Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
124


Malam harinya Maira bersama keluarga datang ke rumah Aisyah, karena Fardhan tidak bisa hadir jadilah Maira berangkat bersama abang dan keluarganya. Setibanya disana, Zahra sudah datang dan membantu persiapan makan malam.


Semua duduk bersantai diruang keluarga, mulai dari membahas masalah keluarga hingga masalah perusahaan.


" oh iya kamu kan lagi mengandung Syah, apa kamu akan tetap bekerja ? " tanya Fardhan


" insya Allah kak, hanya saja tidak akan sesering sebelumnya datang ke sana. Aku bisa bekerja dari rumah " jawab Aisyah


" kan ada Zahra yang bisa membantumu juga Syah. Jadi sebaiknya kamu banyak istirahat " saran Maira


" iya, aku pun menyarankan begitu " timpal Arfan


Obrolan mereka terhenti dan diteruskan nanti setelah makan malam. Makan malam kali ini berasa sangat menyenangkan, apalagi ditambah adanya orang tua Aisyah dan juga keluarga Maira, hanya minus keluarga Arfan saja.


Usai makan malam dan ngobrol sebentar, semua pamit undur diri karena malam semakin larut. Maira pulang dijemput Fardhan, karena tadi ia dijemput oleh abang dan papanya. Maira terdiam didalam mobil sambil menatap kosong kearah depan. Fardhan merasa ada yang swdang Maira fikirkan saat ini.


" ada apa sayang ?" tanya Fardhan sambil menggenggam tangan Maira dengan lembut


" hah, tidak ada " jawab Maira tersentak kaget


" jujur saja, ada apa ? aku tahu ada yang mengganjal difikiranmu saat ini " kata Fardhan


" aku berfikir, apa sebaiknya kamu menikah lagi mas ? selama kita menikah hingga kini masih belum juga punya keturunan " kata Maira


" kamu bicara apa sih Mai ! aku paling gak suka dengar kamu bicara masalah menikah lagi " Fardhan tersulut emosi, pasalnya ia sangat tidak menyukai pembahasan mengenai menikah kembali seperti yang selalu Maira sarankan


" tapi kamu butuh keturunan mas, dan aku tidak bisa memberikannya. Lihatlah Aisyah dan Arfan, mereka hampir satu setengah tahun menikah dan sekarang Aisyah mengandung. Sedangkan aku ? kita berumah tangga hampir enam tahun mas, tapi masih juga tidak mengandung. Aku tidak bisa egois mas " litih Maira mulai meneteskan air mata


" ingat Allah Mai, semua Allah yang yang atur ! Mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu yang baik untuk kita, jadi kamu jangan terus mengeluh begini. Aku pusing dengarnya Mai " emosi Fardhan


Maira tak menyahut lagi, ia memalingkan pandangannya pada jendela mobil sambil sesekali menyeka air matanya yang terus menetes. Hingga sampai dirumah tidak ada obrolan dari keduanya, bahkan Fardhan meninggalkan Maira swndiri dalam mobil.


Fardhan merebahkan diri usai mandi, ia memejamkan matanya karena merasa lelah. Beban pekerjaan yang terus membutuhkan pemikirannya membuatnya lelah ditambah lagi dengan perkataan Maira yang membuat emosi dalam dirinya tersulut seketika.


Fardhan membiarkan Maira begitu saja saat ia masuk kedalam kamar. Maira membersihkan dirinya dan berbaring disebelah Fardhan yang kini memunggunginya.


" mas, maafkan aku mas " lirih Maira


Fardhan tidak merespon ucapan Maira karena ia masih merasa kesal pada Maira. Maira dibiarkan begitu saja oleh Fardhan hingga ia terlelap tidur, sedangkan Maira menangis lirih sambil membelakangi Fardhan.


Maira tahu sebenarnya Fardhan tidak pernah menyukai pembahasan yang menyuruhnya untuk menikah kembali, tapi Maira masih saja membahasnya. Bukan tanpa sebab, Maira juga tahu kalau suaminya itu sangat mendambakan seorang anak hadir ditengah keluarga kecilnya.


Memang keputusan yang berat bagi Maira, tapi ia tidak bisa egois. Apalagi jika mengingat keinginan ibunya Fardhan yang ingin segera menimang cucu, hatinya merasa sakit dan merasa sangat bersalah. Setelah lelah menangis, akhirnya Maira tertidur juga dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.


