Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
130


Fardhan, Azka dan Shandy saat ini telah tiba dilokasi yang ditunjukkan tadi. Ketiganya mulai mencari keberadaan Maira, tapi ditempat itu tidak ada seorangpun yang ditemui. Tapi ada beberapa jejak yang tertinggal disana.


" Lihatlah, disini ada bekas puntung rokok dan botol minuman " ucap Shandy sambil mengeceknya kembali


" ini masih baru " lanjut Shandy


" jadi artinya memang benar Maira dibawa keaini ?" tanya Fardhan lagi memastikan


" sepertinya begitu ! coba kita cek dulu " kata Azka


Ketiganya menggeledah kembali tiap ruangan dalam bangunan tua itu. Didalam kamar yang digunakan oleh Maira tadi ternyata masih meninggalkan jejak, tanda ruangan itu memang sebelumnya dihuni oleh seseorang.


" lihatlah, ini ada tali. Sepertinya tali ini digunakan untuk mengikat Maira disini " kata Azka


" dan bekas makan juga minum ini " kata Shandy sambil mengangkat botol minum dan bungkus nasi


" jadi benar Maira tadi dibawa kesini. Tapi pertanyaannya sekarang dibawa kemana Maira ? " kata Fardhan kesal


" kita sabar dulu, untuk sementara sampai disini saja. Berhubung hari sudah malam kita akan teruskan pencarian ini besok. Kita tunggu informasi dari orang suruhanku dulu, siapa tahu ada informasi bagus. Tapi ingat kita harus tetap tenang ! " kata Shandy


" ya, abang juga sudah menyebar orang suruhan abang untuk mencari Maira. Sekarang kita pulang dan istirahat dulu " kata Azka


Fardhan tak bisa berbicara lagi, memang sata ini hari sudah malam dan ia juga butuh mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian ini dipakai untuk aktifitas yang tidak hanya menguras tenaganya saja tapi juga fikirannya.


Shandy akhirnya mengantarkan Azka terlebih dahulu pulang. Rencananya Shandy akan tinggal di rumah Fardhan sementara waktu untuk menemani Fardhan sampai Maira kembali ditemukan.


Fardhan masuk kedalam kamarnya, ia menatap sekelilingnya. Baru saja ia merasa bahagia saat Maira dinyatakan sembuh oleh dokter dan diperbolehkan pulang, setelah putus asa menghatui fikirannya takut kehilangan sang istri karena penyakit yang dideritanya. Tapi sekarang ia harus berpisah kembali dengan sang istri. Rasa sedih itu terus saja melekat dihatinya, fikirannya terus terarah pada sang istri yang entah dimana kini.


Fardhan merebahkan dirinya diatas ranjang king sizenya yang selalu ia pakai bersama sang istri. Kemudian ia bangkit kembali dan berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian Maira.


" aku sangat merindukanmu sayang ! dimana kamu sekarang ? apa kamu baik baik saja ?" gumam Fardhan sambil memeluk baju yang biasa dipakai Maira


Fardhan terus saja memeluk baju Maira dan menghirup dalam dalam wangi yang menempel dibaju sang istri. Biarlah orang menganggapnya gila karena memeluk baju sambil terus menggumamkan nama sang istri, tapi itu ia lakukan untuk mengurangi rindunya pada sang istri.


Shandy yang berniat akan mengetuk pintu pun mengurungkan niatnya, karena ia melihat kondisi sang majikan dari pintu yang terbuka sedikit. Shandy kembali mengingat saat Maira pergi meninggalkan Fardhan, dan hal itu kembali terjadi. Hanya saja sekarang bedanya Maira dibawa pergi oleh orang lain atau dalam kata laon diculik. Berbeda dengan dulu yang pergi menghindar darinya demi keselamatan suami dan keluarganya.


Fardhan terlelap diatas kasur dengan posisi meringkuk sambil memeluk baju milik Maira. Shandy melihat majikannya yang terlelap kembali menutup pintu dan pergi ke dapur.


" eh, den Shandy ada disini juga " kata bi Titin


" iya bi, untuk sementara saya tinggal disini dulu sebelum Maira kembali " jawab Shandy


" Maira diculik bi, ini kita baru pulang mencarinya " kata Farfhan lalu menenggak minum didalam gelas yang ia pegang dengan sekali tegukan


" ya Allah ya Rabbii... Jadi si neng teh diculik ! sejak kapan "? tadi kan pergi ke kantor den Fardhan buat nganter makan siang " kata bi Titin


" iya bi, tapi pas pulangnya dia langsung hilang. Oh iya bi, masih ada makanan gak ? aku lapar bi " kata Shandy


" makanan masih ada den, sebentar bibi hangatkan dulu " kata bi Titin


" gak perlu bi, nasinya masih hangat kan ?" tanya Shandy


" masih den, sebentar bibi siapkan dulu " kata bi Titin


Bi Titin menyiapkan nasi dan lauknya diatas meja makan. Tanpa berkata lagi Shandy langsung mengambil nasi dan lauknya kemudian menyantapnya. Dia merasa lapar setelah jadwal maoan malamnya terlewatkan melebihi waktunya.


*****


Sedangkan kondisi Maira kini tengah berbaring diatas kasur lantai diselimuti oleh selimut tipis. Tempatnya memang dipinggir rel kereta api yang banyak bangunan, hingga kesan pertama yang ada difikirannya pasti tempatnya panas. Tapi perkiraan Maira salah, justru disaat malam seperti ini hawa dingin terasa menusuk kulit dan berbanding terbalik dengan siang hari.


Maita meringkuk kedinginan, jendela kaca dilapisi tralis besi yang tak ditutup gordeng. Suara berisik dari kereta yang lewat membuat Maira tidak bisa tidur malam ini.


Dalam suasana seperti ini Maira merindukan Fardhan yang selalu memeluknya saat ia merasa dingin. Tapi sekarang pelukan hangat itu rupanya hanya hadir dalam angan angannya saja, karena ia berada jauh dari sang suami dan entah ada didaerah mana sekarang.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


maaf telat up nya🙏🏻🙏🏻