
" sayang, katanya mama sama papa mau pulang besok shubuh " kata Fardhan
" pulang ?" tanya Maira
" iya, katanya ada masalah disana yang mengharuskan mama dan papa pulang kembali. Tapi mama bilang nanti akan kesini lagi kalau masalahnya sudah selesai " kata Fardhan
" tadinya mas juga udah minta mama sama papa tinggal disini saja sama kita, tapi mama dan papa tidak bisa. " sambung Fardhan
" aku udah kira bakal gitu mas, aku tahu mama sama papa sangat menginginkan tinggal disana ! Biarlah mas, itu memang cita cita mama dan papa. Mai faham kok selama ini mama sama papa harus mengurus Mai dan abang juga kantor. Tapi sekarang bang Azka sudah punya kak Nisa yang urusin dan Mai, udah ada mas juga. Jadi mama sama papa mau menikmati masa tuanya dengan beristirahat dan bersenang senang disana, walaupun jiwa pekerja keras papa tidak hilang sampai kini " kata Maira
" sukurlah kalau kamu mengerti, tapi kalau mama dan papa pulang nanti kamu sendirian di rumah sayang ! aku gak bisa terus temaninkamu di rumah " kata Fardhan
" mas tenang saja, Mai udah biasa kok ! Lagian nanti Mai suruh Aisyah main kesini buat temenin Mai, lagian di sini juga masih ada bi Titin mas " kata Maira
" loh, emangnya Aisyah gak kerja ?" tanya Fardhan
" kerja sih mas, tapi sekarang lebih enak ! Dia ngurus kafe, udah gak kerja di kantor abang lagi. Katanya jadi gak betah semenjak aku resign, jadi dia juga ikutan resign " kata Maira
" oh, begitu ! sekarang kita makan dulu ya, kamu harus minum obat. Mau makan di bawah atau mas yang bawakan kesini ?" tamya Fardhan
" disini aja mas, Mai masih belum kuat harus naik turun tangga " jawab Maira
" tinggu sebentar ya, mas ambilkan dulu " kata Fardhan lalu pergi untuk mengambil makan siang
Di meja makan mama dan papa sudah menunggu Fardhan dan Maira untuk makan bersama, tapi yang turun hanya Fardhan saja.
" Maira mana nak ? kok kamu turun sendiri ?" tanya mama
" Mai ada di kamar ma, katanya masoh belum kuat kalau harus naik turun tangga. Jadi Fardhan mau bawa aja makanannya ke kamar ma, mama sama papa makanlah duluan ya !" kata Fardhan
" baiklah, tapi kamu juga makan ya !" kata mama
" iya ma, maaf ya bukannya gak sopan ninggalin mama sama papa makan berdua disini " kata Fardhan merasa tidak enak
" tenang saja, kami faham kok " kata papa
Fardhan membawa semangkok bubur untuk Maira dan sepiring nasi untuknya. Fardhan akan makan berdua di kamar dengan Maira. Sesampainya di kamar, Fardhan meletakkan nampan di atas meja.
" kita duduk di sofa ya " kata Fardhan membantu Maira berdiri
" Mai bisa sendiri mas " kata Maira
" ya sudah, ayo " kata Farfhan membiarkan Maira berjalan sendiri dan ia mengikutinya di belakang
" mas suapin ya !" kata Farfhan meraih mangkok berisi bubur dari nampan
" kok bubur lagi sih mas ?" tanya Maira
" kan anjuran dati dokter gitu sayang, besok baru bisa makan nasi tapi harus yang lembek " jawab Fardhan
" uh, bosen deh kalau makan bubur terus !" kata Maira
" kan biar cepat sembuhnya, makan ya " kata Fardhan menyendokan bubur dan menyuapi Maira
" mas juga makan dong " kata Maira
" iya, nanti setelah suapin kamu baru mas makan " jawab Fardhan
" gak mau, harus bareng " kata Maira manyun
" iya deh iya, mas nurut !" kata Fardhan sambil memakan makanannya
Fardhan makan sambil menyuapi Maira, setelah selesai barulah Fardhan memberikan obat pada Maira dan langsung di minum oleh Maira. Setelah selesai makan, Fardhan kembali ke dapur untuk menyimpan piring kotor. Fardhan masuk kembali ke kamar dan melihat Maira tengah nonton tv.
" bernarkah ? kenapa gak dilihat dari siapa sayang ?" kata Fardhan
" gak ah, kan ponselnya disana mas " kata Maira menunjuk nakas
Fardhan mengambil ponselnya dan memeriksa email yang masuk, ternyata Shandy mengirim bahan untuk meeting beaok bersama klien dari luar.
" sayang, sepertinya mas harus masuk kerja besok " kata Fardhan
" iya mas, tidak apa. Aku juga kan udah baikan mas, lagian kalau mas ninggalin kerjaan terus menerus kasihan Shandy mas " kata Maira
" sukurlah kalau kamu mengerti, terima kasih sayang " kata Fardhan lalu mengecup pipi Maira
" harusnya Mai yang berterima kasih mas, mas udah rawat Mai. Mai ngerepotin mas terus " kata Maira merasa tidak enak
" jangan begitu, itu kan sudah kewajiban mas ! " kata Fardhan meraih Maira kedalam pelukannya
Maira dan Fardhan nonton tv bersama di dalam kamar, tapi Maira meeasa jenuh. Sebenarnya Maira ingin turun ke bawah dan bergabung bersama mama dan papanya atau duduk di taman belakang, tapi takit Fardhan tidak memberinya izin.
" mas " kata Maira
" iya sayang " jawab Fardhan
" Mai mau duduk di taman mas, atau di ruang keluarga aja. Mai bosen mas " keluh Maira
" baiklah, tapi sebaiknya di dalam saja ya, jangan di taman. Kamu kan baru sembuh ! " kata Fardhan
" iya mas " kata Maira dengan berbinar
" ayo, nanti mas bantu pas turunnya " kata Fardhan
" iya mas, terima kasih ya " kata Fardhan
Fardhan mengikuti Maira berjalan di belakangnya, walau Maira berjalan dengan pelan tapi Fardhan tetap sabar mengikutinya. Setelah sampai di ruang keluarga, Maira duduk di kursi yang menghadap layar tv. Ponselnya berbunyi, sebuah notifikasi transfer melalui rekening masuk. Maira tersenyum melihatnya, kemudian ia mengecek email yang masuk.
Maira melihat pesan emailnya dengan serius, ia melihat alur pemasukan dan pengeluaran kedua kafe yang dirintis olehnya dan Aisyah. Maira merasa puas dengan kinerja Aisyah dan karyawan lainnya. Selama dua tahun terakhir pendapatan kafe meningkat walau tidak terlalu signifikan tapi membuat Maira cukup puas.
" lagi baca apa sih, kok serius amat ?" tanya Fardhan
" enggak mas, cuman lihat laman sosmed aja kok " jawab Maira
" oh, kirain lagi baca apa " kata Fardhan lalu merangkul Maira dari samping
Tak lama kemudian mama dan papa bergabung dan ngobrol hingga waktu shalat ashar semua kembali ke kamar masing masing untuk shalat. Mama dan papa merasa lega dan bahagia melihat kondisi Maira yang sudah lebih baik. Jadi keduanya tidak akan terlalu khawatir jika akan kembali ke Sumedang.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
thank you🙏🏻