
Tepat pukul sebelas Azka, Maira dan Shandy baru selesai meeting. Meeting kali ini berjalan sedikit alot karena ada beberapa kendala yang terjadi saat pelaksanaan project, tapi hal itu masih bisa di selesaikan walaupun membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Usai meeting, ketiganya kini kembali ke ruangan Azka. Azka, Maira dan Shandy kini duduk di sofa yang berada di samping meja Azka tak jauh dari jendela. Sejenak Maira mengurut keningnya dengan jari telunjuknya yang mulai berdenyut nyeri, ia lupa harus segera meminum obat yang tadi telah di berikan oleh dokter. Shandy yang memperhatikannya mulai bertanya
" maaf nona tidak apa apa ?" tanya Shandy yang memperhatikan Maira selalu mengurut keningnya dengan jari telunjuk selepas meeting tadi.
" kamu kenapa Mai ?" tanya Azka saat melihat raut wajah Maira nulai berubah menjadi sedikit pucat
" aku tidak apa apa, kalian tidak perlu khawatir ! aku hanya butuh istirahat saja, kalian lanjutkan saja pekerjaan ini. Maaf, sepertinya aku harus pulang !" kata Maira yang berusaha bangun tapi pandangannya seakan menjadi gelap dan ia pun terduduk kembali sambil memegangi keningnya yang terus berdenyut
" kamu pulang dan istirahat saja, urusan pekerjaan hari ini biar abang yang bereskan !" kata Azka
" Shan, tolong antarkan Maira ke rumah ya !" titah Azka
" siap ! kalau begitu saya permisi dulu !" jawab Shandy
Shandy keluar lebih dulu, ia mengambil kunci mobilnya terlebih dahulu, sedangkan Maira kini turun ke loby dan menunggu sendiri.
" mari nona, saya antar !" kata Shandy sambil mempersilahkan Maira masuk kedalam mobil miliknya
" tapi aku juga bawa mobil kemari kak Shandy ! bagaimana dengan mobilku ?" tanya Maira
" biar nanti sopir kantor saja yang mengantarkannya ke rumah, sekarang yang terpenting adalah nona istirahat saja dulu di rumah !" jawab Shandy
Maira hanya nurut saja dengan ucapan Shandy, karena kalau di fikir fikir ada benarnya juga. Maira duduk di kursi depan bukannya di belakang, alasannya karena ia tidak mau menganggap Shandy sopir. Sudah sedari lama Maira menganggap Shandy sebagai kakaknya sendiri. Baginya Azka dan Shandy adalah sosok kakak yang selalu menyayanginya, ya walaupun Shandy bukanlah saudara Maira tapi bagi Maira Shandy adalah kakaknya juga, dan Shandy tidak keberatan. Tapi untuk menyebutnya adik ia masih belum bisa, masih terlalu sungkan baginya.
" Nona apa perlu kita ke rumah sakit untuk memeriksakan luka nona ?" tanya Shandy
" tidak perlu kak ! aku hanya butuh istirahat saja, lagi pula tadi aku sudah pergi ke dokter !" jawab Maira
" tapi apakah benar nona tidak apa apa ?" tanya shandy lagi
" cukup kak ! jangan panggil aku nona nona terus, aku benci mendengarnya ! kalau kakak tidak memanggil namaku setidaknya panggil aku adik saja, jangan panggil aku nona lagi !" kata Maira dengan geeam
" baiklah, aku panggil adik saja ya !" jawab Shandy
" nah, begitu dong kan enak dengarnya !" kata Maira
Maira menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki kemudian ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit yang sedang ia rasakan.
satu jam kemudian...
