Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
71.


Satu minggu sudah berlalu setelah Aisyah menikah. Saat ini Aisyah kembali mengurus kafe, begitupun dengan Maira. Semenjak sering ribut dengan Fardhan, Maira lebih memilih kembali untuk mengurus kafe yang dirintisnya. Rencananya hari kemarin Fardhan pulang, tapi berhubung ada kendala jadi kepulangannya di undur menjadi hari ini.


Sengaja Fardhan pulang tidak memberi tahu Maira ataupun bi Titin di rumah, katanya biar jadi kejutan. Fardhan tiba di rumah tepat pukul tiga sore. Fardhan langsung masuk kedalam kamar untuk mencari keberadaan Maira, tapi sayangnya Fardhan tidak menemukan Maira dimanapun.


" bi, Maira kemana ?" tanya Fardhan berwajah masam


" neng Maira kalau jam segini belum pulang den, biasanya akan pulang sekitar jam lima sore " jawab bi Titin apa adanya


" jam lima sore baru pulang ? kemana dia bi, apa dia bilang mau kemana sama bibi ?" tanya Fardhan mulai tersulut emosi


" gak bilang den ! semenjak aden pergi ke Kalimantan, neng Maira selalu pergi pagi dan pulang sore setiap hari. Emangnya si neng gak bilang gitu sama aden mau kemana ? " tanya bi Titin


" enggak bi. ya udah, Fardhan mau istirahat dulu ya bi " kata Fardhan berlalu pergi meninggalkan bi Titin


" waduh, kenapa si neng sama si aden yeh gak ada komunikasi gini sih ? apa mungkin lagi ada masalah ? semoga saja tidak ada, dan rumah tangganya baik baik saja " gumam bi Titin


Fardhan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu kemudian ia berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Sebenarnya Fardhan ingin tidur, tapi ada sesuatu yang harus ia pastikan jadi ia tidak bisa terlelap walaupun matanya terpejam.


Pukul setengah enam sore Maira baru saja sampai di rumah, ia tidak menyadari kalau Fardhan sudah pulang jadi ia langsung membersihkan diri saja setelah menyimpan tasnya di meja.


" dari mana kamu jam segini baru pulang ?" tanya Fardhan


" aku... aki habis dari kafe mas ! mas kapan datang ?" kata Maira terbata bata


" dari kafe ? kenapa kamu semakin hari semakin berani saja membantahku ? " tanya Fardhan mulai emosi


" maafkan aku mas, tapi aku merasa sepi di rumah. Jadi aku pergi ke kafe tempat Aisyah " jawab Maira sambil menunduk


" apa aku mengizinkanmu keluar dari rumah ? " tanya Fardhan tegas


" tidak " jawab Maira pelan


" apa kamu meminta izin padaku saat akan keluar rumah ?" tanya Fardhan mulai meninggi


" tidak mas " cicit Maira


" lantas kenapa kamu pergi ? apa karena kamu ingin bertemu laki laki itu hah ?" tanya Fardhan marah


Maira langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Fardhan.


" laki laki yang mana mas ? " tanya Maira baik baik


" alah, gak perlu beralasan ! aku tahu setiap ha4i kamu pergi ke kafe itu untuk bertemu laki laki itu kan ?" desak Fardhan lagi


" laki laki yang mana mas ? di lafe banyak pengunjungnya, bukan cuman satu atau dua laki laki mas, tapi banyak begitupun juga dengan perempuan " jawab Maira


" masih belum amu berbicara juga kamu rupanya ! " ucap Fardhan tersenyum sinis


" katakan padaku siapa laki laki yang sering menemuimu ?" geram Fardhan


Maira berfikir sejenak, ia ingat dengan Rizal yang belakangan ini selalu datang menemuinya.


