Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
63


pukuk tiga sore Maira bergegas pulang ke rumahnya, ia harus berada di rumah sebelum Fardhan. Akhirnya Maira sampai di rumah pukul setengah empat lebih, ia langsung membersihkan diri. Hari ini Fardhan pulang pukul lima karena jalanan macet, sesampainya di rumah ia melihat istrinya tengah duduk sambil membaca buku.


Fardhan menghampirinya dan mengecup pipinya dari arah samping membuat Maira terkesiap.


" mas ih, ngagetin aja !" kata Maira


" habis, aku ucapin salam kamu gak jawab. Malah anteng baca buku !" kata Fardhan


" iya, maaf ya mas ! " kata Maira


" gimana tadi ketemu Aisyah nya ? " tanya Fardhan


" ada, lumayanlah mas ilangin jenuh daripada di rumah sendirian " kata Maira


" udah sembuh dong sakitnya kalau idah bisa keluar !" goda Fardhan


" alhamdulillah mas, udah dong " kata Maira semangat


" iya gitu ?" tanya Fardhan


" insya Allah mas. Walaupun masih dalam tahap pemulihan tapi harus tetap optimis mas, karena sugesti dan semangat kita itu yang utama sebagai obat penyembuh " jawab Maira


" hebat !" kata Fardhan sambil mengacungkan kedua jempolnya


" ya udah, mas mandi dulu gih " kata Maira


" mandiin ya !" goda Fardhan sambil mengedipkan matanya


" mas ih, mesum ! udah sana mandi !" kata Maira


" apanya yang mesum sih sayang, kan cuman bilang gitu doang ! lagian mesum sama istri sendiri mah gak apa apa, malah dapat pahala apalagi ngelakuin yang lebih " kata Fardhan


" iya deh iya ! udah ya suamiku, sekarang mas mandi dulu biar wangi !" kata Maira


" iya sayangku " kata Fardhan lalu beranjak ke kamar mandi setelah menyimpan tas dan membuka sepatunya


Maira menyimpan tas dan sepatu suaminya di tempat biasa, kemudian ia duduk kembali di sofa sambil menunggunya selesai mandi. Tiga puluh menit kemudian Fardhan sudah selesai mandi, ia mengenakan celana pendek berwarna cream dan kaos putih. Fardhan mengambil sisir di meja rias Maira dan memberikannya pada Maira, Maira sudah tàhu apa maksudnya. Fardhan duduk di samping Maira dan Maira langsung berdiri unruk menyisir rambut Fardhan. Hal serupa juga kadang di lakukan Fardhan pada Maira.


" mas, aku mau tanya deh " kata Maira


" tanya apa sayang ?" tanya Fardhan


" mas seandainya aku gak bisa kasih kamu keturunan, apa kamu akan menikah lagi ? " tanya Maira dengan mata berkaca kaca sambil menyisir rambut Fardhan


" kalau untuk mas tidak, sayang ! Bagi mas menikah itu hanya sekali seumur hidup. Dan untuk masalah anak, setiap orang yang sudah berumah tangga pasti menginginkan yang namanya anak. Tapi semua kembali kepada kuasa Allah " jawab Fardhan


" tapi mas... " kata Maira terpotong oleh ucapan Fardhan


" sayang, dengarkan mas dulu ! kita menikah baru dua tahun lebih,masih ada banyak waktu bagi kita. Mungkin Allah saat ini masih memberi kita waktu untuk berdua, nanti kalau sudah ada anak beda lagi kesibukannya kan ! banyak orang di luar sana yang menikah sudah lama, bahkan hapir enam atau tujuh tahun baru mereka punya anak. Apalagi kita yang hanya baru dua tahun lebih, kamu yang sabar aja ya ! " kata Fardhan


" iya mas, terima kasih sudah mengerti " kata Maira menghambur kedalam pelukan Fardhan dan menangis terisak disana


" udah ah, jangan nangis lagi ! kalau nangis jadi gak cantik lagi, coba mana senyumnya mas mau lihat " kata Fardhan sambil menaikkan dagu Maira


Maira pun tersenyum walau masih berlinang air mata. Ia merasa bahagia karena Fardhan selalu bisa sabar dan memahami isi hatinya.


