Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
89


Setelah sampai di rumah sakit, Maira langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan. Setelah hampir satu jam akhirnya dokter Evan keluar dari ruangan.


" Bagaimana keadaannya ?" tanya Azka cemas


" iya dok, bagaimana ?" timpal Zahra


" seperti yang sudah saya bilang kemarin, sebaiknya Maira segera melakukan kemo. Dan untuk saat ini Maira masih belum sadar juga, kita tunggu perkembangan kedepannya. Dan jika kondisinya terus menurun maka akan kita pindahkan ke ruang ICU " jelas dokter Evan sambil menghela nafas berat


" ya Allah " lirih Azka


" tapi apa boleh kita menjenguknya dok ?" tanya Zahra penasaran


" boleh, tapi hanya satu orang saja yang menemuinya " jawab dokter Evan


Zahra menyuruh Azka untuk masuk terlebih dulu kedalam untuk menemui Maira. Dilihatnya sang adik sedang terbaring lemah tak sadarkan diri degan wajah yang pucat.


" kamu harus kuat Mai, kamu harus sehat dan sembuh kembali seperti sedia kala. Kamu tahu sendiri mama juga masih belum sadar, apa yang harus abang katakan pada papa nanti ? cepatlah bangun Mai, kakak tahu kamu kuat " isak Azka tak dapat di bendung lagi


" kamu tahu Mai, setiap kali Nisa menelfon dia selalu bilang kalau Silmi selalu menanyakanmu. Apa kamu tega membiarkan mereka tahu kondisimu yang seperti ini ? sadarlah Mai, abang mohon sadarlah " tambah Azka


Azka pun kembali keluar dari ruangan, ia tak mampu membendung air matanya yang sedari tadi berjatuhan mengalir di pipinya. Batu kali ini Shandy melihat Azka terpuruk seperti ini, Shandy juga bisa melihat begitu besar kasih sayang seorang Azka terhadap keluarganya.


" bang, Ara masuk kedalam ya " izin Zahra


" masuklah " jawab Azka


Zahra masuk kedalam ruangan dengan langkah gontai. Ia begitu sedih saat melihat sahabatnya terbaring lemah tak berdaya. Perlahan ia usap keningnya dengan lembut,, kemudian ia raih jemarinya dan menggenggamnya dengan erat.


" Aku tahu kamu wanita yang tangguh, kamu baik, shalehah, kamu kuat. Aku tahu, kamu saat ini sedang lelah dengan takdirmu yang terus menerus menempamu setiap waktu. Kamu bisa melewati ini semua Mai, berjuanglah untuk sembuh ! jangan biarkan kami yang selalu ada disampingmu kecewa karena kamu menyerah dengan takdirmu ! Jika memang kamu lelah, maka istirahatlah sekarang. Tapi bangunlah lagi agar aku bisa melihatmu tersenyum. Kamu tahu Mai, saat kamu datang padaku beberapa waktu yang lalu ? saat itu aku juga merasakan kalau saudaraku yang jauh dirantau telah pulang, aku bahagia sekali. Saking bahagianya aku sampai berjingkrak jingkrak, melompat lompat didalam kamar sambil tertawa dan menangis yang menjadi satu. Bagiku kamu bukan sekedar teman atau sahabat, tapi bagiku kita sudah seperti kakak beradik.


Sadarlah Mai, masih banyak orang yang membutuhkan kamu. Masih banyak orang yang mencintai kamu dan berharap kamu bisa berjuang melawan penyakit ini. Lihatlah abangmu, dia begitu rapuh melihat kondisimu uang seperti ini. Kamu salah satu penyemangat abangmu untuk tetap kuat Mai, apa kamu tidak tahu ? Aku melihat abang menangis dalam diamnya sambil menatapmu setelah abang tahu keadaanmu yang sesungguhnya ! Itu pertama kalinya aku melihat abang menangis.


Berjuanglah Mai, kita akan selesaikan masalah yang sedang kamu hadapi bersama sama. Aku mau kamu hidup bahagia kembali, cepatlah sadar. Banyak orang yang menyayangimu. kamu pasti kuat kamu pasti bisa bertahan, kamu harus berjuang untuk sembuh !


Aku tahu kamu masih bisa mendengar ucapanku, kita semua menyayangimu Mai. Kita akan menunggumu sadar dan kembali pada kita. Berjuanglah untuk sembuh, kami akan selalu bersamamu, sadarlah " ucap Zahra panjang lebar iiringi isakan


Setelah berucap panjang lebar, Zahra pun kembali keluar dari ruangan. Bahkan ia tak menghiraukan tatapan Shandy yang memandangnya terus. ketiga insan itu pun sibuk dengan perasaan dan fikirannya masing masing.


" maaf pak Azka, dokter Ferdy menunggu anda di ruangannya " kata suster tiba tiba mengagetkan


" memang ada apa sus ?" tanya Azka


" maaf, saya tidak bisa menjelaskannya. Lebih baik bapak segera menemui dokter Ferdy " kata suster lagi


" baiklah saya akan segera ke sana " jawab Azka


" pergilah, aku akan menunggu disini " jawab Shandy


Azka pun berlalu dan berjalan menuju ruangan dokter Ferdy. Setelah sampai didepan ruangan, ia menghela nafas sejenak untuk menenangkan fikirannya sejenak. Walaupun ia harus bisa menerima kenyataan pahit sekalipun yang akan dokter katakan tentang kondisi sang mama.


tok tok tok


" masuk "


"silahkan duduk pak Azka " kata dokter Ferdy


" terima kasih dok. Oh iya, ada apa dokter memanggil saya kemari ? " tanya Azka dengan jantung yang berdegup kencang


" maaf sebelumnya saya harus mengatakan kalau kondisi ibu anda kembali kritis. Kami akan berjuang semaksimal mungkin untuk ibu anda, tapi harapan untuk kesembuhannya juga sangatlah tipis pak. Banyaklah berdo'a agar ibu anda bisa secepatnya sadar " jelas dokter Evan


" lakukan yang terbaik dok, sudah tentu pasti kami sebagai keluarga selalu mendoakan kesembuhan beliau. Lakukanlah yang terbaik " jawab Azka


Setelah berpamitan pada dokter, Azka pun keluar dari ruangan dokter dengan langkan gontai. Hari ini ia harus menghadapi kenyataan yang begitu berat ia pikul. Kondisi kedua wanita yang selali special di hatinya sedari dulu kini keduanya tengah berjuang antara hidup dan matinya.


***ya Rabb,,,


hamba tahu, Engkau tidak akan memberikan ujian pada seorang hamba diluar kadar kemampuannya. Kuatkanlah aku ya Rabb, sembuhlanlah mama dan adik hamba Maira. Sehatkanlah keduanya seperti sedia kala, aamiin***


doa Azka dalam hati


.


.


.


.


.


TBC


happy reading😊


maaf ya kalu episode ini gaje bangeeeeet🙏🏻🙏🏻 maklumlah, masih pemula.. Cuman ngembangin hobi bikin cerita, walaupun ceritanya gaje bgt yaaa...


tapi mudah mudahan readers suka dan maklum ya😊


terima kasih sudah mampiir