
" Sebenarnya Maira pergi dari rumah bukan karena ia bermasalah dengan suaminya, tapi ada seseorang yang mengancamnya. Taruhannya adalah kalian semua, termasuk menghilangnya mama kalian juga. Semua itu sudah direncanakan, tapi kita masih belum tahu siapa yang melakukannya. Sebenarnya Maira yang telah menyelamatkan mamanya dari tangan orang yang telah menculiknya. Sampai sampai ia diseret dan di kurung didalam ruangan yang gelap dan sempit " jelas Zahra mulai terisak
" maksudmu mengancam bagaimana ? dan bagaimana kamu tahu semuanya ?" tanya Azka
" Maira bilang ada seseorang yang terus menerornya, tapi ia mengabaikan teror itu hingga sebuah video penyekapan tante dikirimkan padanya. Orang itu mengancam akan menyingkirkan Maira dan keluarga, juga perusahaan Fardhan pun akan dihancurkan jika Maira tidak pergi dari hidup Fardhan. Maira menceritakannya padaku setelah aku menemukannya di sekap di dalam rumah tua jang jauh dari pemukiman, lebih tepatnya dipinggir hutan " isak Zahra tak dapat ia tahan
" lalu kenapa ia tidak memberitahuku tentang semua ini ?" tanya Azka
" Karena taruhannya adalah kalian semua. Maira tidak ingin kalian celaka, Maira mengorbankan dirinya sendiri dengan cara pergi jauh dari kalian. Bahkan aku selalu melihatnya murung dan tak jarang ia juga menangis didalam kamarnya sendiri. Aku harap kita bisa mencari jalan keluar dari masalah Maira ini bang, aku tidak tega melihatnya begitu menderita " kata Zahra tertunduk
" ya, kita akan mencari jalan keluarnya bersama. Abang harap kamu mau membantu abang dan Maira " kata Azka dengan sunghuh sungguh
" satu lagi yang harus abang tahu. Maira sedang sakit bang " lirih Zahra
" sakit ? sakit apa ?" tanya Azka sambil mengerutkan keningnya
" kanker darah " lirih Zahra
" jangan bercanda kamu Ra ! candaanmu ini gak lucu sama sekali " kata Azka menyangkalnya
" Rara serius bang, bahkan kemarin abang bertemu dengannya di apotek. Tapi Maira menghindari abang, dan ia mengikuti abang sampai ia tahu ruangan ini. Saat itu Maira baru selesai berobat " jawab Zahra
" sudah berapa lama ?" tanya Azka lesu
" entahlah, tapi yang jelas selama kita tinggal bersama aku perhatikan kondisinya makin menurun " jawab Zahra
" ya Allah, cobaan apalagi ini " ucap Azka merasa frustasi dengan keadaan yang ia hadapi saat ini
" ya sudah, biar nanti abang cari jalan buat penyakit Maira juga. Kamu bantu abang menjaganya, karena abang harus menemani mama disini. oh iya, kalian tinggal di mana ?" tanya Azka
" kami tinggal di jalan xxx tepat di belakang rumah makan khas sunda " jawab Zahra
" kalian tinggal hanya berdua ?" tanya Azka lagi
" iya bang, kita hanya berdua disana. Maira juga minta mama dan adikku juga tinggal bersama kami, tapi mama belum memberi jawaban " jawab Zahra
"apa tidak sebaiknya kalian kembali lagi bersama kami ? nanti abang akan mencarikan rumah untukmu yang dekat dengan rumah kami ?" kata Azka
" entahlah, aku juga tidak tahu bang. Lagi pula aku sedang fokus mengurus rumah makan, jadi tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Tanggung jawabku terlalu besar " kata Zahra
" baiklah, fikirkan saja dulu. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah, abang akan menunggu jawaban dari keputusanmu. Jika kamu bersedia dalam waktu dekat, sekalian abang akan memindahkan mama dan pengobatan Maira " kata Azka
" iya, beri Rara waktu untuk berfikir dan berbicara dulu dengan mama " kata Zahra
Usai obrolan itu, keduanya kembali masuk kedalam ruang rawat. Azka meligat Maira tertidur sambil duduk di kursi dengan tangan yang masih memegangi tangan mamanya.
" sebaiknya abang pindahkan dulu ke sofa, kasihan Maira pasti tubuhnya akan sakit saat terbangun nanti " kata Zahra
Azka kemudian menggendong Maira dan menidurkannya di sofa. Azka menatap lekat wajah adiknya, memang benar apa yang dikatakan Zahra. Wajahnya lebih tirus dibanding saat terakhir ia bertemu, dan jangan lupakan juga wajah pucatnya yang kini selalu setia menghiasi wajahnya.
" Kadang Maira menutupi wajah pucatnya dengan memakai make up, agar ia terlihat baik baik saja. Ia tidak mau orang orang tahu penyakitnya apalagi mengasihaninya ! Aku berharap semoga ada jalan untuk kesembuhannya " kata Zahra
" iya, ara juga berfikir begitu. Biar nanti Ara izin sama mama dulu. Biar ara bisa bantu jagain Maira apalagi kondisinya seperti ini, biar dia gak kesepian. Eh, tapi bagaimana dengan suaminya Mai ?" tanya Zahra
" akan abang kasih tahu nanti, kalau begitu kamu disini dulu. Abang mau minta izin dokter untuk pemindahan mama " kata Azka
" iya bang " jawab Zahra
Azka pergi menemui dokter yang menangani mamanya, ia minta izin supaya mamanya bisa di pindahkan ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan izin dari dokter sore ini juga Azka akan membawa mama dan Maira kembali ke Jakarta. Sedangkan Zahra ia akan menyusul nanti.
" Ra, abang minta bereskan baju baju Maira ya ! tolong bawa kesini, nanti sore kita langsung berangkat. Nanti kamu bilang aja sama abang kalau mama kamu mengizinkan, nanti abang suruh asisten abang yang jemput kamu " kata Azka
" iya bang nanti Ara hubungi abang. eh tapi minta nomor ponselnya dong bang, Ara kan gak tahu nomor ponsel abang " kata Zahra sambil menyodorkan ponselnya pada Azka
" eh iya, maaf abang lupa " kata Azka sambil menepuk keningnya sendiri
Azka mengetik nomor ponselnya pada Zahra dan kemudian di save.
" ini sudah abang save ya " kata Azka mengembalikan ponsel Zahra
" kalau begitu Ara pamit dulu, nanti Ara kesini lagi bawain baju bajunya Maira. Ara pamit bang, assalamualaikum " kata Zahra
" waalaikumsalaam " jawab Azka
Setelah Zahra pergi, Azka memandangi adiknya yang masih tidur diatas sofa. Ia bertekad akan mencari tahu siapa peneror itu dan apa maksudnya, hingga ia melakukan hal seperti ini. Azka merogoh ponselnya dari saku celananya.
tut tut tut
π " Shan, siapkan ruangan VIP di rumah sakit XX untuk sore ini. Dan nanti kamu juga tunggu aku disana, aku ada tugas baru untukmu " kata Azka
π " siap bos " jawab Shandy tanpa banyak tanya lagi
π " terima kasih Shan " kata Azka
π " sama sama " jawab Shandy
Shandy bergegas mengurus apa yang di perintahkan oleh Azka, sekalian ada meeting yang kebetulan tak jauh dari rumah sakit.
.
.
.
.
.
TBC