
Zahra terlihat menghela nafas kasar setelah menerima telfon dari Azka. Inilah yang Zahra khawatirkan dengan kondisi Maira.
" kenapa Ra ?" tanya Aisyah kepo
" Maira drop lagi " jawab Zahra lesu
" terus sekarang bagaimana ? " tanya Aisyah lagi
" masih belum sadar, dia dirawat di rumah sakit " jawab Zahra
" kalau begitu kita bereskan saja pekejaan kita dan tutup kafe segera, kita ke rumah sakit sekarang " kata Aisyah
" tapi..." ucapan Zahra dipotong oleh Aisyah
" tidak ada tapi tapian. Masalah kerjaan besok kita selesaikan, sekarang kita pergi ke rumah sakit " kata Aisyah
Setelah selesai membereskan mejanya dari beberapa berkas yang sedang ia periksa, Aisyah langsung menelfon Arfan untuk meminta izin. Setelah mendapat izin, Aisyah dan Zahra langsung pergi ke rumah sakit yang sebelumnya sudah diberi tahu oleh Azka lewat pesan.
Setelah sampai keduanya langsung menuju ruangan Maira dan dilihatnya Fardhan baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegangi handuk.
" assalamualaikum " ucap Zahra dan Aisyah
" waalaikumsalaam. Eh kalian kesini " kata Fardhan
" iya, kami dapat kabar dari abang kalau Mai drop lagi makanya kami kesini " kata Zahra
" oh iya, bagaimana keadaannya sekarang kak ?" tanya Aisyah
" kata Evan sudah mulai stabil, tapi dia masih belum sadar juga sampai sekarang " kata Fardhan
" maaf, bagaimana ceritanya Maira jadi drop seperti ini ? " tanya Zahra
" aku juga tidak tahu, yang pasti saat aku pulang ke rumah dia memang terlihat tidak sehat. Dia berusaha mengambilkan baju ganti untukku, tapi dia langsung ambruk begitu saja " jelas Fardhan
" mungkin karena fikirannya belum sepenuhnya membaik setelah meninggalnya mama, bisa jadi hal itu ia pendam sendiri " kata Aisyah
" ya, iti bisa di mengerti juga. Karena selain terlalu banyak fikiran bisa jadi juga ia terlalu lelah mengerjakan sesuatu " timpal Zahra
" ya, aku harus mencari tahu penyebab Maira bisa seperti ini " tekad Fardhan
Aisyah dan Zahra pun mendekati ranjang Maira, dilihatnya Maira masih belum membuka mata dengan wajah yang pucat.
" aku ngerasa dia kurus banget ya " gumam Aisyah pelan
" iya memang dia kurus, pas ketemu aku lahi dia jadi kurus. Setahuku dulu dia itu badannya proporsional, tapi pas ketemu dia kurus gith aku juga sampai bengong lihatnya " kata Zahra
" oh iya kak, Maira sakit apa ?" tanya Aisyah
" kanker darah " lirih Fardhan
" what ?" pekik Aisyah lalu memandang Fardhan dan Zahra bergantian
" ya, kanker darah stadium tiga " jawab Fardhan
" tunggu, tunggu ! kok kamu ekspresinya gitu ? kamu udah tahu Ra ?" tanya Aisyah dan langsung diangguki oleh Zahra
" sejak kapan ?" tanya Aisyah
" sebelum kejadian Maira di Banten yang harus bebasin mamanya " jawab Zahra
" kenapa kamu gak ngasih tahu aku ?" tanya Fardhan
" karena Mai gak mau orang lain tahu. Itupun aku ngasih tahu abang dia juga marah, tapi karena terpaksa lihat kondisi Maira yang gitu makanya aku kasih tahu abang " jawab Zahra
" terus kalian selama ini dimana ?" tanya Aisyah
" di Banten " jawab Zahra singkat
Mendengar jawaban Zahra membuat Fardhan teringat kembali kalau ia harus segera menyusun rencana untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kirana yang sudah mengganggu rumah tangganya. Apalagi karena kelakuan Kirana itu sampai menyebabkan mertuanya meninggal.
