Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
142


Setelah sarapan keduanya bersiap siap untuk pergi ke rumah Azka, rencananya Maira dan Fardhan akan menghabiskan hari liburnya dengan keluarga. Makanya akan pergi pagi pagi biar terasa puas quality time dengan keluarga katanya.


" mas, udah belum ?" tanya Maira


" udah sayang, tunggu sebentar " kata Fardhan


Ya, memang Maira lebih cepat bersiap ketimbang Fardhan. Walaupun Fardhan seorang laki laki, tapi jika bersiap siap untuk pergi biasanya Fardhan akan sedikit lebih lama dari Maira ( ini aslinya emang ada ya ๐Ÿ˜).


Biasanya wanita yang akan lebih lama berdandan saat akan bepergian, tapi hal itu berbeda dengan Fardhan. Tapi Maira tidak mengeluhkan dengan apa yang Fardhan lakukan, karena setiap orang akan punya kepribadian dan kebiasaannya masing masing.


Setelah selesai bersiap, Fardhan turun sambil menggandeng tangan sang istri. Wajahnya terlihat bahagia belakangan ini, hal itu bisa Maira rasakan setelah Kirana dimaeukkan ke rumah sakit jiwa. Masalah perusahaannya pun sudah kembali stabil, karena memang masalah di perusahaan itu juga salah satu dari rencana Kirana.


Fardhan dan Maira mampir sebentar ke mini market untuk membeli beberapa makanan dan buah buahan untuk dibawa sebagai buah tangan. Walaupun akan berkunjung ke rumah abangnya sendiri, Maira selalu merasa kurang afdhol jika tidak membawa buah tangan.


Apalagi jika mengingat Silmi, anak sekecil itu pasti akan memburu oleh oleh yang dibawa. Walaupun oleh oleh itu dirasa makanan atau seauatu yang dusah biasa, tapi tetap saja namanya anak pasti akan senang saat mendapatkannya.


Maira dan Fardhan langsung kembali masuk kedalam mobil dan mengemudikannya menuju rumah Azka. Kebetulan sekali Aisyah dan Zahra sedang berada di rumah Azka. Rasa rindu Maira pada Aisyah terbalaskan juga akhirnya. Keduanya saling memeluk merasa bahagia karena bisa bertemu kembali.


" kebetulan banget kamu disini, aku kangen sama kamu Syah " kata Maira setelah melepaskan pelukannya


" aku juga kangen, tadinya aku mau ke rumah kamu. Eh ternyata kita bertemu disini, kebetulan banget ya. Bagaimana keadaanmu sekarang ?" tanya Aisyah sambil merangkul bahu Maira


" alhamdulillah baik, kamu bagaimana ?" tanya Maira kembali


" aku juga baik, alhamdulillah " jawab Aisyah tersenyum manis


Semua berkumpul di rumah Azka, terdengar gelak tawa mereka saat mendengar ocehan Silmi yang terdengar lucu. Waktu terus berputar hingga waktu sore tiba, sebelumnya Aisyah sudah pulang saat setelah makan siang tadi. Sedangkan Zahra masih ada disana dan seperti biasa dia menunggu sang pujaan hati menjemputnya.


Oh iya, dalam waktu dekat juga Shandy akan melamar Zahra secara resmi. Dan acara lamaran akan diselwnggarakan di rumah Zahra yang ada di Banten. Rencananya juga setelah acara lamaran itu tidak akan lama akan digelar pesta pernikahan keduanya. Shandy memutuskan untuk tidak menunggu lama lama.


pepatah mengatakan jika diibaratkan tanaman yang dibiarkan berlama lama maka akan diserang hama. Begitu juga dengan hubungan, Shandy tidak mau Zahra menjadi goyah dan berpaling darinya. Makanya ia tidak mau menunda waktu lama.


Kabar itu membuat Maira dan Fardhan merasa bagia. Fardhan dan Maira sebenarnya sudha menyiapkan hadiah untuk Shandy. Hadiah itu sudah dipersiapkan Fardhan sebelum Shandy memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Zahra.


Setelah adzan maghrib berkumandang, barulah Zahra pulang diantar oleh Shandy. Sebelumnya Shandy sedang mengurus usahanya yang ia dirikan. Selain bekerja dengan Fardhan, Shandy juga membuka usaha sendiri. Shandy membuka toko pupuk dan benih di salah satu perkampungan, ia juga menanamkan hasil usahanya di bursa saham. Ya walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi bukankah pepatah mengatakan sedikit sedikit lama lama jadi bukit dan anak kecil saja melalui fase dari mulai dari merangkak kemudian belajar berjalan.


*****


Dua bulan kemudian...


Saat ini Maira dan Fardhan tengah duduk bersama sambil menikmati secangkir kopi dan teh di halaman nelakang rumah mereka. Usai pulang dari kantor tadi Fardhan mampir ke toko kue untuk membelikan kue black forest kesukaan Maira.


