Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
29


Fardhan memeluk Maira dengan erat seolah olah ia takut kehilangan, Maira pun membalas pelukan Fardhan. Keduanya masih saja merasa canggung, bagaimana tidak selama ini keduanya memang bisa dikatakan selalu dekat tapi tidak seperti pasangan yang lainnya, yang belum nikah saja berani pegang pegang malah berbuat lebih. Hal itu tidak berlaku bagi Maira dan Fardhan. Makanya, disaat sudah halal seperti ini juga Maira juga Fardhan masih merasa canggung.


Maira memang gadis yang baik, tidak banyak bertingkah. Ia selalu apa adanya, tampilannya pun tetap sederhana walaupun sebenarnya ia bisa saja memakai pakaian atau barang yang mewah sekalipun. Tapi semua kembali lagi pada diri Maira, Maira bukan tipe orang yang royal walaupun keadaannya memang bisa dilatakan ia sangat mampu. Maira malah membangun usaha kafe bersama Aisyah sahabatnya tanpa sepengetahuan Fardhan maupun keluarganya sendiri. kamu memang hebat Mai !


" Mas " panggil Maira


" iya sayang !" jawab Fardhan


" nanti aku mau ikut nganterin mama papa pindah ke Sumedang ya mas !" kata Maira meminta izin


" ya pasti dong, kita anterin mama papa sekalian kita nginep disana. Mas mau lihat katanya kota Sumedang itu kota leutik campernik, kota tahu. mas mau deh cobain makan tahu sumedang asli, katanya enak !" kata Fardhan


" iya mas, nanti kita kesana ya ! kita nginep berapa hari ?" tanya Maira menyandarkan kepalanya di dada Fardhan


" kamu maunya berapa hari ? mas bisa atur kok jadwal mas !" kata Fardhan


" terserah mas aja deh, yang penting gak cuman satu hari ! kalau bisa sih dua atau tiga hari hihihi " jawab Maira sambil tertawa cekikikan


" boleh ! kapan berangkatnya ?" tanya Fardhan


" ya kalau di hitung hitung sih satu hati setelah kita pindah rumah ! papa juga katanya udah siapin semuanya disana !" jawab Maira


" oke, nanti mas atur jadwal mas untuk kita supaya bisa berlibur dulu disana ! Sekalian mas juga mau tahu katanya banyak pemandangan yang bagus !" Kata Fardhan


" emang bagus mas, nanti aku ajak mas ke salah satu air terjun yang ada di Sumedang. tempatnya memang jauh dari jalan sih, ngelewatin pesawahan juga hutan tapi kalau udah sampe di tempatnya aku jamin mas bakalan pengen kesana lagi nanti ! aku juga gitu !" kata Maira


" kamu juga pernah kesana ?" tanya Fardhan penasaran


" pernah dong mas, tapi aku baru sekali sih ke air terjun itu tempatnya bagus !" jawab Maira


" wah jadi penasaran ! ternyata isttiku ini berjiwa petualang juga ya !" kata Fardhan


" iya mas, kalau yang berhubungan dengan alam aku pasti paling semangat. Tapi mama sama papa selalu melarang aku katanya 'bahaya anak perempuan kalau selalu berpetualang di alam bebas, kamu belum tahu seberapa kerasnya dan berbahayanya hutan di alam terbuka itu ' " kata Maira sambil menirukan gaya bicara mamanya


" emang iya juga sih, lebih baik anak perempuan itu di rumah, jangan berkeliaran di hutan kan bahaya !" kata Fardhan


" berkeliaran, kayak hewan aja !" kata Maira pura pura merajuk


" duh, kalau merajuk gitu bikin mas jadi gemes deh sama kamu ! " kata Fardhan


" tahu ah, mas mh gitu !" rajuk Maira lagi


" iya deh iya, mas salah ! mas minta maaf ya sayang, istri cantikku yang baik, pinter sholehah !" rayu Fardhan


" dih, ngerayu ! gak mempan ya !" kata Maira


" udah dong marahnya, jangan marah gitu ah jelek di lihatnya !" bujuk Fardhan


" iya, Mai maafin. tapi jangan gitu lagi ya !" kata Maira


aaaaa, kamu bisa aja bujuk dan rayu aku mas. andai kamu tahu hatiku sekarang ini serasa penuh dengan bunga bunga yang bermekaran. Terima kasih mas, kamu sudah mau mengerti aku, walaupun hanya dengan masalah sepele.