" oh, laki laki itu ! dia Rizal mas, teman SMP aku. Kebetulan dia lagi ada kerjaan di sini jadi mampir " jawab Maira tersenyum


" lalu apa ini ?" tanya Fardhan sambil melemparkan sebuah fhoto


" dari mana mas mendapatkan fhoto ini ?" tanya Maira


" jangan banyak tanya, jawab !" bentak Fardhan


" itu di danau mas " jawab Maira pelan


" di danau ? bagus ya, aku pergi jauh jauh ke Kalimantan masalah kerjaan tapi kamu disini malah enak enakan pacaran sama si brengsek itu ! " kata Fardhan penuh emosi


" kalau bukan pacaran, kenapa dia selalu menemuimu setiap hari sampai sampai dia tahu dimana lokasimu saat itu ? apa itu kebetulan ? tidak ada yang kebetulan di dunia ini Maira !" emosi Fardhan meluap luap


" tapi yang aku katakan benar adanya mas, aku gak berbohong !" kekeh Maira


" oke, aku butuh bukti untuk meyakinkan ucapanmu itu. Apa kamu sanggup membuktikan kalau kamu memang benar benar tidak bersalah ?" tanya Fardhan


" iya mas, aku akan buktikan sama kamu mas. besok kamu datang sendiri ke kafe, kita minta penjelasan dari dia supaya mas puas " jawab Maira


Fardhan pergi ke ruang kerjanya, ia menghindar dari Maira. Suasana hatinya benar benar sedang dipenuhi emosi, ia tidak mau sampai ia kebablasan dengan melakukan kekerasan fisik.


Pagi hari seperti biasa Fardhan pergi ke kantor dan Maira pergi ke kafe. Ia berjanji akan bertemu dengan Fardhan saat jam makan siang nanti seperti yang telah disepakati.


Maira sampai di kafe pukul delapan pagi, ia langsung masuk kedalam ruangan pribadi yang ada di dalam ruang kerja miliknya dan Aisyah. Maira langsung membaringkan diri diatas kasur, ia berusaha menenangkan hati dan fikirannya yang sedang tidak baik saat ini.


Sedangkan Fardhan, ia langsung melakukan meeting evaluasi bulanan, sejenak ia bisa mengalihkan fikirannya tentang masalah yang sedang dihadapi.


Di kafe, Rizal kembali datang saat jam makan siang. Ia meminta salah satu karyawan kafe untuk memanggil Maira. Waktu begitu tepat sekali, Maira sampai di lantai dasar be4samaan dengan Fardhan yang baru saja datang. Fardhan langsung mengikuti kemana Maira berjalan, ia duduk di kursi bersebelahan dengan Maira dan berseberangan dengan Rizal.


" hallo Mai, apa kabar ?" sapa Rizal


" baik " jawab Maira seperlunya


" oke, langsung saja pada intinya. Aku tidak mau banyak basa basi. Zal, aku minta kamu jelasin sama suami aku kalau kita gak pernah ada hubungan apapun kecuali teman lama !" kata Maira to the point


Fardhan mencoba duduk dengan rilex, dengan tatapan mata yang masih menyorot tajam pada laki laki yang ada dihadapannya kini.


" maksudnya ?" tanya Rizal tidak mengerti


" jelasin kalau kita tidak pernah punya hubungan apapun kecuali berteman " tegas Maira


Mendapatkan kesempatan, Rizalpun mulai berfikir licik.


" teman ? kamu bilang kita hanya teman Mai ? lalu bagaimana dengan hubungan kita selama ini ?" tanya Rizal


" kamu ngomong apa Zal ? jelaskan yang sebenarnya, jangan berbohon seperti ini. Ini sama sekali tidak lucu " kesal Maira


" apanya yang mau dijelaskan Mai ? kita memang punya hubungan kan ! bahkan aku selalu datang menemuimu setiap hari disini untuk makan siang bersama. Kita juga saling mencintai, lalu apa lagi yang harus aku jelaskan ?" kata Rizal meyakinkan


" tapi itu semua tidak benar Rizal ! Kita tidak pernah punya hubungan apapun !" bentak Maira


" sudah cukup ! Mai, pulang sekarang " tegas Fardhan


" tapi mas, yang dia katakan itu tidak benar mas ! aku mohon percaya sama aku mas " pinta Maira


" aku bilang pulang " kata Fardhan menekan kata demi kata yang di ucapkannya


Maira akhirnya pulang bersama Fardhan dan meninggalkan mobilnya di kafe. Hening, tidak ada pembicaraan apapun didalam mobil. Hanya suara deru mesin yang terdengar meramaikan pendengaran saat ini.


.


.


.


.


.


TBC