" siap, tenang saja " jawab Shandy
Sejenak mata Zahra dan Shandy saling tatap dan beberapa detik kemudian keduanya tersadar dan memalingkan muka sambil tersipu malu.
" eh, ada kak Shandy. Apa kabar kak ? " sapa Aisyah
" alhamdulillah baik " jawab Shandy
" kak Shandy sejak kapan disana ?" kali ini Zahra yang bertanya
" sejak kalian masuk aku sudah ada disini. Kalian saja yang tidak memperhatikan sekitar " kata Shandy santai
Ya, memang tadi begitu datang Fardhan belum mempersilahkan Aisyah dan Zahra untuk duduk. Karena kesuanya langsung fokus pada Maira yang masih terbaring menutup mata. Malam kian larut menyapa, hawa dinginpun terasa menusuk kulit.
Zahra dan Aisyah masih di rumah sakit dan belum pulang. Tak lama kemudian Arfan datang ke ruangan Maira sambil membawa buah buahan sebagai buah tangan. Tak lama setelah kedatangan Arfan, Arfan mengajak Aisyah untuk pulang. Tapi Aisyah bingung karena harus mengantarkan Zahra dulu.
" mas, kita antar Zahra ke kafe dulu ya " kata Aisyah
" iya sayang " jawab Arfan sambil mengelus kepala Aisyah yang ditutupi kerudung
" eh, gak usah. Biar aku pulang sendiri saja, lagian tujuan kita juga berbeda jalannya " tolak Zahra
" tidak apa apa, biar kita antar " kata Aisyah
" jangan Syah, biar aku pulang sendiri aja. Lagian aku sudah pesan taxi online kok " kilah Zahra sambil mengulas senyum
" beneran gak apa apa ? ini udah malam loh Ra " kata Aisyah
" iya, gak apa apa. Jangan khawatir " kata Zahra meyakinkan
" ya sudah kami duluan ya " pamit Arfan
Setelah Arfan dan Aisyah pulang, kini giliran Zahra yang pamit untuk pulang. Tapi langsung dicegah oleh Shandy.
" aku antar pulang, tujuan kita juga searah " kata Shandy
" terima kasih, tapi tidak perlu " kata Zahra
" tidak apa, biar sekalian saja. Lagi pula ini sudah malam, bahaya kalau perempuan naik taxi sendiri " kata Shandy
Shandy pun berpamitan pada Fardhan dan langsung pulang bersama Zahra. Tidak ada penolakan lagi dari Zahra karena ia juga sejujurnya takut kalau pulang sendiri, apalagi ini sudah malam. Zahra sering mendengar kasus pelecehan hingga pembunuhan di ibu kota ini, hingga membuat nyalinya untuk pulang sendiri menciut. Ditambah lagi Shandy yang tidak mau dibantah, jadilah sekarang ia pulang bersama Shandy.
Walaupun masih saling diam, tapi hal itu sudah cukup membuat lega untuk Zahra. Setidaknya ia ada teman walau Shandy hanya fokus pada kemudinya tanpa bicara sepatah kata pun.
Sedangkan Fardhan yang merasa lelah pun kini merebahkan dirinya di sofa, tapi setelah beberapa menit ia masih belum juga bisa tidur. Fardhan akhirnya duduk kembali di kursi dekat ranjang Maira sambil memegang tangan Maira.
" aku janji akan menemanimu melewati cobaan ini sayang. Aku yakin kamu pasti bisa melawan penyakit ini, kamu bisa, kamu kuat sayang ! Nanti setelah kondisimu membaik kita akan pergi ke Jerman, aku ingin kamu sembuh seperti sedia kala " kata Fardhan sambil sesekali mengecupi jemari Maira yang ia pegang.
Tak berapa lama kemudian Fardhan tidak sadar tertidur sambil memegangi tangan Maira dengan posisi duduk.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
jangan lupa tinggalin jejaknya kawan😁