
Tiga hari kemudian...
Saat ini Maira tengah membantu Fardhan berpakaian hingga memakai dasi.
" kamu hati hati di rumah ya " kata Fardhan sambil memeluk Maira
" iya mas, mas juga hati hati disana. Semoga urusan mas di permudah dan cepat pulang lagi kesini ya !" kata Maira
" iya sayang, doakan mas ya " kata Fardhan
" selalu mas " kata Maira
" selesai ! sudah rapi, sudah wangi dan makin tampan " kata Maira
" bisa aja, makin cinta deh " kata Fardhan lalu mengecup bibir Maira
Maira mengantar Fardhan hingga ke bandara. Di Bandara Fardhan sudah di tunggu Shandy.
" mas langsung masuk ya ! sebentar lagi pesawatnya take off " kata Fardhan
" iya mas, hati hati. kabari Mai kalau sudah sampai " kata Maira lalu mencium tangan Fardhan
" iya sayang, assalamualaikum " ucap Fardhan setelah mengecup kedua pipi dan bibir Maira
" waalaokumsalaam " jawab Maira
Setelah Fardhan pergi, Maira kembali pulang ke rumahnya. Memang akhir akhir ini Fardhan sering pergi bolak balik ke luar negeri untuk perjalanan bisnisnya. Sesampainya di rumah Maira hanya diam di kamarnya, kadang ia juga duduk di ruang keluarga ditemani bi Titin dan mang Jajang.
Berhubung sebentar lagi adzan maghrib, Maira mengajak bi Titin dan mang Jajang untuk shalat berjamaah saja di ruang keluarga yang sebelumnya sudah di bereskan oleh Maira dan bi Titin.
Keberangkatan Fardhan ke Cina membuat nafsu makan Maira berkurang. Bagaimana tidak, biasanya saat waktu makan Maira dan Fardhan akan berbagi piring dan makanan. ah, sungguh Maira merindukan Fardhan saat ini. Hal itu membuat bi Titin bertanya tanya.
" maaf neng, bibi mau tanya " kata bi Titin
" tanya saja bi " kata Maira
" makanannya gak enak ya neng ? neng kayak gak menikmati banget makanannya " kata bi Titin
" makanannya enak kok bi ! hanya saja Mai merindukan mas Fardhan, biasanya kota makan bersama sama dalam satu piring " jawab Maira
" oh, bibi kira makanannya gak enak " kata bi Titin
" enak bi, bibi selalu masak makanan yang enak kok " jawab Maira
Kemudian bi Titin, mang Jajang dan Maira melanjutkan kembali makan malamnya hingga selesai. Setelah selesai bi Titin membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor, sedangkan Maira pergi ke kamarnya. Ditatapnya sekeliling kamar, ia sangat merindukan Farfhan saat ini. Walaupun sering di tinggalkan pergi dinas keluar kota maupun ke luar negeri, entah mengapa saat ini rasanya sangatlah berbeda. Fikiran Maira pun melayang berandai andai.
" andai saja kita sudah punya anak mas, mungkin saat ini aku tidak terlalu kesepian seperti ini !" gumam Maira sambil meneteskan air matanya
Tapi Maira menyadari toh semua yang terjadi atas kehendak sang Kuasa, dan ia juga tahu bahwa "Allah tidak akan menguji hambanya diluar dari batas kemampuannya "
Malam ini Maira kembali merasa kesepian, ia tertidur sambil memeluk guling. Ia berharap Fardhan akan segera kembali pulang ke rumah dan berkumpul bersamanya.
Hari hari berjalan begitu cepat, satu minggu sudah Fardhan pergi dan hati ini ia akan toba di tanah air. Maira mengetahui suaminya akan pulang hari ini, tapi tidak dengan waktunya entah pagi, siang atau malam. Siang ini Maira berada di kafe pertama yang di rintisnya bersama Aisyah, setelah kemarin ia meminta izin akan pergi bersama Aisyah.
" Syah, Gina kemana ?" tanya Maira
" ada, lagi di belakang cek persediaan. Emangnya ada apa ?" tanya Aisyah
" gak ada, cuman belum lihat dia saja " kata Maira
" eh iya Mai, perkembangan kafe kita bagus loh. Pendapatan kita juga lumayan nih, walaupun gak sebanyak kafe yang satu lagi !" kata Aisyah
" syukurlah kalau begitu, kalian hebat mengelolanya. Tidak salah aku serahkan kafe ini untuk kalian kelola, kalian emang the best " kata Maira sambil mengacungkan jempolnya
Disela obrolan Maira dan Aisyah, dering ponsel Maira membuat Maira menoleh pada Aisyah.
" aku angkat telfon dulu ya " kata Maira
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya m3njawab perkataan Maira.
π " hallo assalamualaikum mas " kata Maira
π " waalaikumsalaam, kamu dimana ?" kata Fardhan dwngan nada suara berbeda
π " Mai lagi nemenin Aisyah di kafe mas, ada apa ?" tanya Maira
π " pulang sekarang !" kata Fardhan tegas
π " iya mas, Mai pulang sekarang " kata Maira
π " Mas tunggu di rymah, gak pakai lama !" kata Fardhan
Baru saja mengucapkan salam, sambungan telfonnya langsung di putus oleh Fardhan tanpa menjawab salam yang di ucapkan Maira. Maira bertanya tanya dalam hatinya mengapa Fardhan berbicara seperti itu, entahlah yang jelas sekarang ia harus segera pulang ke rumah.