" dik, kita sudah sampai !" kata Shandy sambil menepuk pelan pundak Maira berkali kali
" ah, maaf kak aku ketiduran ! terima kasih sudah mengantarku pulang, kakak masuklah dulu dan makan siang bersama saja ya ! kata Maira
" maaf, tapi akubtidak bisa !" jawab Shandy
" ayolah kak ! kali ini saja ya, mau ya, ya, ya ya !" pinta Maira memohon
" baiklah, aku akan makan siang disini !" jawab Shandy yang membuat Maira tersenyum bahagia
Shandy dan Maira masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke meja makan yang disana sudah ada mama dan papa.
" loh, kok kalian pulang ? ada apa ?" tanya mama saat melihat Maira dan Shandy pulang, tapi masih belum sadar dengan luka di kening Maira
" Mai sedang kurang sehat ma, makanya Mai pulang di antar kak Shandy !" jawab Maira
" tunggu tunggu ! kening kamu kenapa Mai ?" tanya mama
" Shan, Maira kenapa, kok keningnya di perban ?" tanya mama pada Shandy
" Mai gak kenapa kenapa kok ma, hanya ada insiden kecil saja ! " jawab Maira
" sudah ma, tadi sudah ke klinik ! dan Mai tidak apa apa, hanya luka sedikit dan sekarang butuh istirahat dan besok juga sudah sembuh, insya Allah !" jawab Maira dengan yakin
" beneran kamu tidak apa apa ?" tanya mama
" mama tidak perlu khawatir gitu dong! doakan saja supaya beaok Mai sudah sembuh ya !" kata Maira menenangkan mamanya yang selalu kelewat panik
" oh iya ma, kak Nisa kemana ? kok gak kelihatan ?" tanya Maira sambil celingukan mencari kakak ipar tersayangnya
" kakakmu sedang pergi ke rumah ibunya, ada urusan sebentar katanya ! "jawab papa
" sudah sudah, ayo kita makan ! nanti makanannya keburu dingin jadi gak enak !" kata mama
setelah makan siang, Shandy kembali ke kantor. Sedangkan Maira pergi ke kamarnya untuk mandi dan istirahat sebelum ia memejamkan matanya ia lupa kalau ia harus mengganti perban di keningnya yang basah terkena air dan meminum obat yang sudah di resepkan dokter untuknya.
" ck, kalau begini caranya bisa bisa di keningku ada bekas jahitannya dong ! eh, tapi kan masih ada salep untuk menyamarkan bekas luka, jafi nanti setelah luka nya kering aku harus langsung pakai salepnya !" Maira berkata sendiri sambil bercermin
Saat sedang mengganti perbannya tiba tiba pintu kamar Maira terbuka, ternyata itu mama yang membawakan segelas air mineral.
" astaghfirullah, ini yang kamu bilang tidak apa apa ?" kata mama dengan nada yang meninggi saat melihat luka di kening Maira
" tenang dulu ma, ini memang tidak apa apa kok beneran !" kata Maira berusaha meyakinkan
" papa !" mama berteriak memanggil papa
papa pun lari tergopoh gopoh saat mendengar mama berteriak memanggilnya.
" ada apa ma ?" tanya papa sambil ngos ngosan
" lihat pa, katanya tidak apa apa ! nyatanya luka di keningnya itu sampai di jahit pa !" jawab mama
" kok bisa ?" tanya papa
" beneran ma, pa Mai memang baik baik saja. lagian tadi juga sudah ditangani dokter !" jawab Maira
" berapa jahitan ?" tanya mama dengan cemas
" hanya tiga jahitan kok ma ! udah ah, mama sama papa jangan panik gitu dong ! !" kata Maira
" gimana gak panik ? kamu luka sampai harus di jahit segala ! lihat pa !" kara mama
" kamu beneran gak apa apa nak ?" tanya papa
" beneran pa, ma Mai gak apa apa ! cuman sakit sedikit, habus minum obat juga sembuh kok tenang saja !" jawab Maira
" ya sudah kalau begitu kamu minum obatnya segera dan langsung istirahat ya !" kata papa
" iya pa !" jawab Maira sambil tersenyum
.
.
.
.
.
.
TBC