" sayang, kok rasa kue nya sama dengan yang selalu kamu buat loh " kata Fardhan setelah memasukkan potongan kue


" ah masa sih mas " kata Maira karena masih belum merasakan kue yang dibelikan oleh suaminya


Maira mengambil satu potong kue yang telah dipotong oleh bi Titin dan diletakkan didalam piring.


iya, kok radanya sama ya ? apa jangan jangan ini memang dari tokoku


fikir Maira


" memang mas belinya dimana ?" tanya Maira


" di toko yang ada di jalan xxx, nama tokonya mas lupa " jawab Fardhan


" oh, pantesan rasanya sama, orang dari tokoku sendiri " gumam Maira masih bisa didengar oleh Fardhan yang duduk disebelahnya


" maksudnya toko sendiri bagaimana sih ?" tanya Fardhan sambil mengerutkan keningnya


" it.. ituu, emang toko yang aku buka mas " jawab Maira pelan sambil tersenyum kaku


Maira hanya mengangguk menanggapi ucapan Fardhan, ia takut suaminya akan marah. Karena ia membuka usaha tanpa berbicara dulu dengan suaminya.


" kok kamu takut gitu sih ? tenang saja, aku gak bakalan marah kok. Malah aku senang istriku membuka usaha itu artinya kamu membuka peluang untuk pengangguran supaya bisa bekerja. Aku bangga loh sama kamu, ternyata istriku hebat " kata Fardhan tersenyum senang


" terima kasih mas, doakan usahan Mai supaya bisa lebih maju ya " kata Maira


" tentu saja " jawab Fardhan


Fardhan mendukung Maira dengan usaha yang dibukanya, walaupun ia tidak terlalu suka awalnya. Tapi setelah difikir fikir hal itu akan mengurangi kejenuhan Maira saat ia tinggal pergi.


" tapi sayang, kamu kan gak pernah keluar kalau bukan untuk menemui Aisyah. Lalu siapa yang mengurus usaha toko kuemu disana ?" tanya Fardhan


" ada, aku sudah menempatkan orang yang aku percaya disana sebagai penanggung jawab. Aku akan kesana jika dibutuhkan saja, semua laporan pengeluaran dan pemasukan itu langsung dikirim ke emailku. Jadi aku tidak perlu bolak balik untuk mengeceknya " jawab Maira


" beruntungnya aku punya istri sepertimu sayang " kata Fardhan


Setelah hari kian menggelap, Maira memutuskan untuk masuk saja ke rumah. Lagi pula sebentar lagi adzan maghrib, jadi sekalian saja bersiap untuk shalat berjamaah.


" sayang, kok mas lihat kamu shalat terus ? Apa kamu masih belum mendapat tamu bulananmu hingga kini ?" tanya Fardhan


Ya, wajar saja Fardhan menanyakan hal itu pada sang istri. Pasalnya sang istri masih belum mendapatkan tamu bulanannya setelah menginap di rumah abangnya dua bulan yang lalu.


" belum mas " jawab maira


" mungkin kamu hamil sayang, nanti kita cek ya " kata Fardhan


" entahlah mas, tapi aku tidak merasakan apa apa layaknya orang hamil " kata Maira


" tidak apa, kalau masih belum berhasil juga kita masih punya banyak waktu kok ! nanti besok kita cek ya " kata Fardhan


" iya mas " jawab Maira lesu


Setelah melakukan shalat Maghrib, Maira dan Fardhan akan membaca al Qur'an bersama. Keduanya larut dalam suasana yang membuat keduanya nyaman dan merasa tenang. Hingga adzan isha keduanya kembali melaksanakan shalat berjama'ah.


Setelah shalat keduanya baru makan malam dan tidur. Tidak seperti biasanya Maira bangun dan langsung ke kamar mandi, ia tidak membangunkan Fardhan.


Maira saat ini tengah memegang test pack yang masih ada didalam laci dekat wastafel, perlahan ia membuka matanya saat akan melihat hasilnya.


Ia tak terlalu berharap banyak, ia takut kecewa. Tapi kenyataan seolah berpihak padanya saat ini, Maira melihat dengan jelas benda yang ia pegang menunjukkan dua garis merah jang terlihat jelas. Itu artinya ia sedang mengandung saat ini, Allah menjawab do'anya.


..."""TAMAT"""...


.


.


.


.


.


Happy reading..


Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu dan membaca karya rose yang masih amatiran ini. Rose minta maaf bila alur cerita tak sesuai dengan apa yang readers inginkan. Rose berfikir nantinya akan buat sad ending saja, tapi setelah di fikir fikir lwbih baik mending happy ending aja.


Oh iya, buat yang punya komentar dan saran boleh banget ya Rose tunggu...


Terima kasih readers, sampai jumpa di cerita baru Ros eberikutnya...