" Syah, aku pulang dulu ya " kata Maira
" ada apa Mai ?" tanya Aisyah
" mas Fardhan sudah pulang, jadi aku harus segera pulang " jawab Maira sambil tersenyum
" iya, pulanglah Mai. Suamimu lebih membutuhkanmu saat ini, biarlah kafe menjadi urusanku dengan Ghina " kata Aisyah
" aku pulang duluan ya, bilangin salam buat anak anak yang lain. assalamualaikum " kata Maira lalu melangkah pergi setelah mengambil tasnya di meja
" waalaikumsalaam " jawab Aisyah
Maira mengemudikan mobil menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, bi Titin menyambut Maira.
" assalamualaikum " ucap Maira
" waalaikumsalaam neng, den Fardhan sudah pulang dan m3nunggu neng di kamar katanya " kata bi Titin
" iya bi, terima kasiih " kata Maira
Maira pun bergegas pergi ke kamarnya, perasaannya jadi kurang enak saat ini. Sampai di kamar ternyata Fardhan sudah menunggunya dengan pakaian yang lebih santai, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
" assalamualaikum mas " ucap Maira samvil menyalami Fardhan
" waalaikumsalam, duduk " kata Fardhan tanpa menoleh
" ada apa mas ? " tanya Maira
" coba jelaskan fhoto ini !" kata Fardhan sambil meletakkan ponselnya secara kasar di meja
Maira melihat fhoto dirinya sedang bersama seorang laki laki. Ia mengingat kalau itu adalah teman Aisyah yang tidak sengaja bertemu di kafe saat besamanya.
" ini teman Aisyah mas, aku disana sama Aisyah " jelas Maira
" jangan berbohong Mai !" tegas Fardhan
" benar mas, aku tidak berhong ! kalau tidak percaya mas tanya saja pada Aisyah !" kata Maira
" baiklah, lalu bagaimana dengan yang ini ?" tanya Fardhan kembali menyerahkan ponselnya
Maira melihat dirinya tengah dipegang oleh laki laki dan Maira dan laki laki itu saling menatap.
" bagaimana ?" tanya Fardhan dengan wajah yang tidak bersahabat
" ini waktu aku kepleset mas, karena saat itu ada anak anak yang tidak sengaja menumpahkan minuman. Dan saat itu aku tidak melihatnya, jadi aku terpeleset dan kebetulan laki laki itu datang entah dari mana " jawab Maira
"hm, banyak alasan ! apa ini yang selalu kamu lakukan saat aku tinggal dinas di luar ?" kata Fardhan menahan emosi
" tidak mas, aku berani bersumpah. Itu semua tidak benar, kalau mas tidak percaya mas tanya saja pada Aisyah. Setiap aku keluar pasti sama Aisyah !" kata Maira
" sudahlah Mai, aku muak mendengar semua alasanmu ! " kata Fardhan merasa kecewa
" mas, tapi yang Mai jelaskan benar benar terjadiΒ Mai tidak menutupi apapun dari mas ! " kata Maira sambil terisak
" sudahlah Mai, jangan pura pura bersedih seperti itu. Kamu tidak merasa kasihan denganku Mai, jauh jauh aku pergi untuk mencari nafkah untukmu tapi apa yang aku dapatkan Mai ? pengkhianatan Mai, kamu mengkhianatiku ! Mungkin karena ini pula sampai saat ini kita belum mempunyai anak, atau mungkin kamu memang tidak menginginkan anak dariku !" kata Fardhan
" kenapa mas berbicara seperti itu ? mas tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku mas, setiap waktu mama kamu selalu menanyakan kapan punya anak. Kamu fikir aku tidak menginginkannya mas, siang dan malam aku selalu menangis berharap bisa cepat mengandung, tapi kamu tidak pernah tahu itu mas. Wanita mana yang tidak ingin mengandung buah cintanya dengan suaminya mas ? Mas tidak pernah tahu, aku selalu merasa tertekan dengan semua ini. Selama ini aku tidak pernah menuntut apapun padamu mas, aku selalu setia menunggu kamu pulang. Tapi apa yang sekarang aku dapatkan mas ? kamu bilang aku mengkhianati kamu mas, lalu untuk apa selama ini aku setia menunggu kamu walaupun aku sering kamu tinggalkan untuk perjalanan bisnis ! untuk apa selama ini aku bertahan mas, untuk apa ?" kata Maira terisak membuat Fardhan terdiam mencerna semua perkataan Maira
Fardhan kemudian pergi ke ruang kerjanya untuk menenangkan fikirannya meninggalkan Maira yang tengah menangis sendiri di kamar. Untung saja kamar di rumah ini kedap suara, jadi suara se berisik apapun tidak akan terdengar keluar.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...
Terima kasiihππ»ππ»