilihatnya Maira tengah berbaring dengan mata terpejam. seluruh tubuhnya tertutup selimut, hanya bagian kepalanya saja yang terlihat.


" Mai, kamu gak apa apa kan ?" tanya Fardhan


"......"


" Mai " panggil Fardhan


Fardhan pun memberanikan diri menyentuh pundak Maira, dan alangkah terkejutnya ia saat hawa panas dari tubuh Maira. Ia pun meraba kening Maira dan panasnya memang tinggi, dan Maira masih memejamkan matanya.


" berisik mas, jangan berteriak di kamar " kata Maira dengan suara lemah


" kita ke rumah sakit ya, kamu demam " ajak Fardhan


" gak usah mas, sebentar lagi juga baikan " kata Maira kembali memejamkan matanya


Bi Titin pun datang ke kamar tergopoh gopoh sambil membawa air hangat dan kompresan.


" ini den " kata bi Titin sambil menyerahkan air dalam waskom


" terima kasih bi. Tolong buatkan bubur untuk Maira bi " pinta Fardhan


" iya den " jawab bi Titin lalu pergi kembali ke dapur


Fardhan masih mengompres Maira, sambil membujuknya agar mau dibawa ke rumah sakit, tapi Maira tetap tidak mau.


kalau sampai aku dibawa ke rumah sakit, bisa bisa ketahuan semuanya. aku tidak mau menjadi beban, sudah cukup selama ini aku membuat mereka susah karenaku


batin Maira


" kita ke rumah sakit ya, biar cepat sembuh " kata Fardhan


" tidak mas, tidak perlu. sebentar lagi juga pasti baikan, mas ke kantor saja. Mai tahu mas lagi sibuk di lantor " kata Maira


" mas gak akan ke kantor hari ini, mas mau merawatmu saja " jawab Fardhan


" pergi saja mas, Mai tidak apa apa. Lagian disini juga ada bi Titin " kata Maira masih memejamkan matanya


" tidak, mas tidak akan pergi dan kamu jangan terus memaksa mas untuk pergi " tegas Fardhan langsung membuat Maira diam tak berucap apapun lagi


Setelah satu jam berkutat di dapur membuatkan bubur untuk Maira, kini bi Titin sudah selesai dan sudah sudah menata bubur di mangkuk dengan segelas air mineral diatas nampan. Bi Titin langsung mengantarkan bubur itu ke kamar Maira setelah sebelumnya mengetuk pintu.


" ini buburnya den " kata bi Titin sambil meletakkan nampan diatas nakas


" terima kasih bi " kata Fardhan


" sama sama den " jawab bi Titin


" oh iya neng, obatnya belum bibi siapkan. Sebentar, bibi ambil dulu " kata bi Titin


" tidak perlu bi, tolong ambilkan saja obat yang didalam toples meja riasku saja bi, obatnya masih ada kok " kata Maira


" obat yang mana neng ? " tanya bi Titin


" obat yang dari rumah sakit bi " jawab Maira


" obat dari rumah sakit ?" tanya Fardhan


" oh ini ketemu neng " kata bi Titin seraya mengacungkan obat


" jawab Mai, maksudnya obat dari rumah sakit ?" tanya Fardhan


" ya kan beberapa hari yang lalu si neng masuk rumah sakit den " jawab bi Titin


ya ampuuuun, pake keceplosan segala lagi ! ini lagi bi Titin malah ngegas terus ngomong. alasan apa yang akan aku pakai ??


ya Allah, bagaimana ini ?????


batin Maira berkecamuk


.


.


.


.


.


TBC