...***...


Saat ini Aisyah sedang sibuk mengurus beberapa berkas yang harus ia selesaikan, hari ini Aisyah sangat sibuk karena Ghina tidak masuk kerja katanya sakit. Niatnya Aisyah akan menjenguk Ghina sepulangnya dari kafe nanti. Karena terlalu fokus, Aisyah tidak menyadari kalau Arfan sudah mengetuk pintu ruangannya berkali kali hingga Arfan memuyuskan untuk langsung masuk saja.


" assalamualaikum " ucap Arfan


" waalaikumsalaam " jawab Aisyah


" kan emang udah jam pulang kantor, kamu aja yang terlalu fokus sampai gak sadar kalau udah hampir jam lima sore " jawab Arfan


" ya ampuuun !" decak Aisyah sambil menepuk keningnya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


" ayo berangkat ! katanya tadi mau tengokin siapa namanya, duh lupa " kata Arfan


" Ghina mas !" kata Aisyah


" iya, ayo berangkat sekarang ! nanti kemalaman pulangnya " kata Arfan


Aisyah dan Arfan pergi menggunakan mobil Arfan, karena hari ini Aisyah sengaja tidak membawa mobil ke kafe. Aisyah dan Arfan pergi ke tempat yang telah Ghina kirimkan sebelumnya.


Tiga puluh menit menyusuri jalanan, kini sampailah Aisyah dan Arfan di sebuah rumah kecil yang nampak bersih dan terawat. Ya, Ghina pandai sekali merawatnya. Rumah ini adalah rumah kontrakan, Aisyah adalah orang pertama yang datang berkunjung ke rumahnya.


tok.. tok.. tok..


" assalamualaikum " ucap Aisyah sambil mengetuk pintu


" waalaikumsalaam " sahut Ghina dari dalam


" Ghin, ini kakak " kata Aisyah


Tak lama Ghina membuka pintu dan mempersilahkan masuk dan duduk. Aisyah melihat wajah Ghina yang bergitu pucat, tubuhnya juga bergetar.


" kamu sakit apa Ghin ? " tanya Aisyah


" kata dokter demam biasa kak mungkin karena kemarin kemarin kan hujan terus kak, aku pulang kehujanan karena lupa bawa payung " jawab Ghina


" ya ampun, lain kali harus persiapan Ghina " kata Aisyah


" iya, maaf ya kak ! oh iya gimana kabar kakak sendiri sama kak Maira ? " tanya Ghina


" alhamdulillah baik, eh iya ini kakak bawakan makanan sama buah buahan " kata Aisyah sambil memberikan kresek di tangannya


" terima kasih kak, harusnya gak perlu kayak gini. Aku jadi ngerepotin kakak deh, maaf ya " kata Ghina


" tidak apa, jangan sungkan begitu ! bagi kakak sama kak Maira kamu adalah adik kita juga, makanya jangan sungkan gitu ah ! " kata Aisyah


" iya kak, terima kasih ya ! maaf kak, gara gara Ghina sakit jadi ngerepotin kakak juga " kata Ghina pada Arfan


" tidak apa, jangan berfikir seperti itu ! kamu juga sudah kakak anggap adik kok " jawab Arfan


" terima kasih ya kak, semenjak Ghina kerja di kafe milik kakak sama kak Maira Ghina jadi berasa punya keluarga " ucap Ghina sendu


" kita emang keluarga Ghin ! emangnya kamu gak inget apa papa sama mamanya Maira udah anggap kamu seperti anak mereka ! Jadi kita itu adalah keluarga, walaupun tidak ada ikatan darah " kata Aisyah


" iya kak " sahut Ghina


Gina dan Aisyah ngobrol tentang pekerjaan hari ini dan Arfan hanya bisa menjadi pendengar setia saja. sekitar setengah jam berada disana, akhirnya Aisyah mengajak Arfan untuk pulang karena sudah hampir maghrib.


.


.


.


.


.


TBC