Hingga pagi menjelang, Fardhan sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Maira yang sedang menyiapkan sarapan didapur sendiri, sengaja ia ingin menyiapkannya tanoa dibantu bi Titin. Maira ingin meminta maaf pada Fardhan karena telah membuatnya marah.


" mau sarapan nasi atau roti mas ?" tanya Maira


" aku akan sarapan dikantor, aku sudah telat sebentar lagi ada meeting " ucap Fardhan meraih segelas susu


" mau aku buatkan bekal saja mas ?" tanya Maira


" tidak perlu " sahut Fardhan membuat Maira bungkam


" aku minta maaf mas sudah membuatmu marah " kata Maira sambil menahan air matanya


" percuma saja minta maaf kalau terus diulangi lagi. Aku berangkat " kata Fardhan langsung pergi begitu saja meninggalkan Maira dimeja makan sendiri


Maira menangis menyesali perbuatannya. Ia tidak menyangka jika Fardhan akan marah seperti sekarang, ia sadar jika semua salahnya. Ia tidak bisa jika Fardhan mendiamkannya dan marah seperti ini padanya, ia sangat merasa bwrsalah sekali.


Hilang sudah selera makannya, ia kembali membereskan meja makan dan menyimpan makanan yang ia buat kedalam lemari. Ia langsung pergi kekamar usai semuanya beres. Ia menangis tersedu didalam kamar dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Sedangkan Fardhan ia berada dijalan sedang mengemudikan mobilnya. Sekarang ia akan sedikit sibuk dengan proyek baru yang beberapa hari yang lalu didapatkannya. Sejenak ia bisa melupakan emosinya pada Maira dengan mengalihkannya dengan pekerjaan.


*****


Sedangkan saat ini Nisa sedang bermanja dengan Azka. Sudah beberapa hari ini Nisa sangat manja dengan suaminya, entah kenapa. Bahkan Azka harus rela pergi kekantor siang karena istrinya yang terus saja ingin bermanja.


" aku harus kekantor sayang, ada meeting hari ini. Nanti aku akan usahakan pulang cepat deh, supaya kamu bisa manja manjaan lagi " bujuk Azka


" tapi aku gak mau mas, aku maunya kamu disini aja " rengek Nisa


" aku harus bekerja sayang, kalau aku tidak bekerja bagaimana dengan nasib keluarga kita nanti ? lepas dulu ya, nanti mas beliin deh apa yang kamu mau " bujuk Azka lagi


" bener ya, apapun yang aku mau !" kata Nisa memastikan


" apapun honey " jawab Azka sambil mencubit pipi Nisa gemas


" oke, aku mau nanyi pulangnya beliin aku kue black forest, sama rujak ya " kata Nisa


" insya Allah mas belikan. Sekarang mas harus kekantor dulu ya " kata Azka


" iya mas " kata Nisa tersenyum sumringah


Azka merasa lega akhirnya ia bisa pergi ke kantor segera, masalahnya ada meeting yang harus ia pimpin pagi ini. Dengan hati yang tenang, akhirnya Azka pergi ke kantor.


Sore menjelang, Azka datang dengan membawa pesanan sang istri dan disambut dengan gembira oleh Nisa. Tak lupa ia juga menghadiahkan sebuah kecupan dibibir Azka sebagai rasa terima kasihnya.


" terima kasih mas " setelah mengecup Azka


" jangan menggodaku honey, ini masih sore " kata Azka


" " aku tidak menggodamu mas, hanya berterima kasih saja " kata Nisa gembira


Azka pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Nisa mengambil piring untuk menikmati rujak dan kue yang dipesannya tadi.


Azka tersenyum saat melihat Nisa makan dengan lahapnya. Azka bergidik ketika Nisa memakan buah kedondong yang ada didalam rujak itu.


" gak asam itu buahnya honey ?" tanya Azka


" enggak mas, malah ini enak banget loh ! mau coba ? " tanya Nisa sambil menyodorkan potongan buah bercita rasa asam itu padanya


" tidak, terima kasih. Kamu saja yang makan, tapi jangan kebanyakan ya ! Aku tidak mau nanti kamu sakit perut " kata Azka mengingatkan


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