batin Maira


Maira pun tersenyum senang saat Fardhan merayunya, ia tak memungkiri kalau hatinya benar benar senang saat Fardhan berusaha membujuknya apalagi memujinya. Ah, betapa bahagianya hati Maira saat ini.


aih, baru gitu aja udah ngambek ! apalgi kalau ngelakuin kesalahan yang besar, bisa mati aku !


batin Fardhan


" sayang " panggil Fardhan


" iya mas , ada apa ?" tanya Maira masih betah bersandar di dada Fardhan


" tidak jadi !" jawab Fardhan sambil terkekeh


" katakan saja mas ada apa ?" tanya Maira


" tidak jadi, nanti saja !" jawab Fardhan


Fardhan membiarkan Maira tidur di dadanya, tapi lama kelamaan mungkin Maira merasa kurang nyaman hingga ia beringsut dan tidur beralaskan paha Fardhan. Fardhan pun masih membiarkan Maira mencari posisi tidur yang membuatnya nyaman. Fardhan hanya bisa mengusap lembut rambut Maira dan sesekali ia mengecup pipi dan bibir Maira bergantian.


####


Sedangkan di kantor saat ini Azka ditemani oleh Nisa. Rencananya Azka dan Nisa akan pergi jalan jalan setelah jam kantor usai.


" sayang, kalau kamu bosan kamu tidur saja di kamar !" kata Azka


" gak mau mas, aku mau disini saja ! " jawab Nisa cemberut


" kenapa cemberut begitu hem ?" tanya Azka


pasti ada yang dia inginkan, huh ribet juga ya ternyata ngehadapin bumil. selain harus banyak berkorban ternyata harus bersabar juga huft... tapi tak apalah demi istri tercinta sama anak tersayang...


batin Azka


" aku mau makan sesuatu mas !" jawab Nisa menunduk


" mau makan apa ? biar mas pesankan !" kata Azka


" mau rujak mas !" kata Nisa sambil mengangkat kepalanya


" jangan makan rujak terus yang, kasihan anak kita nanti ! aku juga gak mau kamu sakit gara gara kebanyakan makan rujak !" kata Azka membuat Nisa kembali menunduk sedih


" jangan sedih begitu ! oke mas bakalan beliin kamu rujak, tapi kamu harus makan dulu ya !" tawar Azka


" gak mau mas, gak nafsu !" jawab Nisa sedih


" haiiiiis... kalau gak mau makan nasi, makan roti saja ya ?" tawar Azka lagi


Nisa mengangguk lemah saat mendengar tawaran terakhir dari Azka. Mending nurut saja makan roti, dari pada gak di kasih makan rujak fikir Nisa. Azka pun menyurus salah satu OB untuk membelikan roti, selai kacang dan rujak untuk Nisa.


" sudah mas pesankan, kamu yang sabar ya !" kata Azka


" terima kasih mas !" jawab Nisa senang


" iya.. istirahatlah dulu nanti kalau pesanan sudah datang mas kasih tahu !" kata Azka


" Nisa nunggu disini saja mas !" kata Nisa kekeh


" oke, terserah kamu saja. Tapi kalau kamu ngantuk nanti tidur di kamar saja ya !" kata Azka


" iya mas !" jawab Nisa singkat


Setelah obrolan barusan, tidak ada lagi yang bersuara baik Nisa maupun Azka. Keduanya fokus pada apa yang mereka pegang saat ini. Nisa sedang fokus dengan ponselnya yang menampilkan sederet artikel tentang kehamilan, dan Azka dia juga fokus pada beberapa file yang tersusun rapi di meja kerjanya. Hingga lima belas menit kemudian Azka menoleh pada istrinya yang kini sudah tertidur sambil memegang ponsel pintarnya.


" huh, sudah dibilangin kalau mau tidur ke kamar. Tapi tetap saja tidak menurut, untung kamu istriku ! " gumam Azka


Azka memindahkan Nisa kedalam kamar yang ada di ruangannya. Didalam kamar ini telah tersusun rapi beberapa pakaian lengkap milik Azka dan Nisa jika sewaktu waktu baju Nisa kotor. Sungguh perhatian sekali Azka pada Nisa.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading..


jangan lupa tinggalkan jejak ya...


terima kasiih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป