
Hari terus berganti tanpa terasa jika hari ini adalah hari Sabtu. Maira dan Fardham sedang bersiap siap untuk pergi ke tempat latihan. Maira membawa tas ransel yang berisi baju ganti miliknya dan Fardhan. Fardhan senang melihat Maira yang antusias dengan kegiatan yang akan dia jalani hari ini.
" sudah siap mas " kata Maira
" siap dong, gimana ini kita berangkat sekarang ?" tanya Fardhan
" iya, kita berangkat sekarang " kata Maira lalu meraih tas ransel yang tadi ia siapkan
" sini, tasnya biar mas aja yang bawa " kata Fardhan lalu mengambil alih tas ransel
" memangnya mas gak malu kalau bawa rasel perempuan ?" tanya Maira
" buat apa malu ? bawa ransel juga milik istri sendiri, bukan milik orang lain " jawab Fardhan lalu melangkah mendahului Maira keluar dari kamar sambil membawa ransel dengan PD nya😁
Maira hanya menghela nafas pelan saat Fardhan merebut ransel dan berjalan mendahuluinya. Ia pun menyusul langkah kaki sang suami keluar dari rumah menuju mobil yang terlah siap terparkir di depan rumah.
" silahkan masuk tuan putri " kata Fardhan sambil membukakan pintu mobil untyk sang istri
" terima kasih suamiku sayang " jawab Maira lalu masuk kedalam mobil
Fardhan berjalan memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi.
" sudah siap berangkat sayang ?" tanya Fardhan
" siap bosku😁😁 " jawab maira diaertai cengiran khasnya
" oke, gaskuy " kata Fardhan lalu memulai menjalankan mobilnya
Disepanjang jalan Maira dan Fardhan mengobrol hangat, tak jarang obrolan itu juga dihiasi gelak tawa keduanya.
Sedangkan Azka, Nisa dan papa sedang bersiap akan pergi ke makam mama. Sementara Silmi tidak dibawa, ia dititipkan kepada neneknya (ibunya Nisa).
" sudah siap pa ?" tanya Azka
" siap, ayo " kata papa sumringah
Azka, Nisa dan papa berangkat ke makam bersama menggunakan mobil. Azka yang memegang kendali kemudi, disampingnya ada papa yang menemani. Sedangkan Nisa duduk dikursi bagian belakang.
Sesampainya di makam, ketiganya langsung berjalan menuju makam mama. Dilihatnya pusara sang ibu dengan tatapan sendu, ada rindu yang besar dari sorot mata Azka. Kerinduan yang tak akan pernah terbalaskan dan tertuntaskan, karena yang dirindu telah tiada.
Ma, aku sangat rindu mama. Aku rindu nasehat mama, aku rindu masakan mama. Aku ingin bertemu ma, andai saja aku bisa aku ingin menjumpaimu disana. Tapi alam kita telah berbeda. Aku hanya bisa mengungkapkan rinduku dalam do'a, semoga Allah mengampuni dosa dosa mama. Semoga Allah menjadikan mama ahli surga dan ditempatkan bersama para shalihin. Semoga kelak kita bisa berkumpul bersama dalam keabadian dan kasih sayang Allah, di surganya nanti.
aamiin
ungkap Azka dalam hati
Setetes air mata lolos dari matanya, ia tak dapat mengungkapkan betapa rindunya seorang anak pada sang ibu yang telah tiada. Hal serupa juga terjadi pada papa, papa menangis sambil mengusap batu nisan mama.
Aamiin
do'a papa dalam hati
Perasaan Bisa pun tak jauh beda dengan papa dan Azka. Walau bagaimanapun juga Nisa dan mama sangatlah dekat selama ini. Sampai sekarang Nisa masih belum bisa percaya jika mama mertuanya yang begitu sayang dengannya telah tiada.
Sebelumnya Azka telah memberi tahu Maira dan Fardhan jika ia dan papa akan mengunjungi makam mama. Tapi Maira akan menyusul saja nanti saat pulang latihan saja bersama sang suami. Rasanya tidak enak jika harus membatalkan atau mengundur waktu dari yang telah dijadwalkan sebelumnya.
Setelah pulang latihan, Maira dan Fardhan langsung mengunjungi makam mamanya. Ada rasa sedih dan bersalah dihati Maira saat mendekat kembali menuju pusara mamanya.
Fardhan merangkul bahu Maira yang bergetar sambil menuntunnya berjalan mendekati makam mamanya Maira.
Ma, kenapa sangat sulit tasanya bagi Mai untuk merelakan mama ? Mai masih belum rela mama pergi meninggalkan Maira ma, walaupun Mai sadar jika semua sudah ketentuan yang Allah tetapkan. Makin hari bukannya bisa lupa dengan mama, tapi malah makin berat rasanya ma. Mai merindukan pelukan mama, nasehat mama.
ya Allah, Aku tahu aku sudah berdosa karena hingga kini masih belum bisa mengikhlaskan kepergian mama sampai saat ini. Ampunilah dosa dosa mama ya Allah. Tempatkanlah mama ditempat yang mulia disisi Mu ya Rabb, haramkanlah api neraka baginya kelak ya Allah. Lapangkanlah hati hamba untuk menerima ketetapan Mu ini, sungguh hamba tidak berdaya ya Allah.
aamiin
do'a Maira
Maira terduduk lemas disamping pusara mama, lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Fardhan hanya bisa mengusap bahunya yang terus bergetar menangis. Fardhan tahu seperti apa kesedihan istrinya saat ini, Fardhan juga tahu semua tentang kejadian yang menimpa Maira dan mamanya sebelum mama Maira ditemukan tak sadarkan diri dipinggir jalan.
Ada rasa sakit dan rasa bersalah dihati Fardhan saat melihat Maira yang kembali bersedih seperti sekarang. Bagaimanapun juga Semua kejadian ini ia menjadi salah satu penyebabnya. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Sekarang Fardhan hanya bisa bersiap melindungi keluarga kecilnya bersama dengan keluarga sang istri yang masih terancam hingga kini.
Meski semenjak mama Maira meninggal tidak ada lagi teror yang datang hingga kini, tapi ia tahu kalau bahaya mengancamnya setiap saat dan ia harus selalu waspada dengan segala kemungkinan. Setahun menemani Maira di Jeeman tidak akan membuat Fardhan lengah lagi, ia tetap memantau keselamatan keluarga istrinya.
Beberapa kali juga Fardhan mendapatkan informasi dari orang suruhannya jika rumah tempatnya tinggal dan rumah Azka selalu ada yang mengawasi. Namun sejauh ini Azka dan Fardhan belum melakukan tindakan apa apa, tapi keduanya hanya bersiap sambil memperketat keamanan saja. Selama tidak membahayakan, Fardhan dan Azka tidak akan melakukan apapun. Tapi jika orang itu sudah mulai bertindak, maka ia juga akan melawannya.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
Terima kasih😊